Cermin Diri #96: Stop Usir Anak di Masjid

0
223
Foto diambil dari Islami.co

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Masih segar dalam ingatan, pas jamaah asar bocah naik mimbar. Terus memukul podium sekeras-kerasnya pakai gagang mikrofon. Sambil keluar masjid, seorang pria dewasa berkomentar. Pedas di telinga. Bocah ini trauma.

Di lain waktu, ada pengajian organisasi wanita. Seorang nenek bertanya. Bagaimana hukum anak yang rame di masjid? Karena ia tak tahan dirasani tetangga. Atas perilaku cucunya yang berlarian saat jemaah magrib dan isya.

Paling mutakhir. Ketua, sekretaris, bendahara dan anggota takmir masjid jami berkumpul bakda jumatan. Mereka membuka kotak amal jariyah. Di dalamnya terdapat secarik kertas. Surat kaleng. Tanpa nama pengirim. Ditujukan kepada para dai dan mubalig. Intinya agar beliau mengingatkan orang tua yang sembahyang sambil membawa anak atau cucu. Supaya tidak ramai. Apalagi menggedor pintu dan tabir kaca. Sehingga menimbulkan kebisingan. Akibatnya konsentrasi beribadah terganggu.

Kejadian tersebut mengajarkan bahwa kotak amal tak melulu berisi uang. Kadang ditemukan sepatah kata kritik, saran dan aduan serta pencemaran. Bila yang membaca bijaksana, tidak mengapa. Sebaliknya jika yang membuka tidak mampu menjaga rahasia, pasti berujung malapetaka.

Di samping itu menjadi tantangan dalam rangka mencari pemecahan masalah. Nah, atas kehendak Allah ada postingan bagus di media sosial. HILANGNYA MALAIKAT MASJID.

Menurut pendapatnya, pengusiran anak-anak di mesjid menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Mata-mata tajam dan kata-kata kasar kadang keluar dari penjaga masjid. Jika anak-anak berlari riang penuh tawa. Padahal itulah ciri khas anak-anak. Tetapi kalau yang berlari dan tertawa itu orangtua baru layak di usir.

Mereka sebenarnya “malaikat” yang sedang bergembira di rumah Robb-Nya. Bahkan Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami salat para sahabat. Rasulullah sujud begitu lama. Hingga ada sahabat yang bertanya. “Mengapa lama sekali sujudmu ya Rasulullah?”

Rasul menjawab “Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku. Aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh. Maka ku biarkan mereka puas bermain”.

Dalam riawayat yang lain Rasulullah mempercepat salatnya. Karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yang sedang ikut berjama’ah bersama Rasulullah. Itulah mesjid Nabi yang tak sepi dari anak-anak kecil. Masjid yang ramah anak. Bukan anti dengan anak-anak kecil.

Muhammad Al fatih pernah berkata0: “Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid. Waspadalah. Saat itu kalian dalam bahaya.

Sudah terbukti anak remaja lebih senang nongkrong di warung, jembatan, dan tempat hiburan free wifi. Mampir masjid cuma numpang buang air. Karena kalau di toilet umum harus bayar.

Maka dari itu marilah kita berupaya memakmurkan mesjid tanpa saling curiga. Seakan-akan milik kakek moyang sendiri. Lagipula ayo utamakan kenyamanan para jamaah. Buat mereka betah. Buka 24 jam. Sehingga kapanpun warga mau tobat, pelariannya ke rumah Allah. Bukan ke tempat maksiat. Selain itu sediakan makan minum dan tempat istirahat serta parkir gratis. Siapa tahu bikin hati orang bergantung ke tempat ibadah ini. Masalah biaya? Gunakan amal jariyah! Agar si dermawan terus mengalir pahalanya.

*Takmir masjid jami’ Al Jihad Takerharjo Solokuro Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here