Dari Papua untuk Papua Berkemajuan Bersama Muhammadiyah

0
140

Oleh: Ismail Suardi Wekke
Aktivis Muhammadiyah,
dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sorong

KLIKMU.CO

Walau Yogyakarta menjadi awal perkembangan Muhammadiyah, bukan berarti bahwa Muhammadiyah hanya ada di Jawa saja dan bahkan disebut Burhani (2010) dengan Muhammadiyah Jawa. Saya mengartikan ini betapa identitas Muhammadiyah dan Jawa, dua ragam yang menyatu.

Walau demikian, Muhammadiyah berkembang sampai juga ke tanah Papua, termasuk wilayah paling ujung sekalipun yang berbatasan dengan Papua Nugini, Skouw, yang ditempuh dengan darat melalui Jayapura. Begitu pula dengan perbatasan Sota yang menjadi penanda batas di Merauke.

Bersama dengan organisasi keagamaan lain YAPIS, YPK, YPPK, Advent, PGI, Hidayatullah, Ma’arif dan NU, DDI, juga Muhammadiyah menjadi bagian dari pengembangan pendidikan tanah Papua.

Untuk Papua Barat, tersedia tiga perguruan tinggi Muhammadiyah di Kota Sorong (Universitas Muhammadiyah Sorong), Kabupaten Sorong (Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong), dan Kabupaten Manokwari (STKIP Muhammadiyah Manokwari). Sementara di Jayapura, wujudnya STIKOM Muhammadiyah. Keempat perguruan tinggi secara luas menerima mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tidak saja yang muslim. Juga menerima Katolik, Protestan, dan agama lainnya.

Mu’ti dan Haq (2009) menyebutnya dengan Kristen Muhammadiyah. Di mana masyarakat Kristen pun mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. Kalau Mu’ti dan Haq memberi penjelasan tentang Biak, salah satu kabupaten di Provinsi Papua, tipikal pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya juga dipraktikkan dalam kondisi yang sama mulai dari Raja Ampat sampai Ke Merauke. Mulai dari Kaimana sampai ke Biak.

Sehingga studi kasus yang dikemukakan Mu’ti dan Haq menjadi bagian kecil yang menjadi gambaran secara umum kondisi pendidikan Muhammadiyah di tanah Papua. Sementara di Raja Ampat, dengan dukungan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengurus Daerah Muhammadiyah menjadi bagian dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat yang berbentuk KKN. Keberadaan mahasiswa, walau dengan waktu yang terbatas, akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan pembelajaran untuk lembaga pendidikan dengan keterbatasan guru.

PDM Kabupaten Merauke juga mengelola SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah. Secara khusus untuk keperluan percakapan, satu sekolah di Merauke disebut SMA Plus Muhammadiyah. Di mana pelaksanaan pembelajaran juga mengintegrasikan dengan program khusus keterampilan hidup.

Sementara itu, Wali Kota Jayapura Bapak Benhur Tomy Mano secara khusus dalam sebuah acara pada tahun 2017 menyebutkan: “Saya adalah bintang Muhammadiyah dari tanah Papua”. Kalimat ini digunakan untuk menjelaskan salah satu fase kehidupan, di mana beliau menyelesaikan pendidikan di SMP Muhammadiyah Abepura. Bahkan menjadi ketua kelas di angkatannya.

Keberadaan Muhammadiyah di Tanah Papua menjadi kebersamaan dengan semua warga dan masyarakat tanah Papua. Kehadiran Muhammadiyah untuk mengikhtiarkan kemajuan dari Papua untuk Papua. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here