Di DAM IMM, Pemateri Ingatkan Misi Islam Transformatif Kang Moeslim

0
355
Achmad Santoso (tengah) bersama peserta DAM IMM setelah mengisi materi. (Panitia/Klikmu.co)

 

KLIKMU.CO- “Manusia memiliki dua peran. Sebagai hamba dan khalifah. Sebagai hamba, manusia berperan secara vertikal kepada Allah swt. Sebagai khalifah, manusia berperan secara horizontal terhadap makhluk lainnya,” kata Achmad Santoso, editor Jawa Pos dan Klikmu.co, saat menjadi pemateri dalam Darul Arqam Madya (DAM) IMM Ahad kemarin (23/2/2020).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Gresik mulai 22-27 Februari 2020. PC IMM Gresik turut serta menjadi panitia lokal.

Achmad mengisi materi tentang Islam dan Teologi Pembebasan. Menurut dia, manusia bisa menjadi saleh secara individual atau saleh secara sosial. Orang yang ihsan juga harus peka terhadap problem sosial.

“Namun, ketika umat Islam berkelompok, mudah sekali terbelenggu dan terjebak pada ikatan primordialisme dan sektarianisme bermazhab dan berakidah, yang ditengarai terlalu emosional dan mudah menyulut kekerasan dan mengantarkan pada disharmoni sosial. Benarkah beragama yang baik secara individual atau kesalehan individual cenderung mengantarkan ke arah disharmoni sosial?” tanyanya kepada puluhan peserta yang hadir dari berbagai kota, tidak hanya Jawa Timur.

Achmad menjelaskan ada dua tokoh Indonesia –juga milik Muhammadiyah– yang gencar dalam isu-isu pembebasan. Mereka adalah Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo.

“Kang Moeslim dengan teori Islam transformatif, sedangkan Kuntowijoyo dengan ilmu sosial dan sastra profetik,” jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, Moeslim Abdurrahman dulu pernah menjadi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bidang pemberdayaan buruh, petani dan nelayan. “Islam transformatif adalah Islam yang memihak, Islam yang mampu mengubah,” tegasnya. “Yakni, Islam yang memikirkan dan menyelesaikan pelbagai persoalan sosial dan kemanusiaan yang dihadapi oleh umat manusia,” terangnya.

Achmad Santoso, mengutip pendapat Kang Moeslim, menegaskan bahwa spirit keagamaan setiap muslim mampu memberikan keberpihakan terhadap persoalan keadilan sosial. Khususnya yang menimpa siapa saja yang tersubordinasi secara sosial.

“Maka, upaya yang harus dilakukan atas nama Islam ini bukanlah aksi individual semata. Tetapi menjangkau seluruh aspek sosial kebudayaan yang diharapkan mampu bergerak secara masif dan kolektif,” paparnya.

Mengenai ilmu sosisal profetik, lanjut laki-laki yang tengah menempuh program studi pascasarjana di UM Surabaya itu, Kuntowijoyo mengusung tiga hal: amar makruf, nahi munkar, tu’minubillah.

“Menyuruh kebaikan disebut humanisasi/memanusiakan manusia, mencegah kemungkaran adalah liberasi/membebaskan, sedangkan beriman kepada Allah islah transendensi/membawa manusia kepada Tuhan,” tuturnya.

Maka, membebaskan manusia tidak hanya mengentaskan dari belenggu marginalisasi. Tetapi juga bagaimana agar mereka bisa bersuara, bersikap, dan bereksistensi.

Ilmu sosial profetik untuk apa? “Selain ke dalam untuk emansipasi, juga ke luar untuk bertahan. Kita sedang menghadapi ‘perang. ‘Musuh’ kita adalah materialisme dan sekulerisme dunia modern. Tugas intelektual muslim ialah berjihad intelektual,” tandasnya mengutip Kuntowijoyo. (Achmad San)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here