Cermin Diri #75: Daya Rangsang Al-Quran

0
216
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin

Mulai Ahad pagi hingga Jumat petang adalah hari belajar mengajar. Menjalani kewajiban selaku profesi pendidik. Sedang Sabtu merupakan waktu senggang. Namun tetap berupaya memberi manfaat. Yakni mendampingi ujian baca tulis dan hafalan Alquran.

Alquran berfungsi sebagai petunjuk dan merupakan kalam Allah yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Makanya memiliki magnet atau daya rangsang.

Satu di antara lima sekolah menuturkan, “bahwa tiga tahun lalu memperoleh 7 siswa baru. Lantas digulirkan program baca tulis dan hafalan. Tahun kemarin langsung bertambah 13 siswanya. Sesudah wisuda juz 30, kini tambah lagi menjadi 27 peserta didik baru.”

Bahkan lewat hafalan Alquran, bertabur keutamaan. Hati tidak kosong. Memperoleh penghormatan. Membahagiakan orangtua. Menempati tingkatan tertinggi di surga. Memberi syafaat pada keluarga. Berhak menjadi imam salat bagi pria.

Tetapi masih patut dikembangkan. Lantaran dari seribu siswa muslim, hanya 92 yang mendaftar ujian. Itupun 14 absen. Jadi hadir 78. Malahan tujuh puluhnya wanita. Alasan yang tidak ikut beragam. Yaitu malas, bosan, sulit, banyak metode, takut salah, lupa, melibatkan panca indra, butuh guru, sempitnya waktu, sibuk dan serupanya.

Lalu bagaimana langkah efektif membumikan alias menggerakkan baca tulis dan hafalan? Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Kementerian Agama Republik Indonesia berpendapat:

Pertama, ikhlaskan niat karena Allah. Pasti dibantu dan dijauhkan dari rasa malas dan bosan. Jangan sekedar lulus ujian atau menang perlombaan.

Kedua, berdoalah tiap salat agar diberi kemudahan. Seperti “Ya Allah berikanlah taufik untuk bisa menghafal dan kekuatan terus membaca siang malam sesuai tuntunan-Mu.”

Ketiga, pilihlah metode yang sesuai. Misalnya menghafal per ayat 3-5 kali secara benar.

Keempat, setorkan hafalan pada orang lain. Sehingga kesalahan tidak terus terbawa bertahun-bertahun.

Kelima, perbanyak mendengar bacaan Alquran dengan serius dan teratur serta berulang-ulang. Media apa saja. Supaya tidak lupa. Kalau bisa jangan sambil melakukan pekerjaan lain.

Keenam, gunakan seluruh panca indra. Mata melihat. Mulut membaca. Lalu tulis di buku atau gawai.

Ketujuh, carilah guru yang ahli dan mapan. Sebagaimana Rasulullah menghafal dengan Jibril. Kemudian mengulanginya saat Ramadan sampai dua kali khatam.

Kedelapan, lakukan di waktu yang tepat. Umpama usai subuh hafalan. Terus diulang bakda duhur, asar, magrib, isya, dan tahajud.

Kesembilan, jaga hafalan dalam dada. Meski sibuk kerja maupun berkendara. Insyaallah terhindar dari mara bahaya.

Bilamana langkah tersebut sudah ditempuh, dan belum terangsang baca tulis apalagi hafalan Alquran berarti kesucian jiwa raga Anda bermasalah. Simak petuah Imam Syafii berikut, “Aku keluhkan pada Waki (guruku) akan buruknya atau sulitnya menghafal. Lalu ia menganjurkanku meninggalkan maksiat. Ia menyampaikan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak dihadiahkan kepada pelaku maksiat.”

Lamongan, 8 September 2019

*Guru SMP Muhammadiyah Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here