Din Syamsuddin: Toleransi Adalah Menghargai Perbedaan yang Disertai Tenggang Rasa

0
564
Prof Dr Din Syamsuddin MA (dua dari kiri) menghadiri forum internasional di Abu Dhabi. (KRjogja/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Beberapa tokoh Islam tanah air turut menghadiri forum internasional di Abu Dhabi yang digelar Forum for Promoting Peace in Muslim Societies Selasa kemarin (10/12/2019). Mereka sepakat menyerukan sikap saling menghargai perbedaan.

Konferensi yang dihadiri mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin MA itu mengangkat tema tolerance from possibility to necessity. Di samping Din, dari Indonesia hadir pula Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Rektor Unida Gontor Amal Fathullah, Rektor IIQ Khuzaimah Y. Tanggo, dan Ketua MUI Abdullah Jaidi.

Dalam acara itu, sebagaimana dikutip Jawa Pos, dibahas beberapa aspek pengembangan budaya toleransi dalam kehidupan masyarakat majemuk. Di antaranya, formulasi baru toleransi, etika toleransi, peluang bagi perdamaian, dan aliansi keutamaan.

Din Syamsuddin menuturkan, aliansi keutamaan merupakan upaya mengangkat nilai-nilai keutamaan dari berbagai agama untuk ditampilkan sebagai lingkaran kebenaran. ’’Lingkaran keutamaan diharapkan dapat menggantikan lingkaran setan atau vicious circle yang saat ini melilit peradaban dunia,’’ terangnya sebagaimana diberitakan Jawa Pos.

Penggagas Pondok Pesantren Modern Dea Malela yang berlokasi di Sumbawa, NTB, itu mengatakan, percakapan tentang toleransi merupakan pilar kehidupan dunia yang majemuk. Menurut dia, pengembangan kemajemukan menuntut beberapa prasyarat. Di antaranya, pengakuan akan kemajemukan, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan kerja sama.

’’Toleransi adalah menghargai perbedaan disertai tenggang rasa terhadap perbedaan itu,’’ tegas ketua Dewan Pertimbangan MUI tersebut.

Din mengingatkan agar tidak ada satu kelompok yang mudah mengklaim paling toleran dan kelompok lain intoleran. Klaim sepihak yang bersifat subjektif seperti itu justru akan merusak iklim toleransi yang ada. Tuduhan sepihak seperti itu sering muncul karena bermotif politik. ’’Sikap itu sejatinya merupakan bentuk intoleransi,’’ katanya. (Jawa Pos/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here