Dokter Akui Ada Kesamaan Pembentukan Manusia dalam Qur’an dan Medis

0
195
Dokter RSU UMM dr Thontowi Djauhari NS MKes dalam diskusi bertajuk “Membaca Lebih Dekat Asal Muasal Manusia". (Candra/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Membahas tentang penciptaan manusia memang selalu menarik. Dalam rangka mengkaji perpaduan penciptaan manusia secara agama dan medis, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kajian bulanan berjudul “Membaca Lebih Dekat Asal Muasal Manusia”, Ahad (21/2/2021).

Hadir sebagai pemateri pada acara tersebut dokter RSU UMM dr Thontowi Djauhari NS MKes. Tomi, demikian sapaan akrabnya, menjelaskan penciptaan manusia yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Mukminun ayat 12-14. Ia menguraikan isi ayat tersebut yang memiliki arti: “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berupa tanah, kemudian saripati tersebut kami jadikan nutfah yang tersimpan di tempat kukuh. Lalu nutfah menjadi alaqoh dan menjadi mudghoh. Kemudian mudghoh tersebut menjadi tulang belulang. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka mahasucilah Allah, pencipta yang paling baik.”

“Fase-fase tersebut sama seperti pembentukan manusia dalam medis. Dalam bahasa arab alaqoh berarti lintah atau segumpal darah. Pada masa awal bentuk embrio itu seperti lintah. Pada masa perkembangan embrio gumpalan-gumpalan darah tersebut menyatu dan menjadi segumpal daging. Di sinilah tahap mudghoh dimulai. Janin tersebut terus berkembang memiliki tulang dan daging. Lalu sampailah pada tahap sang ibu melahirkan,” urainya.

Tomi kembali mengutip Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 36 yang berarti: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Menurut dr Tomi, urutan itu unik dan penting karena sesuai dengan jalannya indra pada bayi. Ketika janin melewati masa mudghoh dan sampai pada fase fetal, hal pertama yang terbentuk adalah telinga di mana bayi bisa mendengar. Lalu diikuti dengan terbentuknya mata yang akan berfungsi empat minggu setelah dilahirkan. “Lalu, setelah bisa melihat bayi akan mulai memakai perasaannya untuk berpikir,” lanjut Tomi kembali menjabarkan kesesuaian antara apa yang terdapat pada Al-Qur’an dengan ilmu secara medis.

Di akhir paparan, Tomi menutup materinya dengan Al-Qur’an surah At-Tin ayat 4 yang memiliki arti: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Berkaca pada ayat tersebut, dia menyampaikan bahwa melalui kedua sudut pandang dari sisi medis dan agama masyarakat dapat lebih mudah memahami dan saling bertukar informasi.

“Saya berharap dengan perbedaan sudut pandang ini dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” tandasnya. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here