Cermin Diri#121: Bumil dan Fidiah

0
343
Foto diambil dari lagizi

KLIKMU.CO-

Oleh: Mushlihin*

“Mas, bagaimana ketentuan bayar fidiah?” tanya sepupuku lewat smartphone.

Lalu kukirimi meme tentangnya. Ia bilang oke mas. Tapi tidak dibaca perlahan. Sehingga belum paham.

Ia pun berkesimpulan. “Berarti bayarnya di sampean.”

“Berikan makanan pada orang miskin setiap harinya!” tukasku sambil mengernyitkan dahi.

Karena belum puas, bapak dari satu anak itu mencariku. Ia menuturkan bahwa istrinya hendak mengganti puasa tahun lalu yang ditinggalkan. Karena sedang mengandung dan kini menyusui. Dengan cara membayar fidiah. Cuma ia tidak tahu ketentuannya.

Oleh karena itu wajib bagiku memahamkannya. Kubuka referensi. Ibnu Abbas berkata kepada jariyahnya yang hamil. “Engkau termasuk orang yang keberatan berpuasa. Maka engkau hanya wajib berfidiah. Dan tidak usah mengganti puasa.”(HR. Daruquthni).

Juga diriwayatkan Abu Dawud bahwa :
اثبت للحبلي والمرضع ان يفطرا ويطعما كل يوم مسكينا
Artinya: Ditetapkan bagi orang yang mengandung dan menyusui untuk berbuka (tidak puasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepada orang miskin setiap harinya.

Dari dua hadis di atas diketahui bahwa ibu hamil, melahirkan, dan menyusui boleh tidak berpuasa. Karena mengandung itu berat dan makin berat. Apalagi sampai membahayakan keselamatan ibu, janin, dan atau bayinya.

Tetapi wajib bagi ibu hamil membayar fidyah (fidiah). Alias denda. Berupa makanan pokok, misalnya beras setiap hari 0,5 liter. Istilah arabnya 1 mud = 6 ons.

Bila tidak punya beras, bisa dengan uang. Sesuai harga makanan satu porsi yang bisa engkau konsumsi. Sekira 15.000 rupiah. Boleh juga langsung dibelikan sebungkus nasi siap santap. Lengkap dengan lauk pauk, buah dan minum.

Makanan tersebut diberikan selama Ramadan maupun sesudahnya. Ditujukan pada seorang miskin selama 30 hari berturut-turut. Pun disilakan diberikan kepada 30 orang miskin dalam sehari sekaligus. Ingat! Jangan sampai salah sasaran.

Umpama tak punya beras maupun uang, namun kuat berpuasa, itu lebih baik bagimu. Kalau kamu ketahui. Mengada atau diganti setelah Ramadan tak masalah.

Bahkan andai berat puasa, beras menipis, uang tak punya, maka bebas dari kewajiban. Justru harus disantuni. Bukankah, Tuhan Allah menghendaki keringanan padamu dan tidak menghendaki kesukaran padamu.

*Pimpinan Ranting Muhammadiyah Takerharjo Solokuro lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here