Cermin Diri#109: Jalin Persahabatan Tanpa Pertengkaran

0
194
Foto diambil dari wawasanpenabur

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin

Utusan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Godog berhasrat menjalin pertandingan persahabatan dengan MAM Takerharjo. Setelah musyawarah diperoleh kata sepakat. Diselenggarakan waktu libur umum atau di luar jam pembelajaran. Temanya yaitu jalin persahabatan, temukan makna kebersamaan. Lantas panitia menyebarkan kabar pada siswa, pembina, dan kepala sekolah beserta jajarannya.

Sementara yang tidak ada di rumah terpaksa diundang lewat surat elektronik. Isinya seperti berikut: “Assalamu’alaikum. Pak ngapunten nggih kulo wau teng griyane njenengan nganter undangan. Nang mboten enten. Griyane tutupan jadi kulo kirim lewat pdf mawon nggih pak.”

Memo juga diberikan oleh kepala madrasah. “Njenengan mbenjeng yang membuka acara nggih pak. Hari Jumat pagi tanggal 7 besok, jenengan hadir nggih? Niki pembina ekstra gak ada yang bisa ikut. Ketepatan saya agak terlambat karena meriang.”

“Insyaalah, tapi maksimal jam 8 kudu dimulai. Sebab jam 9 ngajar di SMPN Karanggeneng.” Balasku. Memang di kampungku, kedua madrasah liburnya Jumat. Bukan hari Ahad.

Tidak lama kemudian tamu datang. Pria, wanita, remaja dan dewasa serta orangtua. Aku tercenung. Meski mereka berpakaian seragam, tidak ada satu pun yang serupa. Baik raga maupun jiwanya. Kendaraan yang dipakai juga berbeda. Truk, motor, sepeda dan jalan kaki. Lagi-lagi aku tersadar. Allah melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang dia kehendaki.

Acara pembukaan dimulai. Pembacaan Alquran. Menyanyikan lagu. Lalu kata sambutan. Panitia, ketua organisasi, pembina dan kepala madrasah. Di antara intinya yaitu pentingnya jalin persahabatan. Pertandingan bukan semata mencari kemenangan, tapi lebih menekankan sportifitas. Ajakan saling berbagi. Saling menyempurnakan dan menutupi cacat atau aib. Lagipula perlu kerjasama dalam kebaikan dan taqwa. Jangan kerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Tercermin ketika adu otot tarik tambang diikuti dengan riang. Demikian halnya saat olah pikir seperti debat, adu gagasan dan catur berlangsung teratur. Giliran mendirikan jumatan, semua kegiatan dihentikan. Bersegera memenuhi panggilan-Nya. Memperbanyak zikir. Karena mereka tahu itulah yang mesti diperbuat.

Selepas itu tuan rumah menghidangkan makan siang. Berupa nasi bungkus dan 5 tusuk sate serta segelas minuman. Para tamu merasa puas. Haus dahaga telah sirna dan kesegaran pulih kembali. Apalagi diiringi pentas seni. Kolaborasi bakat yang selama ini terpendam. Sungguh kegiatan persahabatan yang mempersatukan.

Sebagai puncak acara ialah pertandingan bola voli putra dan putri. Kejar mengejar angka terjadi. Penonton bersorak-sorai. Wasit berusaha adil dan dituntut teliti. Namun ada oknum yang emosi. Perang mulut tak bisa dihindari. Para pendekar beladiri melerai. Dibantu sesepuh yang turut mengawasi siswa siswi.

Berikut acara ditutup oleh kiai. Pesannya bahwa kita bersaudara. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Tidak perlu ada pertengkaran. Sehingga banyak lawan dan sedikit kawan. Perlu diketahui tak ada kawan dan lawan abadi. Lagipula tak ada teman yang luput dari aib. Alfudhoil bin Iyad berkata: “Siapa yang mencari teman tanpa aib niscaya dia akan sendiri tanpa teman.”

Lebih lanjut beliau menandaskan, “Allah mengumpulkan kita, dan kepada-Nyalah kita kembali.” Maka berdamailah. Jabat erat tangan sahabatmu dan saling minta maaf sepenuh hati. Aku berebes mili.

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here