Cermin Diri #93: Membangun Desa Agraris Menjadi Wisata

0
239
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Ahad 3 November 2019 Pemerintah Desa Takerharjo studi banding ke desa wisata Boonpring Sananwetan Turen Malang. Potensi yang dimilikinya adalah sumber air, embung, dan bambu. Masyarakatnya juga punya motto untuk mencapai cita-cita luhur tak peduli dengan rintangan. Bahkan berapapun gaji karyawannya, dipotong 2,5% untuk infaq.

Alasan itulah yang membuat Perangkat, BPD, LPM, RT, dan tokoh masyarakat serta pemuda harus rela bangun pagi. Lalu mandi, salat subuh dan menunggu sekian lama di rumah biro travel. Karena bis nongol jam 5. Padahal semestinya berangkat jam 4.
Keterlambatan itu adalah wajar bagi sebagian besar warga. Tapi pada dasarnya tetap merugi. Contohnya muncul permasalahan saling menyalahkan. Untung bisa dilerai oleh Pejabat, calon dan mantan kepala desa.

Kemudian seluruh penumpang menempati kursi yang diinginkan. Selepas itu berdoa. “Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Dzat yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada Rabb kami.”

Selanjutnya awak bis menyampaikan beberapa keistimewaan armadanya. Misalnya tersedia karaoke. Lagu apa pun. Ketegangan selama pilkades turut mencair. Dulu lawan sekarang kawan. Malah duduk bersebelahan. Sekaligus mendendangkan ciptaan Frangky Sahilatua yang berjudul kemesraan.

Kendaraan dua kali berhenti. Isi bensin, mendinginkan mesin, dan menurunkan penumpang kebelet kencing.

Sesudah itu bis melaju. Menaiki bukit dan menikung di jalan sempit. Kelihaian sopir mengemudi, akhirnya tiba di lokasi dengan lancar. Yaitu Desa wisata yang mempunyai area hutan bambu seluas 36,8 ha.

Rombongan disambut jabat tangan. Disuguhi minum, jajanan, dan sekotak makan siang. Rasanya nikmat sebab perut keroncongan. Apalagi sang direktur Bumdes sudi berbagi informasi. Bahwa menurut folklor, yakni cerita dari mulut ke mulut, keberadaan desa Sanankerto merupakan area hutan angker dan tertinggal sebelum beralih fungsi tempat wisata.

Namun berhubung tempatnya sejuk dan alami. Selain itu penduduknya tenang dan mau berpikir positif serta melayani sepenuh hati. Maka tempat ini banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri.

Disamping faktor promosi dan perbaikan fasilitas. Misalnya tiket murah, kolam renang, ekowisata, edukasi sayur, omah asap, pemandu lokal, perahu, aneka ikan, kerajinan. Pun tersedia paket outbound. Welcome drink, fun game, flying fox dan dokumentasi. Adapula paket camping. Tenda dome, matras, sleeping bag, api unggun, lampu, edukasi bambu, jelajah, character building dan keamanan. Lebih dari itu ada paket menginap. Homestay, musala, pembelajaran dan oleh-oleh khas desa.

Berikutnya para pelancong berpindah ke wisata religi. Masjid Tiban. Perpaduan tempat ibadah, pusat belanja, akuarium, taman, restoran dan pondok pesantren salafiyah. Unik. Dananya swadaya. Tanpa meminta. Pembangunan melibatkan santri. Tak pelak menyedot ribuan jamaah memakmurkannya. Dari penjuru nusantara. Saban harinya.

Usai jamak taqdim magrib isyak, peserta studi banding hengkang. Jual beli atau cuma observasi pasar rakyat tradisional terbesar di Lawang. Bermacam belanjaan terpajang. Tergantung keuangan. Mulai kebutuhan primer, sekunder sampai tersier.

Destinasi wisata di atas, sebenarnya sangat potensial dikembangkan di desa berpenduduk terbesar dan terluas kedua kecamatan Solokuro ini. Tanah airnya bagaikan surga. Ada beberapa tempat ibadah megah. Pasarnya ramai tiada tara dibanding desa sekitarnya.

Asalkan penduduk peduli lingkungan. Siap mengentaskan kemiskinan. Atau berusaha meningkatkan pendapatan. Terlebih sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa. So pasti Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi umpama mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka pasti disiksa sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Visi misi menjadi desa wisata pun tinggal angan-angan. Sebagaimana surat Al-A’raf ayat 96.

*Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Takerharjo dan guru SMPN Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here