Dakwah Itu seperti Peribahasa Patah Tumbuh Hilang Berganti

0
226
Drs Anhar Anshori MSi PhD menyampaikan ceramah dalam Tabligh Akbar PDM Kota Surabaya. (Habibie/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – “Dalam rangka menyambut Milad Ke-107 Muhammadiyah, enaknya kita feedback? Apakah faktor-faktor berdirinya Muhammadiyah itu masih ada?” Demikian kata Drs H Anhar Anshori MSi PhD dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah saat menjadi penceramah dalam Tabligh Akbar PDM Kota Surabaya, Ahad (24/11/2019).

Berdirinya Muhammadiyah, menurut Anhar, disebabkan dua faktor. Pertama, faktor subjektif. Kedua, faktor objektif. Subjektif adalah yang ada di dalam KH Ahmad Dahlan. Yaitu soal keinginan, cita-cita, dan sebagainya. Soal faktor subjektif, pertama, kedalaman pemahaman KH Ahmad Dahlan terhadap Quran dan Hadits sangat luas. “Untuk itu melihat kehidupan Islam. Ternyata banyak yang tidak selaras,” kata dosen Universitas Ahmad Dahlan tersebut.

Yang kedua, agar umat Islam beragama secara benar. Gerakan Muhammadiyah itu gerakan purifikasi di satu sisi dan tajdid atau pembaruan di sisi lain. “Ibadah mahdah itu sifatnya purifikasi dan ghairu mahdah itu tajdid,” ujar pria asal NTB itu.

Menurut Anhar, dakwah itu seperti peribahasa patah tumbuh hilang berganti. Dakwah tidak boleh berhenti. Apabila seorang pemimpin meninggal, tentu akan selalu ada penggantinya. Kembali ke surah An-Nisa ayat 6 yang artinya hendaknya kamu khawatir meninggalkan generasi-generai yang lemah.

“Kewajiban Bapak-Bapak untuk melahirkan penerus yang kuat,” katanya. “Pertanyaannya, sudah siapkah Bapak-Bapak melahirkan anak-anak sebagai penerus?” tanyanya.

Lantas, yang dimaksud Allah SWT tentang al-khair adalah mengikuti Quran dan sunah itu merupakan suatu kebaikan. “Tapi, jangan lupa pengamalannya. Seperti Ahmad Dahlan itu manusia amal. Sedikit teori, banyak amal,” katanya.

Anhar menambahkan, agama dan ilmu itu tidak bisa didikotomikan. Alquran itu adalah sumber pengetahuan. “Quran itu mutlak, ilmu pengetahuan itu relatif,” ujarnya.

Sementara itu, faktor objektif adalah yang tampak di masyarakat dan benar-benar terjadi. Yang pertama adalah banyak perilaku masyarakat yang menyimpang. KH Dahlan ketika itu prihatin. “Kedua, pendidikan Indonesia masih terbelakang saat itu,” ucapnya.

Dalam agenda itu juga dilakukan penyerahan rompi kepada para penggawa jihad digital KLIKMU.CO. Harapannya, semangat jihad digital akan semakin membubung. (Achmad San)

Dari kiri, M. Syaikhul Islam, M. Arif An, Kiai Mahsun Jayadi, Eko Kurniawan, Achmad San, dan Dr Imam Syaukani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here