Cermin Diri#104: Makanan Haram, Doa Tertahan

0
411
Foto diambil dari Dream

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin

Istri salehah menghidangkan sarapan. Suami menolak dengan sopan. Karena buru-buru ikut Jumat religi di sekolahan. Biasanya pula disajikan aneka jajanan. Tapi kali ini beda, tak ada makanan.

Baru sekitar jam sebelas disediakan nasi bungkus dan segelas minuman. Suami bimbang, jika dimakan sekarang sungkan. Lalu nasi itu dibawa pulang. Sampai di rumah ditawarkan pada putranya yang sedang main sendirian. Ia menolak dengan alasan masih kenyang.

Daripada mubazir atau terbuang, suami berpikir mending segera dimakan. Apalagi perut sudah keroncongan. Namun lauk ayam tetap disisakan. Barangkali ada anggota keluarganya berkenan.

Setelah itu suami mandi dan jumatan. Terus bergegas mengikuti rapat bulanan. Sambil mendengarkan pembinaan atasan, diliriknya buku pendidikan agama Islam. Di halaman belakang ada kisah “sebutir kurma penghambat doa” yang memikat perhatian.

Sepintas isinya kurang lebih demikian. Selepas haji, Sufi membeli oleh-oleh kurma pada seorang pedagang tua. Sufi pun mencicipi sebutir kurma yang terjatuh tanpa seizin pemiliknya. Lantas berziarah ke masjid Aqsa. Sufi salat dan berdoa dengan khusuk sampai mendengar dua malaikat merasaninya. Bahwa doanya tertolak lantaran makan sebutir kurma empat bulan lalu tanpa sepengetahuan pedagangnya. Sufi terhenyak dan berkemas ke Mekah. Berharap pedagang itu menghalalkannya. Ternyata pak tua sudah meninggal dunia. Kini digantikan anak yang pertama. Dia tak mempersoalkan kurma yang dimakan olehnya. Namun tidak menjamin kesebelas ahli waris lainnya. Maka sufi menemui satu persatu hingga mau mengihlaskannya. Sufi kembali ke masjid Aqsa. Sufi semakin zuhud dan wara. Malaikat pun membicarakannya, bahwa doanya kini dikabulkan Allah.

Sejak itu suami sangat berhati-hati mengkonsumsi makanan ke dalam tubuhnya. Biarpun menggoda selera tak akan disantapnya. Kecuali dipersilakan empunya. Makanya ketika ada sisa nasi bungkus, suami enggan memungutnya. Bahkan jajanan di depan mata tak sudi menelan, sebelum direstui pemiliknya.

Selanjutnya suami mulai evaluasi diri. Jangan-jangan permohonan yang tak kunjung dikabulkan akhir-akhir ini, gara-gara kerakusannya memboyong berkat kenduri. Pun kadang-kadang hanya senang mencicipi, tapi ogah membeli. Amit-amit jabang bayi. Oleh sebab itu hati-hati terhadap makanan yang masuk tubuh ini. Sudah halal dan tayibkah wahai saudara-saudari?

*Guru MAM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here