Cermin Diri#133: Cabut Uban

0
253
Foto diambil dari Ngaji Kitab Kuning

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Empat saudara perempuan kami pulang kampung. Singgah di rumah kami. Karena ada emak. Kami saling bermaaf-maafan, makan bersama dan bercengkerama. Sambil petan atau mencabut uban.

Anak semata wayang kami lewat. Lalu dipanggil oleh ibu. “Nak, tolong cabut uban ibu!

“Insyaallah siap. Tapi kasih uang jajan ya bu.” Pinta si anak memelas.

“Baiklah, seribu rupiah per uban.” Kata ibu memberi semangat.

Kemudian dicabut uban itu hati-hati. Baru dapat lima, si anak berhenti. Ibu bertanya. “Apa sudah bersih ubannya?”

Anak menjawab tanpa beban. “Belum bu, sebab ananda cuma butuh uang lima ribu.”

Kami tak bisa menahan tawa atas keisengan tersebut. Pun berpikir keras mencari daftar pustaka tentang cabut uban.

Dr. Nadiah Thayyarah, menyebutkan bahwa munculnya uban sebagai pertanda dekatnya ajal. Merujuk QS Ar-Rum: 54.”Allah menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.”

Lalu, sebagian besar ahli meyakini uban adalah penyakit kulit yang bersumber dari saraf emosi, yang memengaruhi kurangnya suplai darah yang mengandung gizi ke rambut. Bahkan uban akan bercahaya saat kiamat. Maka jangan dicabut, jika tak ingin berjalan dalam gelap.
Wallahu a’lam.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here