Cermin Diri #84: Literasi Digital

0
89
Foto diambil dari Kompasiana.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Literasi samadengan melek huruf. Kampanye pemberantasan buta huruf harus terus berkobar. Misalnya pelatihan menulis, gerakan menghafal dan lomba mengarang serta minimal baca kitab. Sebagaimana perintah surat Al-Isra’, ayat 14: “Bacalah kitabmu…”

Bahan bacaan bisa berupa buku, majalah maupun koran. Media cetak tersebut hampir ada di setiap rumah, perkantoran, dan BUMN. Ditata dengan apik di berbagai sudut. Namun belum menarik minat pembaca. Sebatas memenuhi standar penilaian akreditasi. Kategori tertib administrasi.

Ya benar. Jam delapan pagi hari aku ke puskesmas induk, minta surat keterangan dokter. Ada pojok baca lumayan mewah. Di ruang tunggu full AC. Kami pun cuma mengaguminya. Enggan menjamah. Lebih asyik nonton youtube pada televisi layar datar.

Setelah itu jam sembilan ke polres, perpanjangan SIM. Pengunjung cukup ramai. Pelayanan prima diterapkan. Serba mesin. Dilengkapi tulisan silakan membaca pada rak mungil. Adapula kulkas dan teko. Cerek untuk tempat air minum. Terletak di samping wadah gula berisi teh dan kopi panas yang masih mengepul. Gratis lagi. Sudah pasti diserbu. Tidak malu meski berebut. Sementara ambil buku di sampingnya, tangan terasa kaku. Untung aku masih sempat mengabadikan rak buku di ponsel.

Sekitar jam duabelas aku salat di masjid. Kitab-kitab suci berjejer rapi. Boleh dibaca tanpa sewa. Tak seorang pun berani menyentuh. Apalagi keadaan toko majalah di serambi, makin sepi dari pembeli. Sebagaian jamaah lebih suka belanja makanan.

Tepat jam satu aku ke sekolah. Aku terharu. Koran terkini bisa dinikmati tanpa ikut bayar langganan. Tetapi tak banyak warga sekolah yang memanfaatkan. Rata-rata sibuk chat dan game. Walau berbayar.

Sesampai di rumah sekira jam empat, aku menjumpai onggokan koran di kamar. Otakku pun berputar. Apa yang harus aku perbuat sehingga media tersebut tak sekedar dijadikan alas sebagai pengganti tikar? Atau malah di bakar sehingga memperparah pencemaran udara.

Lantas terbersit ide. Cocoknya dikliping. Digunting info penting. Ditempel di kertas F4. Lalu diklip. Yaitu menjepit lembaran kertas menjadi satu, dibuat dari kawat atau plastik. Makanya sangat enak dibaca.

Bermula dari sinilah aku dapat berita. Sebuah universitas bersama SKK Migas gelar kompetisi literasi digital. Lomba karya tulis ilmiah yang dipresentasikan bentuk infografis dan vidiografis. Untuk menumbuhkan minat literasi dan kemampuan menulis disertai media kreatif. Kompetisi ini, setiap karya dinilai dewan juri dan peserta lainnya. Menekankan aspek penilaian tema dan isi, serta presentasi atau penyajian.

Patut diapresiasi. Nah. Kemudian jawablah pertanyaan berikut. Adakah kesulitan menjadi pegiat literasi? Jika tidak ada, terus sejauhmana anda mengembangkan literasi digital? Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.

*Guru SMPN Karanggeneng dan MAM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here