Day #22 Make Peace With Coronavirus (Covid-19)

0
122
Foto diambil dari SindoNews

KLIKMU.CO-

Oleh : Munahar*

Hari ini saya ikut pengajian yang diasuh oleh Dr. KH. Imam Mawardi, MA., dosen pascasarjana UINSA yang juga guru saya saat menempuh pendidikan S1 di FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya sekira 20 tahun yang lalu.

Diantara materi yang menarik adalah pada saat Beliau menjelaskan tentang dialognya bersama seorang profesor ahli virus. Bahwa Covid-19 tidak bisa dilawan atau dimatikan dengan desinfektan, sebab sebelum virus tersebut mati dia akan mengalami re-ingkarnasi dan cenderung lebih kuat. Kenapa persebaran virus corona saat ini begitu cepat dan meluas, karena dilawan dengan cara mematikan. Maka yang seharusnya dilakukan adalah justru mengenalnya, bersifat lunak, dan berdamai kepada mereka dengan cara mempertemukan virus corona dengan virus yang lain yang membuat corona tidak mati namun juga tidak mengganggu kita.

***
Tentang kebenaran teori tersebuat biarlah diuji berdasarkan keahliannya. Setidaknya apa yang disampaikan oleh profesor ahli virus tersebut adalah sangat lojik. Gambarannya untuk menghadapi anak remaja yang nakal dan brutal, maka orang tua tidak perlu “membunuhnya” namun justru harus menjadi teman dekat supaya anak merasa nyaman bersamanya. Dengan demikian anak akan berubah menjadi lebih baik setelah nilai karakter masuk dan diterima oleh anak melalui orang tua yang dekat dan menerima kehadirannya.

Pada kontek berdamai dengan virus, maka kita harus mengenal virus, siapa yang menciptakan, dan untuk apa diciptakan.

Virus adalah makhluq Allah. Dia bagian alam yang diciptakan sebagai bentuk kebesaran-Nya. Sudah barang tentu ada hikmah dan rahasia dibalik itu semua. Sebagaimana firman-Nya “Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa,” tidak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia.

Mencermati gejala persebaran virus yang membuat resah dan takutnya manusia di muka bumi, maka penciptaan virus bisa dimaknai:

Pertama.Sebagai Ujian. Lazimnya ujian, maka bisa mendatangkan kebaikan dan juga keburukan. Maka tergantung cara kita menyikapi ujian tersebut. Keuntungan kita sebagai seorang mukmin adalah baik dan buruknya ujian itu selalu bernilai baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Tidak datang kepada seorang mukmin kecuali itu baik baginya, jika diberikan nikmat ia bersyukur dan jika diuji dengan yang buruk dia pun bersabar. Syukur dan sabar, keduanya bisa mendatangkan pahala.

Kedua. Sebagai Peringatan. Apakah ini yang paling mendekati kebenarannya, wallahu a’lam. Cukup kita muhasabah diri, mungkin kita terlalu jauh dengan Sang Kholiq, mengabaikan ajaran-ajaranNya, bermaksiat dan membiarkan maksiat disekitar kita. Jika ini terjadi ada baiknya kebiasaan kita membaca istighfar semakin kita tingkatkan. Sebab Allah SWT tidak akan mendatangkan bala’ atau mara bahaya selama kita membaca istighfar, QS. Al-Anfal : 33.

Ketiga. Sebagai Azab. Bentuk ini akan diberikan Allah SWT jika manusia durhaka kepada-Nya, mendustakan ayat-ayatNya, dan bersifat sombong dengan apa yang dimilikinya. Maka jalan terbaiknya adalah bertaubat. Bertaubat tidak hanya nasional, namun taubat internasional mengingat wabah virus ini sudah mendunia.

***
Kesimpulan. Mengingat virus corona adalah makhluq Allah SWT maka berdamailah dengan-Nya, bertaubatlah kepadaNya, dan berbuatbaiklah kembali untukNya. Apapun maksud penciptaan virus, baik sebagai ujian, peringatan, maupun azab bagi manusia, maka mudah saja bagi Sang Pemilik untuk mengambilnya kembali sebagaimana mudahnya Dia mengambil nyawa dari jasad kita. Dan andaikata kita meninggal karena virus, sementara kita sabar, taat, dan senantiasa menjaga iman dalam diri kita, insyaallah syahid. Demikian keterangan Aisyiyah, istri Rasulullah SAW kepada kita. Wallaahu a’lam.
______
_Surabaya, 22/3/2020_

_Principal SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya_
_______

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here