Cermin Diri #78: Dakwah di Vila

0
159
Foto diambil dari travellingyuks

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Ketika fajar mulai menyingsing, aku ngaji surat An Nahl ayat 97. Ada dorongan kuat untuk menyalin di WA. Lalu kusimpan terjemahannya. Bunyinya:

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Esoknya aku dapat balasan yang menyenangkan. Diajak mendampingi LDKMS. Latihan Dasar Kepemimpinan dan Manajemen Siswa. Pada SMP Negeri 1 Karanggeneng Lamongan. Di sebuah vila Pacet Mojokerto.

Aku sependapat dengan tata tertib vilLa. Tempat peristirahatan yang digunakan hanya pada waktu liburan. Diantaranya wajib mematikan lampu, TV, kipas dan air setelah dipakai. Kemudian dilarang membawa miras, narkoba, dan pasangan yang bukan suami istri.

Aku pun dapat kehormatan. Bertugas sebagai imam salat jamaah. Subuh, duhur, asar, magrib dan isya. Tepat waktu. Barisan rapat dan lurus. Khusyuk. Penuh penyerahan dan kebulatan hati. Terus musala dan pakaian yang dikenakan makmum rapi dan bersih.

“Salat berarti doa. Doa adalah permintaan. Sebagai perumpamaan, bila ada peminta datang berpakaian compang- camping, yang diterima uang recehan. Sebaliknya jika pemohan berbaju indah sekali, pasti diberi duit bernilai lebih tinggi.” Terangku waktu kuliah maghrib.

Selain membangun jiwa penghuni, rumah mungil di luar kota atau di pegunungan itu juga menyediakan fasilitas kesegaran jasmani. Kebugaran badan. Berupa panjat tebing dan kolom renang. Sehingga seimbang jiwa raga.

Setelah itu disajikan hidangan halal dan lezat. Para peserta pun rela antre. Makan dan minum tidak berlebih-lebihan. Menggunakan tangan kanan. Diiringi doa bersama. Piring dan gelas dikembalikan ke dapur dalam keadaan bersih.

Namun ada sedikit tragedi. Tatkala sarapan pagi. Salah satu peserta lelaki tersandung. Nampan pecah, nasi dan teh tumpah. Panitia dengan sigap membersihkannya. Sementara ibu jasa boga alias katering dengan tulus mengganti lauk baru. Secara cuma-cuma.

Saat istirahat, aku rebahan di ranjang. Sambil nonton televisi OK-Jek. Salah satu pemeran wanita bernama Asna. Ia dengan sabar melayani penumpang ke tempat tujuan. Seorang ibu pedagang buah. Pas bayar tak punya susuk. Uang kelebihan pembayaran. Atau sisa uang pembayaran yang masih harus dikembalikan pada pembeli. Lantas diganti buah seharga ongkos ojek. Keduanya rida dan rela.

Selepas itu dapat penumpang kakek pikun. Ditanya mau kemana, lupa alamatnya. Terus si kakek memberikan KTP. Maka diantarlah sesuai alamat yang tertera. “Lho kenapa kembali ke rumah. Padahal saya mau ke rumah cucu,” protes kakek.

Berikutnya Asna disodori kartu nama. Diboncenglah kakek ke rumah anaknya. Hampir seharian baru ketemu. Tapi sial. Kata Satpam, orang tersebut sudah pindah sebulan lalu. Mereka lalu mampir di warung. Kebetulan kakek teringat nama anak beserta alamatnya. Secepatnya meluncur ke sana. Keluarga begitu mencemaskan keadaan kakek. Saking bahagianya, Asna dapat upah berlipat ganda.

Gadis itu tercenung. Bahwa berbuat baik tak harus dengan duit. Berlomba dalam kebajikan tak nunggu jadi majikan. Baik laki-laki maupun perempuan. Asal dalam keadaan beriman. Maka pasti akan diberikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan akan dibalas dengan pahala yang lebih baik. Dari apa yang telah dikerjakan.

Jadi vila sangat cocok untuk berdakwah. Menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Lebih dari itu tepat guna dalam melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Pungkasnya vila memberi pengajaran kepada kita. Bilamana kamu dapat mengambil pelajaran.

*Penulis buku Guru Yang Dirindu penerbit Istanbul 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here