Cermin Diri#97: Hukum Nyanyian Diperselisihkan

0
580
Foto diambil dari wolipop

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin

Ditanya tentang nyanyian atau lagu favorit sekaligus hukumnya saya kelabakan. Setelah sembilan hari baru menemukan jawaban. Karena sejak usia dini hingga kini belum pernah nyanyi sendiri di panggung resmi. Kecuali nyanyi beregu saat sekolah. Nyanyi duet kasidah waktu kuliah. Paduan suara manakala lomba antar lembaga yang bersifat wajib. Turut serta lagu kebangsaan kala upacara.

Namun bila mendengar nyanyian syahdu kadang terpukau. Tak terasa hati bergetar. Air mata menetes. Mulut komat-kamit. Badan bergoyang. Semangat menyala. Rindu membuncah.

Adapun soal hukum nyanyian memang diperselisihkan ulama. Pada dasarnya tidak dilarang. Alias diperbolehkan. Sebab Rasulullah pernah hadir mendengar nyanyian dan membiarkannya. Aisyah mengisahkan, “suatu ketika Rasulullah masuk ke rumahnya. Ada dua gadis sedang bernyanyi tentang benteng suku Aus. Abu Bakar melarang dengan kata hardikan. Rasulullah bersabda, biarkan saja!.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

Bahkan hukumnya sunah. Kalau menarik kepada keutamaan. Seperti menimbulkan keberanian di medan perang, kerinduan melaksanakan haji, peristiwa menggembirakan, perkawinan, pengobatan, dan menidurkan bayi serta mengesankan hati sehingga mengakui kebenaran.

Sedangkan hukumnya makruh jika untuk main-main belaka. Tak mendatangkan apa-apa. Perhatikan hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, “Termasuk kesempurnaan Islam seseorang ialah meninggalkan barang yang tak berarti.”

Sementara itu ada yang melarang, andai orang terbuai dengan nyanyian dan lengah terhadap Alquran. Terus dilakukan wanita di hadapan pria sambil bermabuk-mabukan. Menarik pada perzinahan maupun maksiat, dosa dan permusuhan.

Singkatnya nyanyian itu dianjurkan bila mampu mendorong pada sesuatu yang baik. M. Quraish Shihab berpendapat. “Lagu Barat, siapa pun penyanyinya, muslim atau nonmuslim, pria atau wanita tidak haram didengar selama tidak mendorong pada keburukan. Sebaliknya, lagu berbahasa Arab sekalipun, atau berirama kasidah, dapat saja menjadi haram bila mengandung rangsangan kemungkaran.

Tarjih Muhammadiyah juga menyatakan, ditinjau dari segi asas umum ajaran agama, nyanyi termasuk kategori muamalah duniawiyah. Asasnya adalah segala sesuatu itu pada dasarnya boleh sampai ada dalil yang melarang. Jadi hukum menyanyi mubah.

* Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro dan SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here