Darul Arqam di Rumah Mimdatu: Ibu sebagai Madrasah Pertama dan Ayah sebagai Kepalanya

0
253
Murid Mimdatu saat ikut Darul Arqam dari Rumah. (Reza/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Dalam suasana pandemi, apalagi dengan diterapkannya PSBB, MI Muhammadiyah 27 (Mimdatu) Surabaya mengadakan Darul Arqam dengan nuansa yang berbeda, yaitu secara daring. Mereka menyebutnya Darul Arqam di Rumah (DAdR). Dengan tema Meraih Keberkahan Ramadhan di Rumah Bersama Keluarga.

Sebanyak 250 siswa yang ikut berasal dari kelas 1 sampai kelas 5. Mereka terbagi menjadi 2 kelas, kelas atas dan kelas bawah. Kelas bawah, yaitu kelas 1 dan 2, melaksanakan kegiatan DAdR terlebih dahulu pada Senin-selasa (11-12 /5/2020), sedangkan siswa kelas atas (kelas 3, 4, dan 5) pada Rabu-Kamis (13-14/5/2020).

Kegiatan DAdR ini diawali sambutan yang sudah diunggah terlebih dahulu di channel YouTube sekolah. Dalam sambutannya, Ustadz Gofur selaku ketua pelaksana kegiatan DAdR tahun ini menyampaikan, anak anak sekalian harus tetap semangat menjalani ibadah puasa dan mengikuti DAdR meskipun dengan suasana yang berbeda di Ramadhan tahun ini.

“Tujuan dilakukannya DAdR ini adalah sesuai dengan tema besar kita, yaitu beribadah di rumah dalam rangka membentuk ikhtiar kita untuk menghindari dari paparan wabah dan menghentikan penyebaranya. Meski begitu, tidak berarti kita akan kehilangan kesempatan untuk beribadah dan bermunajah kepada Allah,” ujarnya.

Pelaksanaan DAdR ini tentu menggunakan online. Ustadz/ah menyampaikan materi yang diberi nama Kuliah Ramadhan (Kurma) dengan meng-upload materi di YouTube. Kemudian, juga memberikan checklist kegiatan selama DAdR berlangsung, yaitu dengan memberi tanda centang untuk kegiatan yang telah dikerjakan dan memberi tanda silang untuk kegiatan yang belum atau tidak dilakukan.

“Setelah itu, siswa-siswi mengumpulkan foto kegitan dan cheklist tersebut ke koordinator yang ada di masing-masing kelas,” katanya.

Kepala MI Muhammadiyah 27 Surabaya M. Ismul Muchlis menyampaikan, Ramadhan di masa pandemi Covid-19 tahun ini menjadikan kita semakin dekat dengan Allah dan kembali menjadikan fungsi rumah sebagai lembaga pendidikan utama.

“Ibu sebagai madrasah pertama dan ayah sebagai kepala madrasahnya. Kita bisa lebih punya waktu dengan keluarga, shalat berjamaah, memantau kegiatan keseharian dan belajar anak, bercerita masa lalu, berbagi pengalaman, dan kadang bermain bersama,” ujarnya. (Reza Rachmatika/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here