Cermin Diri #74 Warung Kopi Gelar PHBI

0
209
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Secarik kertas undangan dilayangkan ke rumah. Dari Paguyuban Pecinta Kopi. Agar bersedia menjadi penerima tamu. Peringatan Hari Besar Islam. Akupun menyanggupinya. Sekedar penasaran.

Jujur aku pantang ke warung kopi. Karena ada imaji yang kurang sedap. Penuh asap rokok, debat kusir, minum tanpa bayar dan merasani. Membicarakan kejelekan atau kekurangan seseorang dilihat dari segi negatif. Bahkan kadang digunakan berbuat mesum. Lupa salat dan famili.

Sekira pukul 8 malam aku menuju lokasi. Di ladang tanah abang milik warga. Tepi jalan raya provinsi. Tepatnya desa berpenduduk muslim.

Prasangkaku salah. Petugas keamanan (hansip) dan panitia dengan ramah mengantarku ke panggung. Megah laiknya pagelaran orkes. Berdiri kokoh. Padahal tak ada pertunjukan seni. Murni ngaji bareng. Sumbangan dari dermawan lokal. Sahabat pecinta kopi. “Semoga bisnisnya tambah berkah” doaku.

Terus terdapat spanduk bertuliskan “Komunitas Cangkrukan Warung Kopi Bersatu Gelar Pengajian Akbar. Dalam rangka Tahun Baru Islam 1 Muharam 1441 dan HUT RI ke 74.” Pikiranku menerawang. Patut diberi sanjungan. Lalu muncul ide. Bagaimana memendekkan isi tulisan? Akhirnya terbersit menyingkatnya menjadi KACUNG KOBER NGAJAR. Disetujui orang di sampingku disertai senyum di kulum.

Kekagumanku menjalar. Selaku Master of Ceremony alias pembawa acaranya adalah mantan demonstran. Yang telah dikenal aparat keamanan. Namun ia lulusan Sarjana Hukum. Kini aktif ngopi. Tetapi bergegas ke masjid setiap salat jamaah. Beserta anak dan istrinya.

Tampil berikutnya qari. Orang (laki-laki) yang mahir dalam seni baca Alquran. Yang sering jadi juri MTQ. Alunannya menggetarkan kalbu. Hadirin mendengarkan dan terdiam. Berharap memperoleh rahmat. Biarpun tubuh pelantun kalam ilahi berbobot. Melar. Sudi datang dari kampung seberang.

Setelah itu prakata panitia yang berprofesi sebagai guru. Cuma senang ngopi di warung terdekat. Berbaur dengan pengusaha, petani, pedagang, peternak, buruh dan adapula pengangguran serta anak jalanan. Sehingga kadang dapat cibiran. Walau begitu tak menyurutkannya menyeru paguyuban untuk bernovasi kecil yang berdampak besar. Tindakan sederhana, tapi memberikan manfaat positif.

Sebaliknya tokoh masyarakat yang diamanati sambutan ialah yang menjabat kepala KUA. Kantor Urusan Agama. Sekaligus ketua organisasi Islam. Meski suka kopi tapi lebih menghargai buatan istri. Tak sempat ke warung. Keburu kerja kantoran. Bukan lantaran takut bini.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh ketua BPD. Badan Permusyawaratan Desa. Kesehariannya merangkap kepala madrasah swasta. Sekalian saudagar buah. Sebagian dihidangkan peserta pengajian.

Puncak acaranya ceramah agama. Mubalig asal pantura. Kurus badannya. Mengguntur atau melengking suara dan gesit gerakannya. Isinya mengena.

“Jangan menilai orang hanya bungkusnya. Buruk sangka pada pelanggan kopi. Sejatinya justru “warkop” efektif dijadikan lahan dakwah,” terangnya.

“Misalnya menyebar salam, musyawarah, mentraktir dan memberi pinjaman modal. Tidak merugikan pemilik. Tidak curang, mengejek dan menggosip,” lanjutnya.

Hebatnya Peringatan Hari Besar Islam itu dihadiri seluruh calon kades. Jumlahnya 5, terbanyak dari desa di sekitarnya. Siap sukseskan pilkades damai.

Pun Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Tanfidziyah NU duduk bersebelahan. Mesra. Melupakan khilafiah. Perbedaan pendapat di antara para ahli hukum Islam dalam menentukan hukum. Yang selama ini menggejala di arus bawah.

Doa penutup dipimpin sesepuh plus ulama setempat. Dilanjut menikmati santap malam. Di rumah ketua panitia. Seorang ahli pijit yang dibanjiri pelanggan dari pagi hingga petang.

Para tamu berseloroh. “Katanya Paguyuban Pecinta Kopi, kok suguhannya air mineral dan teh.” Tuan rumah kikuk. “Belum pandai menjamu,” balasnya.

Hikmah mendalam yang didapatkan bahwa membentuk komunitas atau paguyuban itu penting. Ibarat lidi kalau diikat menjadi sapu akan mampu membersihkan sampah yang berserakan. Lebih dari itu kebaikan yang kita idamkan terlaksana. Pendek kata, kopi memang mempersatukan.

Selanjutnya istilah cangkrukan, berdiam lama terlebih di warung kopi bagi sebagian kauman dianggap negatif. Kini terbantahkan. Malahan kerumunan tersebut melahirkan pengajian akbar berskala besar. Sanggup mewadahi semua lapisan. Patut diacungi jempol. Lanjutkan!

Paling akhir mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa. Sehingga lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan memperoleh kemenangan.

*Sekretaris PRM Takerharjo Solokuro Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here