Design Generasi Emas 5#: Digugu lan Ditiru

0
234
Foto diambil dari Youtube

KLIKMU.CO DIGUGU DITIRU

Oleh: Irnie Victorynie
Guru dikenal dengan label digugu dan ditiru. Kalimat yang tak asing tersebut membuat makna guru menjadi lebih luas. Guru di lembaga pendidikan berjuang mengabdikan diri untuk mentranferkan ilmu yang bermanfaat pada peserta didik. Dengan bermodalkan kualifikasi akademik dan beragam kompetensi yang dikembangkan. Kemudian label tadi menambahkan peran keberadaan guru menjadi figur yang pantas ditiru dan diteladani oleh peserta didik.

Bila semua guru menjadi figur yang sesuai untuk digugu dan ditiru, tentu akan sangat memberikan dampak yang signifikan pada penyiapan generasi emas bangsa. Namun yang menarik di sini adalah apakah semua guru sudah memenuhi standar kelayakan untuk diteladani oleh peserta didik.

Dengan beberapa kasus negatif yang ditemukan di sekolah cukup memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Dikabarkan dalam media masih ada beberapa guru yang belum disiplin dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah mengajar dan mendidik. Ada juga sebagian guru ditemukan melakukan tindakan pemberian hukuman pada peserta didik di luar batas kepatutan. Dan ada lagi guru yang lisannya kurang santun sehingga menurunkan motivasi belajar peserta didik.

Akhirnya, terbangunlah image bahwa tidak semua guru mampu menjadi figur yang bisa ditiru. Tidak semua guru memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan peraturan, misalnya seorang sarjana hukum menjadi guru sekolah dasar. Guru tersebut tentu tidak memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak sekolah dasar. Sehingga akan berdampak pada munculnya sikap dan perbuatan di luar kode etik guru. Maka jadilah sosok guru yang kurang layak ditiru. Ditambah lagi guru tidak paham dengan kompetensi dasar yang harus dimilikinya dalam bertugas. Hal ini sangat berdampak pada biasnya peserta didik mencari figur untuk digugu dan ditiru.

Namun itu kan kasuistis. Masih banyak sosok guru Indonesia yang luar biasa. Mereka menjadi pejuang pendidikan yang mengabdikan hidup demi terwujudnya generasi emas bangsa. Banyak pelajaran yang diambil dari guru-guru hebat tersebut.

Diantaranya, Pertama, guru memperhatikan kualifikasi akademik yang diperlukan oleh lembaga pendidikan. Sehingga hadirnya guru di sekolah bisa melengkapi tuntutan kebutuhan pengetahuan peserta didik. Jadi semua guru efektif mencurahkan ilmu dan menjalankan tugas, fungsi, serta perannya.

Kedua, guru senantiasa meng-upgrade diri. Dalam hal ini guru selalu mengasah kompetensi diri yang diperlukan untuk mengajar dan mendidik peserta didik, yaitu diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesioanal. Sehingga guru terus berusaha memenuhi standar dirinya sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Ketiga, guru mendidik dengan santun dan kasih sayang. Bagi peserta didik, guru merupakan orangtua kedua mereka di sekolah. Peran tersebut tentu tidak boleh disepelakan, justru harus dipikirkan solusinya bagaimana menjadi sosok pengajar sekaligus orang tua bagi peserta didik. Diantaranya guru harus bersikap santun pada peserta didik. Santun dalam berujar dan bertingkah laku. Tidak ada perkataan kotor dan kasar yang keluar dari lisan guru, sekalipun guru sedang kesal. Guru tetap bisa mengelola dan mengontrol emosi sehingga tidak serta merta memarahi peserta didik. Justru setiap lisan yang keluar mengandung hikmah dan membangkitkan motivasi bagi peserta didik. Serta guru senantiasa menghadirkan kasih sayang pada peserta didiknya. Kendati menghadapi peserta didik yang bermasalah, guru tetap tampil penuh kasih sayang dalam mengatasinya. Sehingga tetap menjadi pribadi guru yang bijaksana dalam setiap keadaan.

Keempat, guru menjadi teladan dan figur bagi peserta didik sekolah. Peserta didik sangat memperhatikan gurunya. Bukan hanya mengamati guru saat mentransferkan ilmu di kelas saja. Namun banyak hal lainnya yang dilihat dan direkam oleh peserta didik. hingga ada sebuah opini mengatakan peserta didik itu bukan hanya mendengarkan dengan tajam, namun juga melihat dengan seksama semua performance gurunya. Fenomena tersebut tentu harus menjadi bahan pertimbangan bagi guru untuk selalu memperhatikan dan mengontrol diri, baik di sekolah maupun di luar sekolah, agar selalu tampil menjadi sosok yang pantas didengar dan dilihat peserta didik. Sehingga guru selalu layak untuk digugu dan ditiru

*Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here