Design Generasi Emas #7: Guru Pejuang Vs Guru Penikmat

0
616
Foto Dokter Strange diambil dari thevenger.com

KLIKMU.CO

Oleh Irnie Victorynie*

Suatu hari seorang kawan bertanya. Entah itu serius atau hanya gurauan. Namun membuat saya berpikir jauh. Pertanyaannya, “Ir, kamu itu termasuk guru pejuang atau guru penikmat?” Pikiran saya bukan disibukkan dengan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Karena jawabannya cukup mudah. Tetapi fokus pikiran saya justru pada alasan dan latar belakang kenapa muncul pertanyaan seperti itu.

Sudah jelas bahwa guru adalah pejuang pendidikan. Menurut KBBI, pejuang adalah orang yang berjuang. Sedangkan berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Jadi, guru adalah pejuang yang berusaha semaksimal mungkin mendedikasikan dirinya untuk melaksanakan amanat undang-undang dalam bidang pendidikan.

Salah satu amanah pendidikan ada dalam Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003. Tentunya, guru adalah pelaksana amanah tersebut. Dimana guru dituntut untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Potensi yang berkembang diharapkan mengarahkan peserta didik menjadi generasi emas bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan sebagainya.

Bukan hanya perkara berusaha berjuang mewujudkan amanah, namun ada arti lain dari kata pejuang menurut KBBI, yaitu berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Maknanya, dalam upaya mengemban amanah pendidikan, guru akan menempuh perjalanan proses yang tidak mudah. Guru akan menjumpai serangkaian kesukaran dan tantangan dalam mendidik dan mengajar. Entah datangnya dari pihak lembaga pendidikan, peserta didik, masyarakat, ataupun dari diri guru sendiri.

Namun guru harus tegar dan tangguh. Tetap tegak menjadi pejuang. Guru semestinya mampu mengatasi semua kesukaran, halangan, dan rintangan demi terwujudknya cita-cita pendidikan bangsa. Guru tidak mudah goyah dan menyerah apalagi berganti orientasi menjadi guru penikmat.

Penikmat dalam KBBI diartikan sebagai orang yang menikmati. Sedangkan menikmati artinya merasai atau mengalami sesuatu yang menyenangkan. Jadi, bila guru dikesankan sebagai penikmat sungguh tidak tepat. Seolah guru hanya maunya yang nikmat-nikmat saja. Guru hanya mau mengalami proses pendidikan yang dianggapnya menyenangkan saja. Tidak mau bersusah-susah, hanya mau yang enteng-enteng saja. Bila menghadapi kesukaran maka guru mudah mundur atau mencoba mengatasi masalah dengan cara instan, karena yang penting guru tetap senang. Tidak peduli kondisi anak didik.

Label guru penikmat entah muncul dari mana, sehingga terucap dari lisan seorang kawan. Memang kalimat itu ada benarnya karena masih ditemukan kasus-kasus yang mengarah ke makna penikmat. Misalnya, saya sering mendapatkan aduan dari peserta didik sekolah dasar. Dengan polos, anak didik mengutarakan rasa kecewa karena gurunya sering bolos mengajar. Banyak materi pelajaran yang tertinggal dan tidak dimengerti. Namun anehnya, anak didik tetap naik kelas dengan nilai rapot yang cukup baik. Akibat sikap guru tersebut, muncul olok-olokan di masyarakat bahwa guru walaupun mengajarnya asal-asalan tapi tetap saja menikmati gaji dari sekolah tiap bulannya.

Contoh lain yang menimbulkan kesan guru penikmat yaitu cara guru mengatasi perilaku anak yang bermasalah di kelas. Sebenarnya banyak alternatif cara yang bisa dipilih oleh guru dalam bertindak. Semuanya dalam batas kelayakan dan tetap dalam konteks mendidik. Namun, guru kategori penikmat bisa jadi punya alternatif di luar itu semua. Karena orientasinya solusi harus menyenangkan guru. Bisa jadi kategori menyenangkan menurut persepsi sendiri. Tak peduli apakah anak didik ikut senang atau sebaliknya. Langkah yang diambil simpel dan instan. Bahkan menghukum dan mengancam bisa jadi senjata dalam bertindak instan.

Tugas guru sangat mulia. Tidak boleh dinodai oleh label tak layak dan berkesan negatif seperti guru penikmat. Guru adalah pejuang bangsa. Kiprah, sumbangsih, dedikasi, dan loyalitas guru sangat berpengaruh bagi lahirnya generasi emas bangsa dan pelanjut estafet perjuangan bangsa. Jadi, tetaplah menjadi guru pejuang. Buktikan bahwa tidak ada guru penikmat.

*Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here