Cermin Diri #85: Murid Nyentrik

0
232
Foto diambil dari Fimela.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Muhadisu adalah inisial dari peserta didik tingkat delapan yang nyentrik. Ia pun dijuluki Modis. Berpakaian batik sesuai dengan seragam yang paling baru. Pilihan warna serasi. Umumnya para siswa bertopi. Tapi Ia lebih suka berpeci hitam. Yaitu penutup kepala terbuat dari kain, berbentuk meruncing kedua ujungnya. Adapula yang menyebutnya kopiah atau songkok. Lazimnya dikenakan pejabat atau legeslatif pria dan pertanda kaum Islam dari sudut zahir.

Anehnya berdasarkan buku daftar nilai, tercatat empat kali Ia tidak ikut ulangan harian. Juga tak mengumpulkan tugas kinerja dan portofolio. Saat ujian tengah semester pun tertidur. Lembar jawabannya belum ada yang benar. Maka berbicaralah pak guru kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan Ia sadar atau takut. Ia pun terbangun. Lantas diinterogasi. Hebatnya Ia secara sopan mengatakan musababnya. Yakni tadi malam usai pesta bakar 65 ekor ikan mujaer.

Beberapa menit kemudian dikunjungi ibu dan kakak perempuan. Mereka khawatir Muhadisu bolos. Sekaligus sebagai bukti kasih sayangnya. Seolah tergugah kata-kata bijak M Quraish Shihab. “Jika anda kelak ingin diperlakukan dengan hormat dan kasih sayang oleh anak anda maka perlakukanlah ibu bapak anda dengan kasih sayang. Dari lubuk hati yang paling dalam dan tulus. Bukan karena keinginan dipuji oleh yang melihatnya atau karena takut diolok bila mengabaikannya.”

Berikutnya diadakan remidi. Muhadisu mangkir. Perilakunya jadi buah bibir. Pihak keluarga ketar ketir. Sementara pihak sekolah agak merasa getir. Keputusan akhir, ia terpaksa harus mutasi keluar. Semoga kepindahannya mampu memuliakan dan mengembangkan kelebihannya secara paripurna.

Sekelumit kasus di atas merupakan pengajaran berharga bagi orang yang berakal. Di dunia ini tidak ada anak bodoh maupun nakal. Setiap manusia diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk. Masing-masing memiliki sisi kemuliaan dan kehebatan tersendiri. Sebagaimana isi surat Al-Isra’ ayat 70. “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”

Makanya pendidik dan orang tua harus mampu memahami anak secara keseluruhan. Bukan zamannya membandingkan anak satu dengan lainnya. Pola asuh yang baik mengedepankan kolaborasi, bukan kompetisi. Kecerdasan bukan hanya kognitif. Masih banyak kecerdasan lain yang bisa diasah. Jadi kurang manusiawi anak dipaksa unggul akademik semata.

Namun menurut fasilitator Sekolah Ramah Anak, Bekti Prastyani, upaya mengubah pola pikir orangtua atau pendidik itu tidak mudah. Seringkali mereka masih kurang memperhatikan nilai non akademik. Kurang maksimal jua dalam mengawasi anak selama pakai smartphone. Pendidikan seks usia dini pun dianggap tabu, sehingga anak kurang waspada terhadap alat kelaminnya.

Meskipun anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Demikian pesan surat Al-Kahfi, ayat 46.

*Guru SMPN Karanggeneng dan MAM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here