Cermin Diri#112: Ulama dan Umara Andal

0
442
Foto diambil dari Hidayatullah.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushihin*

Kamis pukul tujuh umara bertamu ke rumah ulama. Umara merupakan kata Arab yang berarti pemimpin pemerintahan. Sedangkan ulama adalah orang yang ahli dalam agama Islam yang memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah. Dalam Alquran ditemukan dalam surat Fatir (35):28, Asy-Syuara (26): 196-197.

Umara tersebut menyodorkan undangan penting. Yaitu supaya ulama hadir jam 08.00 di pendopo kecamatan. Keperluannya menerima hibah dengan membuat rekening bank. Sekaligus membawa persyaratan, yaitu fotocopi Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) 2 lembar.

Ulama segera berangkat. Berharap acara tepat waktu. Sehingga selepas itu bisa membimbing umat yang menuntut ilmu. Tetapi lokasi masih sepi. Akibatnya banyak yang merugi. Kegiatan penting lainnya terbengkalai. Alquran jauh hari telah menasihati. Yakni wal asri. Innal insana lafi husr. Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian. Bila mengulur-ulur waktu.

Ulama tidak mau menyalahkan sana-sini. Sebab tidak akan merubah apapun. Beliau gunakan membaca. Hingga umara selaku sekretaris kecamatan memberikan pernyataan permohonan maaf atas keterlambatan umara pegawai bank. Alasannya saking banyaknya nasabah yang butuh pelayanan.

Sekitar seratus undangan memaklumi. Untuk mengusir kejenuhan mereka berdiskusi. Temanya tentang hama yang merepotkan petani. Mereka menyadari musibah apapun yang menimpanya adalah disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri. Merujuk surat Asy- Syura ayat 30. Jadi bukan Allah yang menzalimi, tapi merekalah yang menzalimi sendiri.

Seperti maraknya orang terlibat suap, korupsi, gratifikasi, pornografi, dusta dan mencuri, serta dosa besar lainnya. Seringkali saat umara ingin menduduki kursi jabatan adakalanya membeli suara, termasuk pada ulama. Begitu oknum umara terpilih, ulama dikebiri atau dibatasi mengamalkan kitab suci.

Perbincangan tadi terhenti manakala umara petugas bank Jatim nan rupawan datang. Lalu dia memberi pengarahan. Bahwa pemerintah daerah ingin menyalurkan sedikit tunjangan untuk mensejahterakan ulama. Atas perannya membangun jiwa raga Indonesia Raya.

Selepas itu umara mempersilakan hadirin bertanya. Selanjutnya memanggil para ulama satu persatu. Mereka cukup patuh dan tidak gaduh. Ketika isi formulir dan membubuhkan tanda tangan. Walau ada di antaranya yang beda dengan spicemen pada KTP. Bahkan tidak bisa berjalan alias sambil mengesot.

Berkat rahmat Allah, umara berparas jelita berlaku lemah lembut sambil bersimpuh. Sekiranya bersikap dan berhati kasar, tentu umara kualat atau mungkin ulama menjauhkan diri tak sudi kerja sama dengan bank.

Para ulama turut senang. Apalagi dapat pesangon 250.000 rupiah setiap orang. Mereka sangat bersyukur pada Allah yang telah melapangkan rezekinya dari arah yang tiada disangka-sangka. Sebab tidak pernah meminta imbalan sedikitpun dari dakwahnya.

Lantas ulama berjanji, menyeru pada siapa saja untuk meninggalkan perbuatan maksiat. Terus agar mengubahnya dengan perbuatan baik. Niscaya Allah akan memberinya tiga sifat terpuji. Pertama, diberi kekayaan tanpa usaha yang keras. Kedua, diberi bantuan walau tak tampak siapa yang memberinya. Ketiga, diberi kemuliaan walau tak seorang pun yang memuliakannya.

Hikmah dari kejadian tersebut, bahwa kerja sama ulama dan umara mutlak diperlukan dalam pembangunan bangsa. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan 24 jam. Mereka baik hatinya, maka Allah memperbaiki jasmaninya. Mereka memperbaiki hubungan dengan Allah, maka hubungannya kepada manusia akan baik pula. Walhasil wajib bagi kita mentaati mereka.

*Guru MAM 8 Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here