Dentuman Misterius, Ketika Sains Tidak Selalu Bisa Memberikan Jawaban

0
159

Oleh: Fahd Pahdepie

KLIKMU.CO

Kemarin malam (11/4) sejumlah orang di sekitar Jabodetabek melaporkan suara dentuman misterius yang terdengar sejak pukul 01.30 dini hari, bahkan hingga pagi. Mereka yang tinggal di sekitar Jakarta Barat, Jakarta Selatan, sebagian Tangerang Selatan, Depok, dan Bogor mendengar suara seperti dentuman itu berkali-kali, dengan frekuensi dan intensitas tertentu, seperti orang bermain drum. Atau memukul-mukul lantai.

Sebagian orang yang melaporkan diri mendengar dentuman itu menyebutnya terdengar seperti meriam, cukup keras hingga membuat kaca rumah bergetar. Fajar Budiono, seperti diberitakan Kumparan, mendengar dentuman itu sekitar pukul 01.30 dini hari di sekitar Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di berita yang lain, Aliyya, warga Sentul City, Bogor, masih mendengar dentuman pukul 07.30 pagi.

Menurut mereka yang mendengarnya, konon dentuman itu seperti terdengar dari bawah tanah. Saksi yang lain menyebutnya terdengar dari atas, seperti dari langit. Sejak pagi hari ini, media sosial digemparkan oleh laporan-laporan itu. Kata dentuman melesat ke nomor satu ‘trending topic’ tanah air di Twitter. Berbagai spekulasi tentang dari mana asal suara itu bermunculan. Tetapi tak ada satu pihak pun yang bisa memastikannya.

Apakah suara dentuman itu berhubungan dengan meletusnya Gunung Anak Krakatau di Lampung yang terjadi di malam yang sama sekitar pukul 23.35? Mungkin saja. Tetapi otoritas resmi yang menangani kebencanaan gunung berapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menyangkalnya.

Kepala Bidang Gunung Api PVMG, Hendra Gunawan, menyebut kemungkinan suara itu berasal dari Gunung Anak Krakatau kecil sekali. Mengingat karakteristik Gunung Anak Krakatau tidak mengandung banyak gas. Katanya, “Saat ini masih terjadi erupsi, ini tipikal erupsi dengan kondisi gas yang relatif sedikit. Sehingga kalau dikaitkan dengan kejadian dentuman di Jakarta [dan sekitarnya], ini sangat sulit dibayangkan.”

Masalah lainnya, suara-suara dentuman itu tidak terdengar di sekitar Gunung Anak Krakatau, tidak ada warga yang melaporkan mendengar suara-suara itu, termasuk di pos pemantauan terdekat di Pantai Carica. Lantas, dari mana suara dentuman itu berasal?

Dalam 24 jam terakhir, empat gunung api di sekitar Sumatera dan Jawa dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas. Gunung Kerinci, Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru. Bahkan jika kita melihat gambaran lebih besar dari situasi aneka Gunung Merapi di seluruh Nusantara, sebagaimana dilaporkan MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM, aktivitas-aktivitas gunung berapi di daerah lainnya pun harus terus dipantau. Mengingat Nusantara berada di sabuk gunung api, ring of fire.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dari mana asal suara dentuman-dentuman itu? Mengapa semua rangkaian kejadian ini membuat kengerian dan kecemasan tersendiri? Di tengah kekhawatiran kita tentang pandemi virus korona, ditambah semua hal ini, rasanya memang kita harus makin banyak mengaca diri dan berefleksi. Harus dengan cara apalagi kita diberi tahu bahwa terlalu banyak hal-hal yang sebenarnya tidak kita tahu. Tidak kita mengerti. Tetapi kita masih saja merasa sombong dan jemawa.

Jika kita membaca aneka data, ternyata suara-suara misterius seperti kita dengar kemarin malam di sekitar Jabodetabek bukan hal pertama di dunia. Dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir setidaknya lebih dari lima kejadian serupa muncul di berbagai belahan dunia dan belum terpecahkan oleh para ilmuwan.

Sekitar tahun 2016, di suburb Portland, Amerika Serikat, sejumlah warga melaporkan mendengar suara mirip trompet atau decitan yang sangat keras. Suara itu bahkan terdengar juga di berbagai negara dan kota dunia lainnya, termasuk di Kanada dan Finlandia. Sebagian ilmuwan menyebut bahwa mungkin suara itu berasal dari gelombang elektromagnetik bumi, atau efek lain dari gas, meski mereka juga sulit membuktikannya.

Apa yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya kemarin malam lebih mirip dengan kejadian di Danau Senca di New York dan sepanjang North Carolina, Amerika Serikat, sekitar tahun 2012. Kejadian yang sering disebut ‘The Seneca Gun’ itu dilaporkan memperdengarkan suara dentuman-dentuman seperti meriam.

Suara yang disebut warga sekitar sebagai ‘ghostly detonations’ atau ledakan hantu. Sebagian ilmuwan menyebut sumber suara itu mungkin disebabkan gempa bumi, atau meteor jatuh, atau latihan militer. Tetapi hingga saat ini tak satu pun pembuktian ilmiah yang mampu memecahkannya.

Sesombong apa pun kita merasa mengetahui segala sesuatu, seangkuh apa pun manusia berpikir bisa menjawab semua persoalan melalui sains dan teknologi, ternyata di dunia ini masih banyak hal-hal yang tak bisa kita cerna dengan akal, tak bisa kita buktikan dengan sains. Kejadian-kejadian aneh seperti ‘The Loneliest Whale’, ‘The Buzzer’, ‘The Hum’, dan ‘The Singing Sand’, hingga saat ini masih menjadi teka-teki dunia yang entah apa penjelasannya.

Kita bisa berspekulasi apa pun tentang apa di balik hal-hal misterius itu. Termasuk mencari penjelasan-penjelasan ilmiah yang mungkin bisa membuat kita sedikit lega. Tetapi, ada satu hal yang tak bisa kita tolak: Terlalu banyak yang tidak kita tahu, terlalu kecil kita sebagai manusia untuk memasukkan keagungan dan kebesaran-kebesaran alam semesta ke dalam kepala kita.

Bahkan Covid-19 yang merasa bisa kita hadapi pun kian hari kian jadi misteri, hampir membuat umat manusia putus asa menghadapi segala kemalangan yang ditimbulkannya? Mengapa kita semua masih ragu, mengapa kita masih bertahan menjadi orang-orang yang menyangkal bahwa memang ada hal-hal yang ‘gaib’, yang tak kasatmata dan tak bisa kita cerna dengan akal kita yang terlalu dangkal, sementara kita hanya dituntut untuk percaya dan kembali pada satu petunjuk: Yang tak ada sedikit pun keraguan di dalamnya.

Barangkali bumi memang sudah tua. Semesta yang terus mengembang suatu hari akan menemui batas terjauhnya untuk bertahan agar tidak meledak. Ke mana kita harus kembali dan menenangkan diri?

Tabik! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here