Cermin Diri #88: Santri Kalong

0
270
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

 

Oleh: Mushlihin*

Alkisah pertengahan tahun 1986 seorang saleh beribadah mendalami agama Islam dengan sungguh-sungguh, ikut pesantren malam. Penduduk setempat menyebutnya “santri kalong“. Karena kalong adalah kelelawar besar yang makan buah-buahan pada waktu malam. Sementara pada siang hari tidur di rumah.

Setiap petang Ia berjalan kaki setengah kilometer menyusuri bebatuan dan kerikil tajam. Lantaran jalanan belum diaspal maupun dilakukan pengecoran. Alias makadam. Yaitu pengerasan jalan dengan cara memberi dua macam lapisan batu-batuan, kasar dan halus. Sedangkan jika hujan pasti licin. Tak bisa dilalui kendaraan, saking buruknya. Anehnya pihak berwenang kurang perhatian.

Selain itu suasana gelap gulita menjadi langganan. Perusahaan Listrik Negara belum dipasang. Masyarakat masih menggunakan damar atau pelita. Hanya orang kaya dan tempat ibadah yang mampu menyalakan petromaks. Lampu yang menggunakan kaus sebagai sumbu, dinyalakan dengan bantuan nyala spirtus. Bahan bakarnya berupa minyak tanah disemburkan ke sumbu kaus oleh udara yang dipompakan menggunakan tangan. Tapi harus hati-hati. Ikuti petunjuk pemakaian. Sebab pernah salah santri terbakar pada tubuh bagian belakang.

Walhasil wali santri mengusulkan agar secepatnya membeli diesel cadangan. Pihak pengurus pun melaksanakan usulan. Saban hari, santri ditugasi menyalakan dan mematikan secara bergiliran. Karena sembrono ada yang kesetrum sampai pingsan. Solusinya dicarilah relawan dan pekerja harian.

Berikutnya genset itu dialirkan ke rumah warga. Kontan banyak yang membeli media elektronik seperti tv dan vcd. Santri yang haus hiburan tergoda menonton ke tetangga. Pemilik lambat laun terganggu kenyamanannya bercengkerama dengan keluarga.

Nah dalam rangka mengatasi keluhan warga dan guna meningkatkan wawasan para santri, maka disediakan televisi 26 inc di asrama. Permasalahan programnya banyak yang menyalahi norma. Semisal pelacuran, pornografi dan pornoaksi. Mencemari otak santri.

Resiko lain, santri sering begadang. Otomatis haus dahaga butuh camilan. Berhubung tak ada penjual jajan tengah malam, dengan terpaksa mengambil tanaman jagung kiai untuk dibakar. Habis kira-kira seluas seperempat hektare.

Setelah itu perutnya mulas dan ingin buang air besar. Toilet yang tersedia kurang lebar. Berak sembarangan pun melebar. Muncullah ide membuat wc di atas tambak staf pengajar. Tinja langsung dilahap oleh ratusan ikan yang sudah lapar.

Tiba saatnya istirahat. Yang terbaik adalah tidur. Tanpa bantal dan dipan. Mata sulit dipejamkan sampai larut malam. Meski ia coba tidur di tengah teman-teman. Apalagi suara dengkuran bersahutan memecah keheningan. Lagi pula menurut cerita lokasi pesantren ini cukup seram. Terbukti ada saudara pengasuh yang hilang. Dibawa ke alam jin, berdasarkan dugaan.

Tak berselang lama azan awal sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Para santri tak menghiraukan. Malah menarik selimut berupa sarung kebanggaan. Layaknya iklan yang mengatakan “dipakai resmi bisa, santai pun bisa”. Maklum itu merupakan sarung satu-satunya.

Kemudian kiai datang dan membangunkan santri penuh kasih sayang. Pakai sorban. Namun tak diindahkan. Beliau ambil air dan diguyurkan ke seluruh badan. Seketika itu mereka berlarian tunggang-langgang. Terus berwudu dan salat malam serta jamaah subuh.

Selanjutnya santri mempelajari kitab kuning metode klasikal. Diantaranya tafsir al maraghy tiap Sabtu, subulus salam tiap Ahad, riyadhus shalihin tiap Senin, alfiyah tiap Selasa, imriti tiap Rabu, dan bulughul maram tiap Kamis. Tak ada orangtua yang lapor polisi atas hukuman yang diterapkan.

Sekitar jam lima kajian baru usai. Semua santri pulang ke rumah guna mandi dan sarapan pagi. Terus berangkat ke sekolah lagi sampai jam satu siang hari.

Tanpa terasa sudah enam tahun menekuni pesantren malam. Ilmunya sangat membantu memasuki Perguruan Tinggi yang diidamkan. Akhirnya lulus dengan predikat sangat memuaskan. Dapat pekerjaan mapan. Hidup berkecukupan diliputi kebahagiaan.

Kini Ia diperbantukan pada pesantren modern yang baru didirikan. Fasilitas representatif. Free wifi. Pelayanan prima. Makan minum gratis. Sumber belajar bertebaran. Pengasuhnya profesional. Tetapi tantangannya tak ringan. Misalnya harus berburu santri kesana kemari. Kadang yang daftar semangat belajarnya rendah. Akhlaknya masih tercela. Kenakalan mencuat. Dituntaskan satu, esok muncul pelaku yang baru.

Meskipun begitu, Ia tak pernah putus asa. Memasyarakatkan perlunya mondok. Sebagaimana firman Allah “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya (Surat At-Taubah, ayat 122).”

Usahanya tidak sia-sia. Santri kian bertambah. Dukungan mulai mengalir. Standar kompetensi lulusan mengagumkan. Mereka mencintai agama dan negara.

*Alumni Pondok Pesantren al Basyir Takerharjo Solokuro Lamongan 1986-1992.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here