Di Australia, Warga Indonesia Beli Gereja Jadikan Masjid

0
238
Foto penulis

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO – Sesuai dengan rencana yang sudah dibicarakan dua bulan lalu, Jumat kemarin (18/12/2020) kami berkesempatan bersama dengan teman-teman KKSS Sydney melaksanakan kamping. Mulai Jumat hingga Senin yang akan datang, selama empat hari. Tempatnya di kawasan Port Stephen, sekitar 320 km dari Wollongong. Namun, masih berada di dalam Negara Bagian New South Wales Australia.

Ini adalah kamping kedua yang kami ikuti, setelah awal tahun lalu, sebelum Covid-19 merebak, diadakan di Umina Beach Woy Woy, sekitar 100 km dari Sydney. Sebenarnya dua bulan kami juga diajak ikut kamping di Corimal. Tapi kami tak ikut, karena terlalu dekat dari rumah. Hanya sepuluh menit naik mobil. Sebagai gantinya waktu itu, kami undang mereka datang ke rumah.

Seperti kamping yang lalu, kami selalu mendapat satu keistimewaan. Maklumlah, sebagai pelajar yang sedang menuntut ilmu, tentu masih memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam hal perbekalan kamping. Seperti tenda, alat-alat masak, terpal, dan lain-lain. Untuk hal ini, kami tak perlu bawa. Teman-teman warga KKSS yang siapkan. Pokoknya ikut saja. Bahkan untuk kamping kali ini, kami disiapkan satu unit mobil mewah, Honda Brio biru. Baru kali ini saya bawa mobil mewah dengan kecepatan rata-rata 100 km, sesuai ketentuan di jalan tol.

Jumat kemarin kami berangkat dari Wollongong pukul tujuh pagi, naik kereta api. Kemudian tiba di rumah teman di kawasan Lakemba Sydney, setengah sepuluh pagi. Setelah dijamu makan pagi dengan nasi padang rasa enrekang, kami berangkat rombongan sebanyak tiga mobil. Yang lainnya menyusul bakda Jumat karena masih bekerja.

Dalam perjalanan ke Port Stephen kemarin, kami singgah di sebuah masjid untuk melaksanakan salat Jumat. Sekitar 150 km dari Sydney. Tiba di masjid ini, jamaah sudah ramai.

Masuk masjid mesti dengan protokol keselamatan yang ketat. Semua jamaah didaftar, nama dan nomor telepon. Ketika sudah masuk masjid, saya langsung salat sunah. Selesai salat, seorang petugas memanggil saya keluar. Dia memberikan sajadah plastik dan mengantar saya ke ruang belakang.

Ternyata semua jamaah yang datang yang tidak membawa sajadah ditempatkan di ruang belakang. Ruangan salat wanita. Mengapa? Demikianlah cara mereka mengatur sebagai bagian dari protokol kesehatan. Semua pendatang tak boleh bergabung dengan warga kota setempat.

Nah, yang unik adalah ini masjid dulunya adalah sebuah gereja. Sekarang sudah dialihkan menjadi masjid. Saya sempat diskusi dengan jamaah bahwa masjid ini dibeli oleh seorang pengusaha, warga negara Indonesia. Dia seorang pengusaha yang sudah lama tinggal di Australia.

Setelah dia beli dan dijadikan masjid, pengurusannya diberikan kepada umat Islam setempat. Sebagai besar adalah warga keturunan Pakistan dan Bangladesh. Sedangkan warga Indonesia tersebut sudah pindah ke kota lain. Ceritanya hanya dia beli dan serahkan kepada jamaah. Subhanallah.

Wassalam

Holiday Park, Port Stephen, bakda Subuh, 19/12/2020

*) Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here