Cermin Diri #87: Pria Tunadaksa Menikahi Wanita Salihah

0
340
Ilustrasi diambil dari wehearit.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Batita menjadi tunadaksa karena terkena bara. Sejak itu ia terasing dari lingkungannya baik di lembaga pendidikan maupun pergaulan.

Dia merasa tidak ada seorangpun yang menyayangi dan mempedulikan. Hingga hadirlah gadis dalam hidupnya di usianya yang keduapuluh sembilan.

Perempuan yang mengutamakan agamanya itu sangat perhatian. Ia tidak pernah mempermasalahkan cacat fisik sebagai kekurangan. Ia pun berkata, “Jadikan aku sebagai istrimu melalui pernikahan sesuai syariat Islam“.

Remaja tampan itu tersenyum senang sekali dan bahagia menerima permintaan itu. Setelah kedua keluarga besar memberikan restu, secepatnya dilangsungkan akad pernikahan pukul tujuh. Persiapannya sekitar dua minggu. Disaksikan sanak kerabat, sahabat dan para guru serta penghulu. Mereka tidak menerima sumbangan uang, beras dan baju. Makanya sebagian tamu menggerutu.

Setelah itu tak ada bulan madu. Menghibur istri, bersantai dan senda gurau. Laiknya para pengantin baru. Mengingat biaya, kesempatan dan waktu. Akibatnya si istri yang keturunan ningrat mengeluh.

Sang suami pun jarang berbicara dan memanggil dengan panggilan yang menyenangkan seperti adik, sayang, atau humairah (yang memiliki pipi kemerah-merahan). Oleh sebabnya sang istri sering geregetan dan menangis sesenggukan.

Tolong menolong dalam pekerjaan rumah tangga hanya kadang-kadang. Untungnya istri yang masih dari keluarga dekatnya sangat terampil dan cekatan. Gemar menjaga kebersihan dan pintar mengolah masakan. Tapi kalau kelelahan suaminya jadi sasaran kemarahan.

Musyawarah dengan istri hampir tak dilakoni bila ada permasalahan. Ia lebih betah menyimpan rahasia problema yang menjeratnya dan mengatasi sendirian. Tanpa melibatkan banyak orang.

Minta doa bila bepergian tak dibiasakan. “Sluman slumun slamet” adalah watak bawaan dan prinsip yang diterapkan. Wajar muslimah yang penyayang ini kelabakan dan dihantui kecemasan.

Tentang nafkah yang diberikan pas-pasan. Istrinya yang cerdas turut membantu mencari penghasilan. Agar terpenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan. Termasuk membangkitkan libido puber kedua yang tak menggairahkan. Namun menurutnya, keintiman dan kemesraan, tidaklah selalu harus diperlihatkan dengan melakukan hubungan badan. Terpenting ialah kasih sayang yang tulus, memberi dan menerima karunia Tuhan.

Memuliakan kedua belah pihak keluarga besan belum memuaskan. Saling curiga, hasud dan kurang pengertian. Sesekali muncul perselisihan.

Bekerjasama dalam taat kepada Allah adakalanya dilalaikan. Lebih mengandalkan kesalehan pribadi ketimbang pasangan. Juga lantaran kesibukan dan kemalasan.

Pada ulang tahun pernikahan tanggal 21 Oktober, mereka bertekad evaluasi diri. Memberikan nasehat dan pengajaran. Secara santun, sabar dan siap memaafkan. Menenggelamkan egoisme. Tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain.

Sepenggal cara itu diyakini mampu membahagiakannya sebagai suami istri. Sehingga lebih intim, intens dan romantis. Sejurus dengan pesan Eidelweis Almira berikut ini : “Cinta adalah kesatuan sumber kebahagiaan hidup manusia. Ketika kita bisa memenuhinya dengan sungguh-sungguh tanpa mencela kekurangan pasangan, maka akan kuatlah hubungan cinta tanpa pernah merasakan hati yang patah karenanya“.

*Tinggal di Takerharjo Solokuro, guru SMPN Karanggeneng Lamongan, alumni UIN dan UMM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here