Cermin Diri#143: Ingin Jadi Mayit

0
342
Foto diambil dari IDN Times

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sewaktu di madrasah, saya ikut lomba puisi. Judulnya Aku. Buah karya Khairil Anwar. Kata yang paling membekas yaitu aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Kerapkali saya juga menyaksikan, setiap ada ultah, dipastikan berucap selamat dan semoga panjang umur serta bahagia. Silakan saja. Terpenting dengan bertambah usia, bertambah pula kebaikannya. Jangan malah jelek perangainya. Akibatnya menjadi beban keluarga, bahkan meresahkan warga.

Pada hari ini saya membaca buku pintar mengurus jenazah. Penulisnya Sa’ad Yusuf. Penerbitnya Aqwam Solo, cetakan keempat, Syawal 1435.

Diceritakan bahwa Auf bin Malik salat mayit bersama Rasulullah. Lalu Auf menghafal doa beliau yang dibaca pada rakaat ketiga.

Bunyi terjemahannya, “Ya Allah ampuni, rahmati, selamatkan, maafkan kesalahan, muliakan, dan luaskan kuburnya. Cucilah dengan air, es dan embun. Bersihkan dirinya dari segala kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Berikan kepadanya kediaman yang lebih baik dari kediamannya. Karuniai keluarga yang lebih baik dari keluarganya. Anugerahi jodoh yang lebih baik dari jodohnya. Masukkan jua ke dalam surga dan pelihara dari siksa kubur.

Berikutnya Auf bin Malik berkata, “Kalau begitu aku ingin menjadi mayit tersebut.”

Berdasarkan sabda Rasulullah, berharap kematian lantaran bahaya yang menimpa, tidak diperbolehkan. Semestinya yang dianjurkan berkata, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”

Lebih dari itu jangan sampai mati bunuh diri. Sebab Nabi pernah disodori jenazah seseorang yang mati bunuh diri dengan anak panah, beliau tidak bersedia menyalatinya. Tujuannya untuk mencegah agar orang-orang tidak melakukan perbuatan durhaka.

Nah, bagaimana dengan anda? Mau hidup seribu tahun lagi seperti puisi Khairil Anwar atau ingin menjadi mayit laksana Auf bin Malik dalam hadis riwayat Muslim, Nasai dan Ibnu Majah. Tentu kita ingin panjang usia dan bahagia serta dimasukkan surga, bukan?

Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here