Design Generasi Emas #4: Orang Tuaku Sahabatku

0
254
Foto diambil dari kaskus

KLIKMU.CO

Oleh Irnie Victorynie*

Setiap anak tentu mendambakan multiperan orang tua. Salah satunya adalah menjadi sahabat terbaik anak. Saat anak mulai sekolah dan berinteraksi dengan teman-temannya di luar rumah, anak akan mengalami banyak pengalaman. Entah pengalaman yang baik dan berkesan maupun sebaliknya. Pengalaman kurang menyenangkan yang kerap terjadi biasanya terkait dengan hubungan pertemanan hingga permusuhan. Dan banyak lagi contoh kasus yang dihadapi anak di lingkungan sekolah dan masyarakat. Di sinilah peran orang tua sebagai sahabat mulai dinantikan anak.

Melihat fenomena saat ini, tidak semua orang tua bisa menjadi sahabat yang diharapkan anak. Bisa disebabkan oleh kondisi kesibukan ayah dan ibu yang tinggi. Misalnya, kedua orang tua bekerja dari pagi hingga malam. Anak hanya ditemani oleh asisten rumah tangga atau nenek. Sehingga yang sering berkomunikasi dan menjadi sahabat anak bukanlah orang tua. Namun demikian, kasus seperti ini bisa diatasi dengan mengelola waktu jumpa anak secara berkualitas. Istilah yang sering kita dengar “quality time” (waktu yang berkualitas). Walaupun dalam pelaksanaannya, tentu setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam mengisi waktu berkualitas.

Alasan lainnya, orang tua kurang mengetahui cara bersahabat dengan anak. Masih banyak dijumpai orang tua yang kurang dekat dengan anak, sehingga anak segan untuk bercerita dan berbagi kisah di sekolah maupun di masyarakat. Seperti contoh, ayah atau ibu diberikan label galak oleh anak mereka. Kemudian anak merasa bahwa setiap melakukan kesalahan pasti dimarahi, tanpa bertanya dan meminta penjelasan. Anak selalu salah di mata orang tua. Galaknya orang tua menyebabkan anak menjadi takut, sehingga terasa seperti ada barrier (pembatas) antara anak dengan orang tua. Akibatnya anak merasa sulit menjadikan orang tua sebagai sahabat. Padahal anak sangat memerlukan peran sahabat dari orang tua untuk memberikan ia kekuatan dan dukungan dalam perkembangan diri anak menghadapi pengalaman-pengalaman hidupnya.

Sebagai tambahan, bila orang tua belum mengetahui cara bersahabat dengan anak, sekalipun ibunya adalah ibu rumah tangga, belum tentu menjadi sahabat anak. Padahal sebagian besar waktu ibu berada di rumah. Sayangnya, waktu tersebut terbagi dengan aktivitas lain. Misalnya, ibu sibuk mengoperasikan HP (hand phone). Banyak aplikasi dan grup dalam HP, serta ragam aktivitas seperti update status dan upload foto. Sehingga walaupun fisiknya bersama anak, namun ibu mesra dengan HP-nya. Atau kegiatan ibu lainnya, banyak keluar rumah untuk bertemu teman-teman ibu. Bisa berupa arisan, shopping, makan-makan, dsb. Namun kendala ini tentu bisa diatasi dengan membuat jadwal aktivitas ibu. Ada waktunya ibu menjadi sahabat anak, ada pula waktunya ibu mengoperasikan HP atau bertemu dengan teman-teman.

Menjadi sahabat anak bukan perkara mudah, banyak hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam proses menjadi sahabat. Yang pertama, undestand (mengerti). Orang tua harus berupaya mengerti dan memahami anak. Bukan sebaliknya. Misal orang tua sedang lelah atau penat mengatakan, “jangan rewel dong, kan ayah dan ibu sedang capek!”. Kalimat tersebut mengandung makna bahwa anak yang harus mengerti kondisi orang tua. Sebenarnya orang tualah yang harus mengerti kondisi setiap anak. Jalinlah komunikasi yang efektif dan penuh kasih sayang dengan anak. Belajarlah untuk mengerti setiap kebutuhan anak. Bila orang tua mengalami keterbatasan, misal tidak punya sesuatu yang diminta anak. Sampaikan dan pahamkan anak secara baik. Bicaralah dari hati ke hati dengan anak.

Kedua, pay attention (memberi perhatian). Anak sangat senang diberikan perhatian oleh orang tua. Perhatian itu bukan dimaknai sekedar uang. Yang penting uangnya terpenuhi maka anak bisa membeli apapun yang diingankan anak. Tidak, bukan demikian. Perhatian itu lebih kepada makna kehadiran orang tua. Misalnya, setiap anak pulang dari sekolah atau bermain di luar rumah, sapalah anak dan tanyakan apa yang dilakukannya di luar rumah. Tanyakan juga apa saja kendala atau rintangan yang dijumpai anak. Lalu berikan solusi dan semangat bagi anak bila mendapatkan masalah. Sangat disarankan untuk menggunakan bahasa tubuh yang sesuai dalam mendukung perhatian orang tua terhadap anak.

Ketiga, listen (dengarkan). Setiap anak sebenarnya ingin mengemukakan isi hatinya dan ingin memberikan penjelasan atas setiap keinginannya. Maka jadilah pendengar yang baik bagi anak. Biarkan anak curhat apapun pada orang tua. Jangan pernah sepelekan apapun yang keluar dari lisan anak. Karena bisa jadi hal itu sepele untuk orang tua, namun ternyata luar biasa bermakna bagi anak. Orang tua dituntut untuk memahami bahwa dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Maka, ketika anak bercerita, dengarkanlah dengan seksama dan masuklah dalam dunianya. Berusahalah berempati atas apa yang dialaminya, kemudian berilah anak aternatif solusi atas permasalahannya.

Bila ketiga hal tersebut sudah direalisasikan dan terus konsisten. Maka anak akan menemukan sahabat sejatinya adalah orang tuanya sendiri. Anak akan akan lebih kuat menghadapi kehidupan di luar rumah. Walaupun bermunculan masalah pertemanan. Karena dalam hati anak sudah bahagia memiliki sahabat setia di rumahnya.

Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here