Dari Arena Tabligh Akbar Malaysia: Muhammadiyah Adalah Gerakan Pencerdasan, Ini Ciri-Ciri Orang Cerdas

0
3010
Pengurus PRIM dan PRIA Klang Lama periode 2019-2021 usai pelantikan. (Tim Media PCIM Malaysia/Klikmu.co)

 

KLIKMU.CO – Salah satu Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah dan Aisyiyah di bawah PCIM Malaysia, yaitu PRIM & PRIA Klang Lama, Ahad lalu (2/2/2020) mengadakan Tabligh Akbar dalam rangka pelantikan pengurus PRIM dan PRIA Klang Lama periode 2019-2021.

Acara yang berlangsung di Dewan Zamrud, Klang Lama, Kuala Lumpur, itu dihadiri oleh sekitar 300 warga Muhammadiyah, termasuk pimpinan PCIM dan PCIA Malaysia. Hadir sebagai pembicara adalah Muhammad Shulthoni dari Majelis Wakaf PWM Yogyakarta dan Ali Mu’thi yang merupakan tokoh Muhammadiyah dari Surabaya.

Dalam sambutannya, Ketua PCIM Malaysia Dr Sonny Zulhuda menekankan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan pembaruan dan pencerdasan.

“Sebagai gerakan pencerdasan, mari kita pelajari apa kata Rasulullah saw tentang ciri-ciri orang cerdas,” ujarnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh At-Turmudzi, Rasulullah saw menggambarkan ada dua hal yang dilakukan oleh orang cerdas. Pertama, dia selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat. Kedua, orang yang cerdas itu mempersiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati.

“Dari sini, kita diingatkan agar senantiasa awas dalam kehidupan dan selalu ingat akan mati. Dengan begitu, kita tidak akan menyia-nyiakan umur dan waktu yang dititipkan Allah untuk kita di dunia ini. Termasuk di dalamnya mengoptimalkan kontribusi kita pada persyarikatan,” terang Sonny.

Sonny mengucapkan selamat kepada pengurus yang baru dilantik. Menjadi pemimpin itu, kata dia, berarti kita perlu lebih banyak mendengar dari berbicara. Inilah tugas pertama bagi ketua yang baru dilantik.

Selanjutnya, ketua PCIM Malaysia tersebut juga menekankan pentingnya usaha dalam berdakwah meskipun hasilnya masih sulit dicapai. Pasalnya, kesuksesan itu diukur bukan dari hasil, namun dari proses usaha yang dijalankan.

“Maka, walaupun PRIM Klang Lama misalnya belum memiliki TPA atau PAUD karena berbagai tantangan kondisional, itu bukan masalah. Karena yang terpenting adalah keinginan untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an tidak boleh pudar dari diri kita,” ujarnya.

“Tengoklah kanan kiri dan sekeliling kita, ajarkan teman atau keluarga kita membaca Al-qur’an. Lalu kaji bersama pesannya. Itulah esensi dakwah kita,” tegas Sonny.

Sementara itu, dua pembicara pada Tabligh Akbar menyampaikan tema Muhammadiyah dalam pusaran kehidupan beragama dan berkebangsaan dari perspektif berbeda.

Muhammad Shulthoni, kandidat doktor ekonomi Islam dari IIUM Malaysia, menyampaikan pentingnya menguatkan gerakan wakaf dalam Muhammadiyah. Shulthoni yakin, jika aset-aset wakaf Muhammadiyah ditata dan dikelola dengan lebih baik, niscaya akan mengoptimalkan peran Muhammadiyah dalam dakwah dan pergerakan.

Shulthoni menjelaskan, ada hubungan erat antara gerakan pencerdasan di Muhammadiyah dan pentingnya penguatan wakaf. Merujuk sambutan ketua PCIM Malaysia tentang orang cerdas, Shulthoni menyambung bahwa gerakan wakaf ini tak lain dan tak bukan adalah upaya terbaik untuk melakukan persiapan dan pembekalan diri untuk kehidupan akhirat.

Bahkan, lanjut Shulthoni, Allah mengingatkan bahwa jika saja manusia diberi kesempatan untuk dipanjangkan usianya dan ditunda kematiannya, yang akan dilakukan oleh orang itu adalah bersedekah (Al Munafiqun (63): 10).

Sementara itu, Ali Mu’thi, mantan pengurus PWM Jawa Timur yang kini aktif di dunia politik, menyoroti peran Muhammadiyah dalam berbagai isu sosial politik kenegaraan. Ali menyampaikan betapa sulitnya memberantas KKN dalam iklim politik Indonesia.

Salah satu yang harus direformasi menurut Ali Mu’thi adalah perubahan sistem pemilu yang kini notabene cukup mahal. Ongkos politik yang mahal inilah yang menjadi pemicu maraknya praktik KKN di kalangan pejabat di Indonesia.

Oleh karena itu, Ali berharap Muhammadiyah dapat terus menjadi pelopor gerakan kebangsaan dalam mengenyahkan korupsi. Namun, Ali mengingatkan agar kita tidak “mencucu” dalam berdakwah, yaitu tidak sering merungut dan hilang sabar. “Yang paling penting adalah kita sabar dan ikhlas dalam berdakwah,” katanya.

Dalam kesempatan itu juga, Sumitro dan Nor Habibah masing-masing dilantik dan ditetapkan sebagai ketua PRIM dan PRIA Malaysia periode 2019-2021. Selain itu, seluruh jajaran kepengurusan juga dilantik oleh Ketua PCIM Malaysia Dr Sonny Zulhuda dan Ketua PCIA Malaysia Nita Nasyithah MEd.

Ketua panitia acara Muhammad Khozin menjelaskan, Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah Klang Lama ini sudah berdiri sejak awal 2016. Kini ranting istimewa yang didominasi oleh warga Muhammadiyah dari Solokuro dan Payaman, Lamongan, ini aktif menjalankan kegiatan pengajian serta program sosial dan rekreasional bagi warganya. (Tim Media PCIM Malaysia/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here