Cermin Diri #91: Masuk Koran

0
255
Foto diambil dari maniakmenulis.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

17 Oktober jam 10.18, jurnalis chat: “Assalamualaikum pak, saya Rika dari Jawa Pos Radar Lamongan. Saya kagungan nomor handphone panjenengan dari penulis Takerharjo Solokuro yang tempuh S3 di Malaysia.”

“Waalaikum salam, ya benar. Dia murid bapak saat MTs,” jawabku sukacita.

Lanjut Rika Radar, “Pak, jika berkenan saya ingin profil mengenai kebiasaan menulis panjenengan.”

“Tunggu ya,” tukasku berdebar.

Rika Radar, “Inggih Pak. Nanti pertanyaannya saya tuliskan saja.”

“Dengan senang hati, terlebih mau mampir ke rumah,” imbuhku.

Rika Radar, “Dalem e pundi Pak?”

“Takerharjo Rt 1 Rw 4 Solokuro. Sebelah PAUD Percontohan Aisyiyah. Tapi sekarang masih ngajar di SMPN Karanggeneng,” balasku.

Rika Radar, “Hehe… saya juga masih pelantikan. Kalau saya chat saja boleh nggih?”

“Monggo.” tuturku

Lalu Rika bertanya:
1. Pak, infonya suka menulis?
2. Sudah berapa buku yang berhasil diterbitkan?
3. Sejak kapan mulai menulis?
4. Tulisan pertama yang berhasil dibukukan terkait apa?
5. Siapa nama lengkap dan alamat asli?
6. Boleh minta fotonya bersama karyanya?
7. Selama ini, genre tulisan lebih ke apa?
8. Kiblat tulisan/penulis yang menginspirasi mungkin ada?
9. Bagaimana pendapat tentang literasi sekarang?
10. Mungkin ada keinginan dengan rajin menulis?

“Aduh pertanyaan yang sulit. Boleh buka buku, kan? Dan beri waktu ya…,”candaku meniru question taq. Bertanya untuk menegaskan.

Rika Radar, Inggih Pak.”

“Jawaban pertanyaan kesatu, Bapak suka menulis termotivasi perintah Alquran tentang baca tulis dalam surat Al Alaq dan Al Qalam. Yang rutin bapak baca bakda salat. Bila menggetarkan hati langsung kusimpan.

Jawaban soal kedua, Sudah tiga buku yang berhasil diterbitkan. Satu buku mandiri, berjudul Guru yang Dirindu. Penerbit Istanbul Aqwam Solo. Cetakan 1, Januari 2019. Diberi testimoni Bupati Lamongan. Dibedah di Malaysia oleh Assoc Prof Dr Sonny Zulhuda. PCIM Malaysia. Lalu dua buku Antologi. Yakni Menulis Mengabadikan Pesan (September 2018) dan Kartini Masa Kini (Juli 2019).

Jawaban ketiga, Bapak suka menulis aktif tiap hari sejak Ramadan 1440 H. Tepatnya Juli 2018.

Jawaban keempat, Tulisan pertama yang berhasil dibukukan terkait kumpulan cita, pengalaman dan kecintaan pada guru. Sesuai yang bapak baca, rasa, dengar dan lihat. Meliputi kompetensi pedagogi, profesional, kepribadian dan sosial.

Jawaban kelima, Nama lengkap Mushlihin. Alamat asli Desa Takerharjo RT 1 RW 4 Solokuro Lamongan.

Jawaban keenam, Boleh minta foto dan karyanya. Foto 1 bedah buku di Malaysia. Foto 2 bercengkerama dengan keluarga. Foto 3 peluncuran buku oleh PWM Jatim.

Jawaban ketujuh, Selama ini genre tulisan lebih ke arah best practise, kisah dan kalimat yang baik. Sebab pada kisah terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Sebaliknya kalimat yang buruk tak bisa tetap tegak sedikit pun. Bahkan menyesatkan dan mengakibatkan perang.

Jawaban kedelapan, kiblat tulisan atau penulis yang menginspirasi adalah Dahlan Iskan, Hanum Rais dan Quraish Shihab.

Jawaban kesembilan, Bagaimana pendapat tentang literasi sekarang? Ketepatan bapak ditunjuk sebagai koordinator literasi sekolah. Literasi samadengan melek huruf. Kampanye pemberantasan buta huruf harus terus berkobar. Misalnya pelatihan menulis, gerakan menghafal dan lomba mengarang serta minimal baca kitab. Sebagaimana perintah surat Al-Isra’, ayat 14: “Bacalah kitabmu…” Bahan bacaan bisa berupa buku, majalah maupun koran. Masalahnya media cetak tersebut hampir ada di setiap rumah, perkantoran, dan BUMN. Ditata dengan apik di berbagai sudut. Namun belum menarik minat pembaca. Sebatas memenuhi standar penilaian akreditasi. Kategori tertib administrasi. Jadi perlu dibumikan literasi digital. Seperti lomba karya tulis ilmiah yang dipresentasikan bentuk intografis dan vidiografis.
Jawaban kesepuluh, ada keinginan dengan rajin menulis yaitu menyeru manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Karena barangsiapa yang mengerjakan kebajikan pasti diberikan kehidupan yang baik. Juga diberi balasan yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan.” uraianku

Rika Radar, “Terimakasih Pak.”

[19/10 09.05] Aku dag dig dug. Berhasrat chat. “Assalamualaikum, bagaimana ceritanya?” pintaku pada pewawancara.

Rika Radar, “Waalaikumsalam. Sampun saya wawancara, tapi belum dipublikasikan pak. InsyaAllah minggu depan, karena balasnya malam. Jadi belum bisa cetak langsung sesuai jadwal saya.”

“Maaf kemarin agak sibuk,” alasanku.

Rika Radar: “Inggih ngapunten pak.”

Berikutnya [24/10 08.15] Rika Radar chat lagi: “Assalamualaikum, pak proses penulisan buku pertama itu butuh berapa.lama? Dan mungkin ada rencana mau nulis buku lagi. Tentang apa kalau boleh tau?”

“Murid Nyentrik,” ucapku optimis.

Rika Radar: “Siap, saya coba tulis. Nanti kalau tayang saya kabari panjenengan.”

“Alhamdulillah,” pujiku pada Tuhan

Rika Radar: “Sebelumnya saya mau tanya, belum pernah diwawancara Radar nggih? Atau media lain sebelum saya?”

“Belum,” kataku polos.

Rika Radar: ‘Saya boleh minta foto yang memegang buku karya panjenengan pak!”

Seketika aku berpakaian rapi dan bersongkok. Adikku kupanggil agar ambil gambar aku yang sedang duduk di teras rumahku. Lalu kukurim sekaligus foto bareng Assoc Profesor.

Rika bingung, “pak Assoc niku nopo nggih?

“Associate Professor maknanya (kalau di Indonesia) Profesor Madya. Setingkat di bawah Profesor, di atas Assistant Professor.” kutipku pada ahlinya.

Rika Radar: “Siap!”

[25/10 07.55] ceritaku dipublikasikan dengan topik “Merasa Terlambat dalam Menulis.” Slamet dkk segera kirim foto profilku di koran seraya berucap: “Selamat dan tetap semangat menginspirasi ustadz.”

“Subhanallah walhamdulillah, terima kasih doa dan kerja kerasnya semuanya,” komentarku sambil menyeka airmata bahagia.

Meski berita gembira itu mah kalah heboh dibanding kabar burung saat masa tenang pilkades 15 September 2019. Dimana loper koran sampai masuk desa.

Jadi masuk koran adalah keniscayaan. Bisa karena keteladanan. Prestasi yang membanggakan. Contoh ikut karya tulis. Itulah harapan setiap insan. Tapi waspadalah. Bisapula karena keteledoran. Kadang tak sedikit untuk pencemaran demi ambisi kekuasaan dan kekayaan. Naudzubillahi min dzalik.

*Guru MAM 8 Takerharjo dan SMPN Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here