Cermin Diri #79: Keder Transfer

0
152
Foto diambil dari finansialku.com

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Takut, gentar dan gemetar bagiku. Saat mengirim uang lewat bank. Karena beberapa kali mendapati pengalaman kurang menyenangkan. Pertama tertipu biro jasa nakal. Tiga puluhan juta raib. Hilang. Tak ada harapan dikembalikan.

Kedua kartu ATM tertelan. Pas malam tahun baru di bandara internasional. Ketika ada kabar tunjangan pendidik keluar. Agak gentar kumasukkan kartu ke mesin. Ternyata error. Seketika aku gemetar. Kutelpon operator. Ditanya panjang lebar. Tak semua mampu kujawab dengan benar. Perihal nomor ATM atau rekening. Yang lupa kubawa. Esoknya aku diminta mengurus lagi. Disertai materai dan pastilah antre.

Ketiga dipermalukan di Anjungan Tunai Mandiri. Berawal dari tagihan pembelian barang. Kucatat nomor rekening tujuan pada kertas undangan. Dengan keder kupencet tombol transfer. Gagal berulang-ulang. Seseorang mengatakan ada kode bank. Silakan tanya Satpam. Aku laksanakan. Kodenya 002. Lalu kucoba suai arahan. Belum berhasil. Terpaksa kupanggil Satpam lagi. Ternyata catatanku keliru. Sementara gawaiku tak ada di saku. Kemudian aku menuju ATM tarik tunai. Sukses. Ingin kutambah untuk nafkah keluarga. Tidak bisa. Aturan penarikan sehari sekali.

Hari berikutnya aku datang lagi. Transfer berhasil. Sementara tarik tunai hanya puluhan. Yang ratusan kehabisan.

Terlepas dari pengalaman pahit di atas, bank tetap diperlukan. Karena merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan. Bank jua menyalurkan kembali dalam bentuk kredit atau yang lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dulu saat aku terima gaji, dibayar tunai oleh bendahara. Eman ditabung. Maunya belanja dan foya-foya. Setelah ada peraturan gaji melalui bank, lumayan bisa menghemat kebutuhan tersier. Penarikan dilakukan, jika sangat membutuhkan.

Bank alias banca dalam bahasa Italia memiliki fungsi tempat menyimpan harta kekayaan (uang dan surat berharga) yang terbaik dan aman. Aku tergabung grup alumni madrasah. Kami berkomitmen melakukan perjalanan suci ke Mekah. Tiap bulan ada relawan datang ke rumah. Yakni mengumpulkan iuran dan tabungan. Tetapi semua relawan menolak ditugasi menyimpan dana haji itu. Sebab takut hilang, dihutang, dan disalahgunakan. Setelah musyawarah disepakati memakai jasa bank.

Lagipula bank bertujuan meringankan hubungan antara para pedagang dan pengusaha dengan memperlancar pemindahan uang (money transfer). Sudah kubuktikan tatkala bendahara sekolah butuh bantuanku. Pinjam uang untuk gaji guru dan karyawan tidak tetap. Langsung kutransfer sejumlah rupiah yang dimaui. Ia kegirangan dan berdoa rezekiku tambah berkah. Hubungan sosialku pun bertambah erat laiknya saudara.

Cuma dihimbau kepada seluruh warga agar bermuammalat sesuai prinsip syariah. Adil, jujur, bebas bunga, dan memiliki komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan umat. Bilamana menemui kesukaran dapat berpedoman kepada kaidah “suatu hal bilamana mengalami kesulitan diberi kelapangan” dan “kesukaran membawa kemudahan.”

Tambahan penting. Jangan ditiru pasangan suami istri Robert dan Tiffany William. Warga AS yang foya-foya pakai duit salah transfer. Sehingga menjalani proses hukum dan utang mereka menumpuk. Bagaimana ceritanya? Pada Mei 2019 di rekeningnya ada uang Rp. 1,6 milyar. Teller salah memasukkan nomor nasabah. Tapi pasutri itu tak ambil pusing. Dalam dua pekan, uang habis. Digunakan beli mobil dan barang lain. Juga dibagikan kepada beberapa teman yang membutuhkan. Berita itu nyata adanya. Bisa baca Jawa Pos Rabu 11 September 2019.

Singkat kata keder transfer bisa dicegah dengan meningkatkan ketelitian. Lalu baca petunjuk pemakaian. Terakhir mohon perlindungan kepada Tuhan dari berbagai kejahatan.

*Penulis buku Guru Yang Dirindu. Penerbit Istanbul 2019. Diluncurkan di Malaysia. Sekaligus pendidik di SMPN Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here