Design Generasi Emas #3: Miniatur Hidup

0
437
Foto diambil dari IDNTimes

KLIKMU.CO

Oleh: Irnie Victorynie*

Keluarga sebenarnya sebuah miniatur pola hidup bagi anak-anak. Konsep dan pembiasaan hidup dalam skup lingkungan terkecil bisa menjadi cerminan bagi kehidupannya di lingkungan luar yang lebih luas. Fenomena ini tentu menjadi sebuah tantangan sekaligus ujian bagi setiap orang tua dalam membangun miniatur lingkungan yang baik dan efektif.

Menciptakan pola asuh anak menjadi sebuah tantangan bagi orang tua karena dituntut dan dipaksa untuk menghasilkan konsep cerdas agar bisa diterapkan di rumah, dan berusaha menjaga kelangsungan realisasi konsep tersebut. Semakin bertambah anak di rumah maka tantangan pun semakin bertambah. Misalnya, setiap anak memiliki karakter, kebiasaan, dan keinginan yang beragam maka tentu akan berbeda perlakuan dan cara dalam mengasuh dan mendidik mereka. Tantangannya di sini adalah orang tua harus belajar dan memperkaya wawasan tentang variasi metode atau pendekatan yang tepat untuk diterapkan pada setiap anak. Sehingga tujuan dari konsep membangun miniatur efektif bisa tercapai.

Bisa pula projek miniatur keluarga dikatakan ujian bagi orang tua. Pasalnya Ibu dan ayah sudah sepakat dalam membangun konsep pendidikan anak di rumah, namun dalam perjalanannya ada saja ujian yang datang. Ujian bisa datang dari anak, seperti menurunnya semangat anak dalam menjalankan nasihat dan konsep asuh dari orang tua karena pengaruh lingkungan. Anak lebih menyukai konsep lain yang ditemukan dari luar rumah. Atau bisa pula ujian justru datang dari orang tua sendiri. Misalnya, orang tua tidak konsisten terhadap konsep asuh yang telah dibuat dan disepakati. Atau ujian lainnya yang datang dari lingkungan eksternal. Karenanya, orang tua harus peka terhadap peluang timbulnya ujian baik dari dalam keluarga maupun dari luar, sehingga bisa mempersiapkan solusi yang tepat.

Beberapa hal ini bisa membantu orang tua dalam mengelola sebuah miniatur lingkungan yang hebat bagi anak. Pertama, wujudkan trust (kepercayaan) anak terhadap orang tua. Membangun rasa percaya anak pada orang tua tidaklah mudah, namun bukan berarti sulit diwujudkan. Perlu proses yang tepat dan berkelanjutan untuk merealisasikannya. Misalnya orang tua harus senantiasa konsisten dan jujur dengan apa yang diucapkan pada anak-anak. Dengan setidaknya menerapkan dua hal itu maka akan mulai terbangun kepercayaan anak pada orang tua. Apabila anak sudah percaya pada orang tua, maka akan mudah menasihati, membimbing, dan mendidiknya. Semua yang terucap dari lisan orang tua, akan dilaksanakan oleh anak dengan senang hati. Bahkan ketika anak melakukan kesalahan kemudian ditegur dan dinasihati orang tua dengan cara yang tepat, anak akan mudah menerima dengan lapang dada. Karena anak percaya bahwa arahan orang tua benar, dan semua nasihat orang tua untuk kebaikan anak. Di sinilah penanaman konsep mendirikan bangunan miniatur hidup anak dimulai. Doktrinasi dan stimulasi positif bisa dilaksanakan secara efektif.

Kedua, jalin komunikasi sehat dan efektif antara orang tua dan anak. Buatlah anak nyaman berkomunikasi dengan orang tua, sehingga anak akan selalu terbuka menceritakan apapun pada orang tua. Biarkan anak merasa bahwa orang tua adalah sahabat mereka, sehingga tidak ada rahasia yang ditutupi. Namun saat ini, perubahan zaman sedikit mengalihkan komunikasi langsung anak dengan orang tua. Masing-masing sibuk dengan dunia lainnya di HP (handphone) sehingga sebagian waktu berkomunikasi terpakai untuk urusan di luar konsep asuh menuju miniatur lingkungan efektif. Hal ini tentunya bisa diatasi dengan pengelolaan waktu, kapan waktunya bincang dan canda dengan orang tua, dan kapan boleh mengoperasikan HP. Apabila komunikasi sudah terjalin dengan baik, maka orang tua lebih mudah mengontrol anak. Orang tua akan mengetahui seberapa efektif penanaman input-input positif pada anak. Dan orang tua pun bisa mendapatkan informasi kesulitan, tantangan, dan kegalauan anak dalam proses pengasuhan. Sehingga semua masalah yang timbul bisa segera dapat diatasi.

Ketiga, biasakan bertutur kata yang santun dan berperilaku yang beradab di rumah. Orang tua adalah model dan figur bagi anak di rumah. Karenanya harus mengontrol dan mengatur ucapan, sikap, perbuatan, dan kebiasaan sehari-hari. Anak akan mudah sekali meniru dan mengimitasi semua hal yang dilihat dan didengar, terutama dari orang tua. Banyak hal yang terkadang membuat kita terkejut saat ana bisa berbuat sesuatu, lalu kita menyadari bahwa ternyata perbuatan anak tersebut karena meniru orang tua. Kemudian, hindari redaksi kata yang kurang sopan, dan gantilah dengan kata yang baik dan santun. Serta ajarkan anak untuk berlaku lemah lembut dan ramah terhadap sesama. Lalu perkuat dengan teladan orang tua melalui bukti perilaku orang tua terhadap keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.

Keempat, persiapkan mental anak untuk bisa survive (bertahan) di lingkungan luar rumah. Setiap anak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang tidak sama di rumah mereka. Hasilnya, saat anak tampil dan mulai berinteraksi di masyarakat, pola konsep pendidikan mereka di rumah akan dibawa oleh anak saat bergaul dengan temannya. Karenanya, orang tua harus memberikan pemahaman pada anak sejak dini bahwa di luar rumah mereka akan menemukan banyak karakter anak yang beragam. Akan ada teman yang bersikap baik, dan ada pula yang sebaliknya. Juga akan menjumpai peristiwa yang disukai, atau sebaliknya. Persiapkan mental anak sejak dini, agar anak-anak kita tetap menjadi pribadi yang kuat, hebat, santun, dan beradab di manapun mereka berada.

*Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here