Cermin Diri#142: Mengutangi

0
269
Foto diambil dari Aliexpress

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sesungguhnya ada jenazah yang dibawa ke hadapan Nabi SAW.
Lalu para sahabat berkata: “Ya Rasulullah kami mohon jenazah ini disalatkan!”
Tanya Nabi: “Adakah harta pusaka yang ditinggalkan?”
Jawab sahabat: “Tidak.”
Lalu Nabi tanya lagi: “Apakah ia punya hutang?”
Jawab sahabat: “Punya, ada tiga dinar.”
Kemudian Nabi bersabda: “Salatkanlah temanmu itu!”
Lantas Abu Qotadah berkata: “Ya Rasulullah, salatkanlah ia dan saya yang menjamin hutangnya!”
Kemudian Nabi mensalatkannya.

Hadis riwayat Bukhari di atas mengandung pesan bahwa berutang diperbolehkan. Meski begitu jangan gampang gali lubang tutup lubang. Pinjam uang bayar utang. Lantaran kadang malam tak nyenyak tidur dan siang takut ketemu orang yang mengutangi.

Maka penghutang hendaklah mengembalikan pinjamannya. Sesegera mungkin bila sudah jatuh tempo. Namun jika belum mampu, katakan yang sebenarnya pada yang mengutangi.

Selain itu berdoalah mohon perlindungan dari lilitan hutang. Salah seorang ulama salaf mengatakan, “Orang yang terlilit hutang akan berpikir tidak rasional dan nekat.” Tega merampok dan membunuh. Lebih dari itu Nabi tak berkenan menyalatkan jenazah yang berutang.

Adapun bagi orang yang mengutangi akan mendapat pahala dari Allah. Terlebih bersedia membebaskan tagihannya.

Demikian pula dengan penjamin yang ikhlas membayar lunas hutang saudaranya, merupakan amal kemanusiaan. Hikmahnya terbentuk sikap tolong menolong dan persaudaraan. Sehingga munculnya rasa aman, lega dan tenang.

Namun mengutangkan, membebaskan tagihan, apalagi menjamin utang seseorang jarang terjadi. Sebaliknya yang marak yaitu rebutan warisan.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here