Cermin Diri #95: Mempersalahkan Hujan

0
136
Foto diambil dari Posciety.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Nenek hendak silaturrahmi. Mendung tebal menggelayuti. Ia jadi khawatir dengan dua cucunya yang pergi mengaji. Yakni Azza dan Dani. Lalu berpesan kepada cucu lain yang bernama Baihaki. Agar menjemputnya nanti. Si cucu menolak karena main gawai. Nenek berganti menyuruh anaknya yang biasa dipanggil Azroh. Ia tidak berani membantah ibu yang sangat disayangi. Namun badannya lemas, lesu dan letih. Sehingga minta bantuan suami.

Tiba-tiba Azza datang. Sementara Dani belum kelihatan. Lantas Azza dianjurkan mencari ke sekolahan. Baru mau balik badan, Dani muncul dan bermuka masam. Tangisnya pecah tak terperihkan. Mereka saling mempersalahkan. Cucu menyalahkan nenek. Nenek menyalahkan anak. Anak menyalahkan kakak. Kakak menyalahkan adik.

Lain daripada itu nun jauh di sana, ibu tani menengadah ke langit menggunakan kedua tangan. Sawah tadah hujan yang dimiliki kering kerontang. Tak bisa ditanami padi sebagai makanan pokok beberapa bulan. Padahal merupakan satu-satunya sumber penghidupan. Doa untuk minta hujan dibaca berulang-ulang. Pagi, siang, sore, petang, dan malam. “Ya Allah! Berilah kami hujan yang membantu (memberi manfaat), menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman. Yang bermanfaat dan tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.”

Sama halnya dengan ibu rumah tangga yang tinggal di perumahan. Ia kerepotan mendapatkan air untuk masak dan bikin minuman. Pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum tersendat berkepanjangan. Kadang mengalir tapi tengah malam. Lantaran debit air semakin berkurang. Ia harus bangun dan begadang. Sambil tahajud berdoa kepada Tuhan. “Ya Allah! turunkan hujan pada kami. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah! turunkan hujan pada kami.”

Demikian pula dengan peternak kambing, sapi dan bebek serta ayam. Dia akan mengalami kebangkrutan. Bila binatang piaraan mati kehausan dan kelaparan. Karena mata air sungai tak mengalir hampir sebulan. Salah satu andalannya yaitu berdoa penuh harapan. “Ya Allah! turunkan hujan kepada para hamba-Mu, binatang-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan suburkan tanah-Mu yang tandus.”

Doa mereka terkabul, mujarab atau mustajab. Hujan pun turun deras dan memberi manfaat. Sawah kering dan tanah tandus menjadi subur. Mandi, cuci, masak bisa teratur. Hewan ternak gemuk dan bernilai jual tinggi. Seraya tak lupa mereka berdoa lagi apabila hujan turun seperti berikut ini. “Ya Allah! Jadikan hujan yang bermanfaat.” Bacaan lain setelah hujan turun yang dibiasakan oleh sebagian orang adalah “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

Di kala mencapai keberhasilan dan keberkahan atau panen raya, badai topan menerpa. Serumpun padi yang tumbuh di sawah nan hijau dan menguning daunnya rebah. Tiang listrik roboh terkena pohon tumbang yang rapuh akarnya. Pompa air macet dan airnya keruh berwarna merah. Kandang ternak atapnya berterbangan dan isinya berhamburan ke mana-mana. Diterpa angin kencang puting beliung seketika.

Meski demikian, mereka tetap beriman. Menjalankan perintah Tuhan. Doa merupakan kunci ibadah. Jadi apabila ada angin ribut ialah membaca “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya.”
Di sisi lain ada yang bermunajat “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan tujuan angin ini dihembuskan. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada di dalamnya dan keburukan tujuan angin ini dihembuskan.”

Lebih dari itu di saat memanen dan mengevakuasi pohon atau ternak serta memperbaiki listrik yang padam, kilat dan petir menyambar serta bersinar terang. Mencari korban di tengah lapangan. Tubuhnya gosong dan nyawa pun melayang. Kata karyawan PLN, ada dua jenis petir. Pertama petir yang bisa dijinakkan atau dialihkan ke bumi. Kedua petir liar yang susah ditaklukkan.

Hanya kepada Allah mereka menyembah dan mohon pertolongan. Doa ketika ada halilintar yang mesti dibaca setidaknya adalah “Maha Suci Dzat, yang mana halilintar bertasbih dengan memujiNya, sementara para malaikat takut kepada-Nya.”

Sebaliknya adapula yang berdoa agar hujan berhenti. “Ya Allah! Turunkan hujan di sekitar kami, dan jangan timpakan hujan di atas kami. Ya, Allah! Turunkanlah hujan di daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan tanah subur tempat tumbuhnya pepohonan.”
Utamanya bagi orang yang bepergian, penyelenggara pesta, penjemur pakaian, hasil panen, dan usai menyemprot hama dipastikan berharap cuaca panas sungguhan. Sebab jemuran yang tidak kering baunya kecut sekaligus mengeras. Jagung yang lembab bisa bertunas. Pesta dan perjalanan dilakukan bergegas dan agak malas.

Begitulah nasib hujan. Selalu disalahkan. Lama tak turun sangat dinanti. Ketika turun disuruh berhenti. Pusing deh! mana yang harus dituruti. Tapi bagi mukmin sejati, tak akan berkeluh kesah semacam ini. Semua pasti ada hikmahya bila kita mau mensyukuri. Sebaliknya akan terasa menyengsarakan bila selalu mengabaikan nikmat ilahi.

Bukankah Allah sudah berfirman dalam surat Al-Furqan, ayat 50? “Dan sungguh, Allah telah mempergilirkan (hujan) itu di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran; tetapi kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat).

 

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here