Cermin Diri #80: Pembelajaran Perempuan Pedesaan

0
187
Foto diambil dari TribunNews

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Senja di batas desa. Matahari tenggelam. Hari mulai malam. Perempuan jelita, Jelang Limapuluh Tahun mendatangi ustad. Memohon kesediaan mengisi pengajian emak mak rutin tiap akhir bulan. Pada sebuah tempat ibadah sederhana. Kira-kira ratusan langkah dari rumahnya.

Ditemani istrinya, guru agama tersebut memenuhi panggilan jihad. Diawali dengan jamaah magrib disertai para malaikat kecil yang menggemaskan. Berlarian dan gaduh. Segilintir orang berusaha mengusir. Akibatnya bocah trauma berjamaah.

Perempuan jelita yang tak lain adalah seorang ustazah memimpin acara. Dengan ucapan bismillah. Yaitu menyebut nama Allah yang biasa diucapkan jika akan mulai melakukan sesuatu. Lalu diikuti sambutan singkat Pimpinan Ranting Aisyiyah. Pensiunan Kementerian Agama.

Guru besar laki-laki itu mengamati peserta dengan melibatkan seluruh panca indera. Terus mengembangkan pertanyaan pada level berpikir tingkat tinggi.
“Berapa jumlah bulan menurut Allah dalam Alquran surat At-Taubah ayat 36?”

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan. Sebagaimana dalam ketetapan Allah sewaktu menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan yang dihormati. Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Maka janganlah kalian menzalimi dirimu dalam bulan itu. Misalnya membunuh dan berzina.” Jawab umi kompak.

Tuan guru mengutip logika agama. “Menurut ibu, mana yang lebih besar dosanya antara pembunuhan dan perzinaan?”

“Pembunuhan.” Jawab mereka.

“Jika begitu, mengapa Allah menuntut empat saksi untuk perzinaan dan hanya dua saksi untuk pembunuhan? Stop! Artinya larangan itu jangan diperdebatkan. Hukuman bagi pelaku, kalau di Indonesia adalah dipenjara. Tapi ingat, tak semua yang dibui merupakan penjahat. Contohnya Nabi Yusuf. Demikian halnya, perempuan melahirkan tanpa ayah lantas dicap berzina. Seperti Maryam.” Ungkap ustad mantul.

Lebih lanjut ustad menerangkan. “Di bulan mulia ini perbanyaklah puasa dan salat. Tetapi menurut hadirin, manakah yang lebih utama?”

“Salat.” Celetuk sebagian perkumpulan wanita itu.

Sang ustad memburu. “Tapi mengapa Allah tidak mewajibkan perempuan yang suci dari haid mengganti salat yang ditinggalkan. Justeru mengganti puasa di lain hari. Sekali lagi jangan diperbantahkan. Cukup dilaksanakan. Lantaran manusia adalah memang yang paling banyak membantah.”

Kegiatan pembelajaran terhenti. Azan isya berkumandang. Namun seorang nenek yang pernah mendidik mas ustad 45 tahun silam, mengajukan pertanyaan. “Bolehkah perempuan ikut salat jumatan?”

“Salat jumat wajib bagi setiap pria muslim yang berdomisili tetap dan bebas dari aneka halangan yang dibenarkan agama. Seperti sakit atau merawat orang sakit parah. Demikian halnya bila cuaca buruk. Termasuk takut keselamatan diri dan khawatir hartanya hilang.” Papar ustad merujuk pendapat M Quraish Shihab.

Ustad pun berdalih, mengacu bukunya Syakir Jamaluddin. “Ada empat golongan yang tak wajib jumatan. Hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit. Namun tak ada larangan mereka jumatan. Supaya mendapatkan pahala. Terpenting tempat memadai. Terhindar dari bahaya. Diizini suami. Tidak pakai parfum yang menggoda.”

“Tapi yang pokok bagi empat golongan tadi adalah mengerjakan salat duhur di rumah. Namun bila memilih ikut jumatan maka tak perlu mengerjakan salat duhur. Muhammadiyah menyebutnya wajib mukhayar, memilih salah satunya. Mana yang terbaik. Sesuai dengan situasi masyarakat setempat.” tandas ustad.

Karena sudah iqamah salat isya, pembelajaran ditutup. Mereka sangat suka. Semoga mendapat pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.

وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro dan SMP Negeri 1 Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here