Doa Malam Istimewa

0
160
Ilustrasi diambil dari IDN Time

KLIKMU.CO

Oleh Rudi Nurcahyo

Hari ini, hari ke tiga di bulan Ramadhan pak Kicrut begitu semangat memberikan motivasi kepada murid-murid SMK-nya di kelas. Dia biasanya dua jam pelajaran hanya mengajar materi komputer namun kali ini full digunakan untuk memberikan nasehat pada anak didiknya. Dengan mengenakan pakaian koko berwarna putih dan berkopyah bak guru agama beliau memulai materinya. Para muridnya pun serius menyimaknya.

“Anak-anak sekalian, apakah ada yang tahu kenapa bulan Ramadhan disebut bulan istimewa? Hayo angkat tangan. Masak satu kelas nggak ada yang tahu. Atau barangkali ada yang pernah merasakan keistimewaan atau bahkan keajaiban bulan Ramadhan? Kok pada diam semua. Atau memang masih belum pernah mengalami pengalaman takjub di bulan puasa ini.

“Anak-anak sekalian Ramadhan memang bulan istimewa, bulan yang sangat luar biasa, bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban.” Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga Ramadhan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial. Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya.

“Anak-anak sekalian hampir semua peristiwa monumental yang positif terjadi dalam bulan suci Ramadhan, seperti turunnya Alquran. Kemudian kemenangan umat Muslim melawan pasukan kafir dalam Perang Badar, Juga terjadi di bulan Ramadhan. Padahal, saat itu jumlah pasukan muslim tidak sebanding dengan pasukan kafir yang lebih banyak. Selain itu, di bulan ramadhan juga ada malam spesial. Malam kemuliaan yang tidak akan pernah hadir di bulan yang lain kecuali bulan Ramadhan. Yakni malam kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang kebaikannya itu lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun.

“Dulu waktu Bapak masih seumur kalian, masih punya keegoisan dan idealisme yang tinggi ketika mendengar sesuatu yang ajaib diceritakan oleh guru ngaji di desa maka Bapak tidak mudah langsung percaya begitu saja. Bapak mau buktikan kebenaran keajaiban tersebut.”

“Dulu guru ngaji Bapak pernah bercerita bahwa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan itu ada malam Lailatul Qadar, dimana di malam itu malam cerah penuh kelembutan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin. Kemudian pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan. Barang siapa yang beribadah saat malam itu maka ibadahnya tidak akan sia-sia, doanya akan terkabul. Mendengar hal ajaib ini saya langsung ingin membuktikan kebenarannya apa betul ada malam seperti ini.”

Maka pada pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan saat itu Bapak berusaha untuk bangun malam, shalat, berdoa sebanyak-banyaknya. Bahkan, terkadang sampai tidak tidur semalaman hingga 10 hari lamanya. Karena tidak ingin terlewat malam penuh makna itu. Setelah shalat dan berdoa bapak nongkrong di depan masjid menanti dan mencoba merasakan penampakan malam Lailatul Qadar. Walaupun apada akhirnya hanya hati dan perasaanlah yang bisa merasahkan kehadiran malam penuh hikmah itu tanpa bisa dibuktikan secara teoritis.

“Namun hikmah yang Bapak rasakan saat ini adalah banyak sekali nikmat yang diberikan Allah saat ini dan kalau diingat nikmat ini semua merupakan perwujudan dari doa-doa yang Bapak panjatkan waktu malam-malam Ramadhan itu. Mulai dari pnedidikan yang cukup, pekerjaan yang mulia, hati yang lapang, keluarga yang Insya-Allah Sakinah. Padahal kalau dilihat kondisi Bapak waktu itu bukanlah orang yang banyak harta, sehingga bisa ini dan itu, juga belum tau bisa kuliah apa tidak.”

Namun dengan seribu jalan menunjukan kekuasaanya asalkan kita mau berusaha dan berdoa. Maka selagi masih muda, senyampang bulan Ramadhan maka kejarlah kemuliaan malam lailatur qadar ini dengan berjuang sekuat tenaga. Lakukan ibadah dan panjatkan doa sebanyak banyaknya, maka demi Allah anak-anakku apa yang kalian lakukan tidak akan pernah sia-sia. Itu janji Allah dalam Alquran.”

Sejurus kemudian Pak Kicrut diam terpaku, matanya terlihat berkaca-kaca mengenang perjuangan di waktu remaja. Para muridpun ikut larut dalam suasana haru ingin meneladani perjuaangan menggapai malam penuh hikmah. [*]

Rudi Nurcahyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here