Dahnil: Jelang Pemilu, Simbol-simbol Agama Dipertontonkan Seolah Menunjukkan Kesalehan

0
499
Kritik Politisi: Dahnil Anzar Simanjuntak Ketua Umum PPPM. (Foto: Andik)

KLIKMU.CO – Kontestasi politik seringkali destruktif terhadap kehidupan sosial masyarakat, khususnya kerukunan umat beragama. Perilaku memperalat agama untuk kepentingan meraih kekuasaan menjadi perilaku jamak yang ditunjukkan oleh politisi negeri ini.

Demikian menurut Dahnil Anzar Simanjuntak Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM). Kemunafikan dan kepura-puraan, lanjut Dahnil, seakan lazim dipertontonkan untuk memperoleh simpati dari pemilih umat beragama.

Dahnil menilai, jelang Pemilu, simbol-simbol agama dikenakan dan dipertontonkan seolah menunjukkan kesalehan seseorang. Misalnya, mendadak pakai Jilbab, padahal dalam kesehariannya tidak begitu. Juga mendadak rajin ke masjid, gereja, pesantren, dan simbol-simbol religi lainnya.

“Yang lucu, memaksakan diri menjadi imam shalat, padahal tidak pantas dan tidak bisa,” sindir Penulis Buku Politik Rente ini kepada KLIKMU.CO Ahad, (29/4).

Menurut Anin, sapaan akrab pria berdarah Batak ini, perilaku mendadak religius tersebut menjadikan agama berada pada ruang pertarungan politik atau politisasi agama.

Tidak kalah tragis, menurut Dahnil, rumah Ibadah menjadi battle ground Pemilu, dan merusak kerukunan umat beragama di Indonesia. Karena para politisi tersebut tidak menjadikan agama sebagai akhlak atau standard moral berpolitik namun memanfaatkan agama untuk menarik simpati demi kekuasaan.

“Karena itu, saya minta elit-elit politik menampilkan cara politik dengan otentik, tidak dipenuhi dengan laku-laku kebohongan atau ‘mendadak religius’ yang cenderung menipu, sehingga rumah ibadah dan agama tidak menjadi battle ground pertarungan syahwat kekuasaan para politisi,” tukas Panglima Tinggi KOKAM itu.

Dia menyerukan agar semua anak bangsa menghadirkan nilai-nilai akhlak dalam agama menjadi standard moral bagi praktik politik. Bukan, memperalat agama sekedar untuk kekuasaan jangka pendek.

“Nah, dengan fenomena mendadak religius yang ditunjukkan para politisi kita tersebut, agaknya penting masyarakat untuk terus merawat akal sehatnya untuk menilai politisi,” katanya dengan meminta tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.

Dahnil menambahkan, jangan sampai upaya adu domba demi syahwat kekuasaan, merusak keberagaman Indonesia.

Bagi Dahnil, ketika politik memecah belah, maka agama harus mempersatukan. Semoga Tahun Politik 2018 dan 2019 ini bisa kita lewati dengan penuh kebaikan,” pungkas Dahnil. (Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here