Din Syamsuddin: Umat Islam Itu Besar, Jangan Saling Tuding dan Mau Diadu Domba

0
3165
Din Syamsuddin saat ceramah dalam acara puncak Milad Ke-07 Muhammadiyah di area bekas Pasar Pon Kabupaten Trenggalek. (Taufik/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Ahad lalu (12/1) keluarga besar Muhammadiyah Trenggalek merayakan puncak Milad Ke-07 Muhammadiyah di area bekas Pasar Pon Kabupaten Trenggalek. Acara tersebut dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Periode 2005-2015 Muhammad Sirajudin Syamsuddin alias Din Syamsuddin. Acara yang terselenggara sejak pagi tersebut juga menjadi agenda pelantikan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) dan Kwarda Hizbul Wathan Trenggalek.

Kehadiran Din Syamsuddin di puncak milad Muhammadiyah ini menyedot animo warga Trenggalek, khususnya warga Muhammadiyah. Dari pantauan panitia, tak kurang 5.500 jamaah berjubel memadati lokasi tablig akbar yang berada di atas puing-puing bekas kebakaran Pasar Pon tersebut. Bahkan tempat duduk lebih dari 5.000 kursi yang telah disediakan panitia tak mampu menampung seluruh jamaah yang hadir.

Dalam ceramahnya, Din banyak menyoal persatuan umat. Mantan ketua MUI tersebut mengkritisi banyaknya sikap dan aktivitas sebagian umat Islam yang terpecah hanya karena hal-hal sepele.

“Kita jangan pernah mau diadu domba, antara Muhammadiyah dengan NU atau golongan yang lainnya. Kita ini besar dan umat Islam tidak boleh sibuk karena saling tuding-menuding dengan sesama sudaranya. Kita jadikan organisasi ini sebagai alat, bukan sebagai tujuan hingga nanti kita akan bertemu bersama di ujung jalan,” ujar Din Syamsuddin.

Din menambahkan, NU dan Muhammadiyah pernah sangat mesra ketika dipimpin oleh Hasyim Muzadi dan dirinya. “Kita jadikan ormas sebagai alat perjuangan dan apa pun organisasinya gunakan untuk mempererat persatuan dan kesatuan,” ujar tokoh nasional kelahiran NTB tersebut.

Menurut Din, negara Indonesia sedang dilanda buta aksara moral. Sebab, kita merasa semangat mencerdasakan kehidupan bangsa sering terjadi penyempitan. “Pendidikan itu menanamkan nilai, membentuk watak, karakter, dan akhlak bukan hanya mengurus pengajaran, administrasi, dan gaji. Pendidikan itu enlighten the nation,” sambungnya.

Din menerangkan, jumlah umat Islam begitu besar di Indonesia sehingga hal tersebut mesti menjadi potensi dan tidak malah membuat terbagi-bagi pada kepentingan golongan semata. Sebab, lanjut dia, jika sebagai umat Islam saling bermusuhan, musuh Islam akan sangat bangga dan bangsa inilah yang akan menanggung akibatnya.

“Islam 88 persen atau sekitar 120 juta muslim, di Indonesia saja. Besarnya kita juga harus bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Umat Yahudi gak sampai 25 juta, tapi kualitasnya tinggi. Ini selaras dengan betapa kelompok minoritas mengalahkan kelompok mayoritas,” ujarnya kepada jamaah. (Taufik/Windu/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here