Cermin Diri#125: Bingung Panen Jagung

0
210
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Menanam dan memanen jagung tak seriang dalam kidung. Musim tanam harus menunggu hujan turun. Lalu antre beli bibit yang harganya melambung.

Jagung bertunas. Tikus mengerat dengan ganas. Petani tradisional was-was. Lantas dibasmi pakai racun, diburu dan disetrum. Justru tuannya yang tewas.

Petani mileneal tak putus asa. Ditanami lagi ladangnya. Dipasrahkan pada yang kuasa. Sekalian memohon terhindar dari bala, wabah, dan ghala’. Jagung tumbuh dengan izin-Nya.

Saatnya memberi pupuk, baik organik maupun buatan pabrik. Pasokan tersendat. Pembeli pun berebut. Bagi yang tak beruang, terpaksa pinjam pedagang. Nanti kalau panen akan dikembalikan. Perjanjian yang saling menguntungkan.

Giliran panen, tenaga kerja langka. Preman alias buruh dari luar daerah dilarang masuk oleh pemerintah desa. Dalam rangka memutus rantai korona. Penyakit menular yang penyebarannya sangat cepat.

Pemilik sawah mengupah siapa saja yang bersedia. Seminggu sebelum kering keringatnya. Pas hari H, tak nampak batang hidungnya. Kecewa tidak menyelesaikan masalah. Ya, semoga menjadi amal jariyah.

Niatnya yang tulus, dibalas dengan bagus. Relawan datang dari arah yang tiada disangka dan tak mau diberi fulus. Terus jagung diangkut. Pakai mobil bak terbuka. Tapi kendaraan tak melaju dengan mulus. Terjerembab dalam jalan berlumpur yang masih halus. Sopir mengendus. Bongkar muat kembali. Maka dipanggil beberapa buruh tanam ladang tetangga. Untuk mengangkat body mobil ke tempat agak kering. Supaya tidak terjebak kedua kali.

Sesampai di rumah, jagung hendak digiling. Dipisahkan antara kulit, butir dan janggel (bonggol, tongkol). Lagi-lagi nunggu lama. Karena harus menyewa sambil mengiba di rumah pemiliknya. Lantaran jumlah mesin penggiling sangat minim. Sementara hasil panen melimpah. Pemerintah harus membantu mengatasinya.

Sesudah itu jagung dikeringkan. Mengandalkan panas matahari. Kalau hujan, pasti merepotkan. Kadang ditumpuk di sepanjang jalan. Ditutupi terpal. Dampaknya diomeli pengguna jalan yang merasa sebal.

Namun warga bebal. Jagung lama kelamaan kering dan siap dijual. Tengkulak berseliweran. Membawa truck dan kuli angkut. Harganya lebih rendah dari harga pasar. Petani bersabar.

Uang yang diterima disyukuri. Pertama untuk melunasi hutang pupuk dan obat. Kedua membeli bibit unggul. Persiapan masa tanam berikutnya. Ketiga baru memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Sehingga wajahnya berseri -seri, tertawa dan gembira ria.

Sebaliknya yang tidak bersyukur alias kufur, wajahnya suram. Tertutup oleh kegelapan. Ditimpa kehinaan dan kesusahan. Alhasil panen jagung kok malah bingung. Peribahasa bilang “pipit menelan jagung.” Artinya mendapat kesusahan karena tak qonaah. Maunya hendak menyamai orang kaya tapi gagal mendera. Makanya mereka kapok.

Padahal jagung merupakan bahan makanan pokok. Tanaman yang termasuk keluarga Gramineae, batangnya pejal setinggi 2 m, berdaun pita lebar, umur sekitar 3 bulan, buahnya dapat dimakan. Ditambah iwak peyek tambah mantap.

Jadi, ayo kawan kita bersama. Menanam jagung di kebun. Ambil pangkur dan cangkul. Bekerja tiada jemu. Kayak lagu tempo dulu.

Paling akhir, usul pada pejabat berwenang. Penuhi bibit, pupuk, mesin penggiling dan pengering jagung, stabilkan harga, perlancar transportasi serta sejahterakan petani. Jangan cuma menyanjung saat untung. Sedang kalau rugi enggan menanggung.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here