Cermin Diri #76: Olahraga Ala Buya

0
276
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Saban tanggal sembilan September diperingati HAORNAS. Hari Olahraga Nasional. Menggerakkan badan secara sistematis untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh.

Aku sangat mendukungnya. Manusia tidak akan merasa bahagia tanpa kesehatan. Juga tidak dapat melakukan tugas secara tuntas. Baik terhadap Allah, sesama maupun lingkungan. Oleh karena itu bagiku wajib mengamalkan jargon tiada hari tanpa berolahraga.

Minimal menbiasakan menunaikan salat dengan gerakan yang benar. Lantaran memiliki pengaruh terhadap relaksasi otot dan indraku.

Selain itu rutin mengucek cucian. Dibersihkan dengan air suci dan mensucikan. Sehingga terhindar dari najis. Lalu sisa air kusiramkan pada tumbuhan warung dan apotik hidup serta tanaman hias di pekarangan. Mewujudkan gerakan hijau bumiku lestari alamku. Pun merupakan sedekahku. Pada burung, manusia dan binatang ternak yang memakannya.

Selanjutnya bersepeda sejam sehari. Mengelilingi jalan kampung. Manfaatnya besar sekali. Di antaranya mengenang masa kecilku saat dibonceng bapakku sejauh tujuh kilometer. Silaturrahmi ke kerabat di sebelah makam Sunan Drajad. Lagipula melatih ketrampilanku. Sebab aku sering terjatuh. Bahkan menabrak hewan piaraan dan seorang perempuan. Untung dimaafkan.

Akupun teringat petuah Gus Ipul. Bersepeda meningkatkan konsentrasi. Kemudian terkesan tulisan Pramono Anung, bersepeda itu penuh filosofi. Kadang menanjak dan adakalanya menurun. Saat menanjak butuh tenaga ekstra. Sedang tatkala turun lebih gampang. Hal ini selaras bahwa untuk naik jabatan perlu perjuangan. Sementara turun pangkat agak mudah.

Lebih jauh aku terinspirasi sosok Buya Syafii. Sebagaimana dilansir koran Jawa Pos Kamis 22 Agustus 2019. Mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu bisa melakukan mobilitas secara mandiri. Naik turun tangga gedung Universitas swasta di Surabaya.

Meski usianya 84 tahun, masih kelihatan bugar. Jalannya tegap. Walau agak lambat. Sebagai berkah bersepeda sejam setiap pagi.

Di samping itu Ahmad Syafii Maarif terbiasa baca buku. Supaya mempertajam daya ingat. Sekaligus menjaga pikiran tetap tenang. Semua dibuat mengalir.

Paling akhir, yang kini kutekuni adalah rajin menulis. Menurutku menulis mengolahragakan tangan. Mengetik huruf demi huruf lewat telepon pintar. Biarpun menyandang keterbatasan fisik. Tapi tidak kujadikan beban atau penghalang berkarya dan produktif. Masih ada yang lebih buruk. Kuyakini dibalik keterbatasan, pasti ada kelebihan.

 

*Penulis dan pendidik serta PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here