Cermin Diri#123: Muslimah Pulang ke Rahmatullah

0
340
Foto diambil dari dunia.tempo

KLIKMU.C0-

Oleh: Mushlihin*

Tengah malam tanggal 5 Ramadan, ibu mertua membangunkanku. Ada tamu perempuan memanggilku. Kekhawatiran menghantui kami. Kuintip lewat kelambu. Lalu kubuka pintu. Ternyata ia adalah adikku.

Sambil terisak dia mengabariku. Bibi Muslimah sedang kritis. Segera kukayuh sepeda. Setiba di rumahnya kulihat mobil sehat. Hendak merujuk ke rumah sakit terdekat.

Tapi nenek berfirasat. Bibimu hampir sampai kepada ajalnya. Maka sebaiknya dihadapkan kiblat. Terus ditalqin atau dituntun baca la-ila-ha-illallah.

Setelah itu, bibi Muslimah nyawanya dicabut malaikat. Beberapa sanak famili menutup mata dan mendoakannya. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un.” Sebagaimana surat Al-Baqarah, ayat 156:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Berikutnya bibi ditutupi dengan kain yang bercorak baik. Hatiku tercekat. Allah mencintainya sehingga diambil di bulan penuh rahmat. Mati berada dalam Islam.

Segera dilunasi hutang, dirawat, dan kusebarkan berita duka. Kepada kerabat, teman dan kaum muslimin. Lewat media sosial dan corong masjid.

Banyak pelayat kaget. Sebab ketika asar masih ke masjid. Tak lupa amal jariah. Ia juga buka bersama suami, 2 anak dan 2 cucunya. Bahkan tarawih didirikan dengan tumakninah. Walau di rumah, lantaran sakit perutya tetiba kambuh.

Pelayat wanita membantu memandikan tiga kali dengan air. Pada kali terakhir disertai kapur barus. Pun rambutnya dijalin 3 pintal. Lalu dikeringkan pakai handuk. Cela atau cacat ditutupi sehingga tidak terlihat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memandikan mayat, lalu merahasiakan cacat tubuhnya, maka Allah memberi ampun baginya 40 kali.”(HR. Hakim).

Sesudah itu dikafani (bungkus). Kain basahan, baju kurung dan kerudung serta kain warna putih nan mewangi. Karena itulah sebagus-bagus pakaian. Kecuali kalau tidak punya, ya seadanya walau loreng. Justeru kalau berlebihan dilarang. Sesungguhnya ia akan segera rusak.

Tindakan selanjutnya disalatkan di masjid Al Jihad Takerharjo. Diikuti ratusan orang Islam. Diriwiyatkan Ahmad, orang Islam yang mati lalu disalatkan oleh 40 orang yang tidak musyrik, tentulah Allah mengabulkan doa mereka untuknya.

Modin kiai Said memilihku jadi imam. Didirikan sesudah salat fajar dan sebelum salat subuh. Pelaksanaan salat jenazah yaitu dengan niat, membaca takbir, fatihah, salawat, takbir, doa, takbir, doa dan terakhir salam. Sedang yang memberi tausiyah adalah Kiai Haji Muhammad Tsabit. Pimpinan Muhammadiyah Daerah Lamongan.

Bagian akhir dari seluruh proses perawatan jenazah ialah pemakaman. Kami percepat jenazahnya. Sebab kalau baik berarti telah menyegerakan kepada yang baik. Sebaliknya bila tidak demikian maka akan dilepaskan dari bahu kami.

Ratusan pria mengiringi jenazah dengan berjalan di sekeliling sambil berdiam diri. Sesungguhnya Allah menyukai ketenangan. Juga tidak duduk hingga jenazah diletakkan. Di lubang yang baik. Dikelompokkan dengan kakek dan nenek. Dari arah kaki dan membaca bismillahi wa ‘ala millati rasulillah.

Proses penguburan selesai. Kami memintakan ampunan dan ketetapan hati jenazah. Karena dia sedang ditanya. “Ya Allah ampunilah bibi Muslimah. Junjunglah derajatnya setinggi derajat orang salihah. Lapangkan dan berilah penerangan dalam kuburnya serta karuniai gantinya sepeninggalnya.”

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here