Dinamisasi Islam Berkemajuan

0
151
Dokumen pribadi Hasnan Bachtiar

Oleh: Hasnan Bachtiar

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

KLIKMU.CO

Gagasan Islam Berkemajuan sebagai trademark Muhammadiyah sedang berproses. Karena itu, hingga saat ini, belum ada rumusan yang final. Gagasan ini perlu diperbarui secara terus-menerus. Ketika gagasan berhenti beradaptasi dengan konteks kekinian dan kedisinian yang terus berubah, stagnasi tidak segan menghampiri. Apalagi bangsa Indonesia sedang tertatih berhadapan dengan gelombang era revolusi 4.0. Ketika dalam kondisi berusaha untuk beradaptasi, muncul lagi hal baru, yakni teknologi 5.0.

Karena itulah dapat dibayangkan betapa ketidaksiapan kita. Dalam kurun 2014-2019, kabar bohong (hoax), fitnah, ujaran kebencian, dan perundungan (bullying) juga memenuhi platform media sosial. Pada saat itu, kita menghadapi era pasca kebenaran. Era di mana yang benar dianggap keliru dan sebaliknya. Bagaimana dengan agama? Dalam konteks ini, “agama” justru diperalat untuk saling menyerang satu sama lain. Jelas hal ini jauh dari fungsi yang sebenarnya.

Padahal, menurut perspektif Islam Berkemajuan, secara filosofis, Islam adalah agama yang solutif bagi segala problematika zaman. Karenanya, disebut “shalih li kulli makan wa zaman”. Dianggap shalih (relevan), karena mengandung nilai-nilai etis yang universal, seperti cinta, kasih sayang, keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, persaudaraan, dan seterusnya. Sayangnya, gagasan ini akan tetap menjadi hampa makna, ketika kontekstualisasi yang lebih konkret tidak dilakukan.

Ketika Islam diharapkan mampu mendorong perubahan sosial, hal terjauh yang memungkinkan dijangkau hanya jargon utopian. Kendati demikian, di dalam tradisi Islam, ada medium yang berfungsi menjembatani antara nilai-nilai mulia Islam dan konteks kehidupan yang senantiasa berubah-ubah. Tradisi tersebut adalah ijtihad. Secara umum, ijtihad dianggap sebagai upaya yang sungguh-sungguh, yang mengerahkan seluruh kemampuan intelektual yang dimiliki, dalam rangka menyelesaikan masalah (baru) tertentu.

Sebagian kaum muslim meyakini bahwa ijtihad hanya berlaku dalam aspek fiqih (yurisprudensi Islam yang menentukan halal-haram, mubah-makruh, dan lainnya). Padahal, ijtihad juga menyangkut perkara metodologis (jalan menuju fiqih) yang mendasar, atau dikenal dengan istilah ushul al-fiqh, serta filsafat yang menopang itu semua. Dalam konteks ini, ijtihad juga beroperasi di wilayah paradigmatik (basis etis dan cakrawala berpikir), epistemologis (rasionalitas), dan reflektif-transendental (pengembaraan batin dan spiritualitas).

Implikasinya, ijtihad bukan sekadar adaptasi terhadap konteks kekinian melalui permainan hermeneutika teologis. Ijtihad harus merambah ke seluruh aspek yang berhubungan dengan usaha dalam menyelesaikan masalah. Hal ini tentu bukan sekadar memerlukan pemahaman teologis yang kuat serta penguasaan ilmu keislaman, namun juga memerlukan ilmu lain dari berbagai disiplin yang ada (interdisipliner). Model ijtihad yang lebih komprehensif dan interdisipliner memerlukan kolaborasi (kolektivitas).

Ketika umat Islam menghadapi dinamika politik dan ekonomi global, tentu hal itu sangat berhubungan dengan situasi di negeri tercinta. Faktor geopolitik global memengaruhi posisi pasar dunia, persaingan militer, penguasaan energi, dan krisis lingkungan. Persoalan juga terjadi ketika harga minyak mentah melambung tinggi, akibat perseteruan Tiongkok dan Amerika, harga BBM domestik juga naik karena tak tersentuh subsidi pemerintah. Imbasnya, ongkos distribusi komoditas juga semakin mahal dan bahan makanan pokok naik secara signifikan. Kita bisa menebak bahwa dengan “income” yang tetap, kemiskinan kian merebak. Berawal dari kemiskinan inilah, berbagai krisis yang bersifat multidimensi muncul.

Di tengah krisis ini, kita harus menghadapi penyakit pandemik. Yakni, merebaknya virus korona (Covid-19) yang kali pertama muncul di Wuhan, Tiongkok. Parahnya, antivirus penyakit ini belum ditemukan. Sudah dapat dipastikan bahwa perekonomian Tiongkok terjun bebas. Bahkan juga negara-negara lainnya di seluruh dunia. Singkat cerita, masalah yang harus dihadapi semakin berat, rumit, dan berlapis-lapis. Masalah kompleks ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan permainan dalil belaka.

Penyelesaian secara teologis tidak solutif berhadapan dengan kemiskinan yang bersifat struktural, sistemik, dan pandemik. Terasa sekali fiqih gagap menjawab tantangan zaman. Harus ada sesuatu yang melampaui pendekatan fiqih. Karena itu, ijtihad harus bersifat komprehensif, interdisipliner, dan kolektif. Para ekonom harus bekerja sama dengan dokter, virolog, sosiolog, antropolog, analis politik, agamawan, dan lainnya. Masalah ijtihad tidak boleh “dikapling” oleh orang yang pintar “ndalil” saja (ahli fiqih). Semua pakar pengetahuan harus bergotong royong menjawab persoalan umat.

Dengan demikian, melalui jembatan ijtihad kita dapat memastikan berjalannya proses dinamisasi Islam Berkemajuan. Akhirul kalam, tentu ini semua tidak mudah. Namun, kita tidak punya pilihan lain jika memang ingin menyelesaikan berbagai masalah kehidupan kekinian yang kompleks. (*)

Artikel ini dimuat di Majalah Matan Edisi 165 April 2020 halaman 46 (dengan editing redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here