Donald Trump dan Korona

0
480
Courtesy dari BBC ketika Trump menyebut bahwa “Reopening US at the easter would be a beautiful timeline”.

Oleh: Kardono Setyorakhmadi *)

KLIKMU.CO

Bukan Donald Trump namanya jika tidak membuat gempar. Ketika semua negara memberlakukan lockdown (yang terus-menerus meningkat), Trump malah berencana kembali membuka negerinya. Untuk mem-boosting ekonomi. Tidak tanggung-tanggung, dia merencanakan untuk membuka negaranya di masa sekitaran Paskah, tanggal 12 April.

Pembukaan itu berarti, AS bakal mencabut kembali larangan penerbangan masuk ke negaranya. Juga akan membuat pintu perbatasan lebih longgar untuk kepentingan bisnis. Orang-orang juga dianjurkan kembali bekerja di pabrik-pabrik secara normal, seolah tidak ada pandemi.

“Jika menuruti para dokter, tentu saja semua kota harus shut down. Seluruh dunia harus shut down,’’ katanya. ’’Tapi, Anda tak bisa melakukannya ke sebuah negara –terutama negara dengan ekonomi nomor satu di dunia,’’ tambahnya.

Padahal, WHO sendiri memperkirakan AS bakal menjadi salah satu episentrum baru Covid-19 di Benua Amerika. Sudah ada sekitar 55 ribu orang dengan total korban jiwa mencapai 800 orang. Jumlah yang diperkirakan akan terus meningkat, sebab banyak pakar menilai keterlambatan administrasi Trump merespons ini yang membuatnya lebih parah. (Hal ini tampaknya mengingatkan pada sebuah negara di kawasan Asia Tenggara…)

Namun, Trump bergeming. Dia lebih peduli pada soal ekonomi. Pada Minggu (22/3) lalu, dia ngetwit. Dengan huruf kapital semua. “WE CANNOT LET THE CURE BE WORSE THAN THE PROBLEM ITSELF. AT THE OF THE 15 DAY PERIOD, WE WILL MAKE A DECISION AS TO WHICH WAY WE WANT TO GO’’. “Kami tak ingin upaya penyembuhan menjadikan keadaan lebih buruk ketimbang problem itu sendiri. Pada akhir periode (shut down) 15 hari, kami akan memutuskan ke arah mana AS akan melangkah.”

Yang dimaksud periode 15 hari merujuk pada anjuran Centers for Disease Control agar semua penduduk Amerika melakukan kerja dari rumah dan membatasi pertemuan lebih dari sepuluh orang. Terakhir, Trump dalam sebuah acara menyebut bahwa “Pembukaan kembali AS pada Paskah terasa cantik dan indah rasanya”.

Ekonomi AS memang babak belur. Tapi, ya memang ekonomi negara mana yang tumbuh saat ini. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin memperkirakan tingkat pengangguran AS akan mencapai 20 persen selama pandemi. Kamis besok ini, Kementerian Keuangan AS akan merilis tingkat pengangguran dan diperkirakan jumlah pengangguran di AS bakal mencapai jutaan. Laporan Goldman Sachs memperkirakan GDP AS akan menurun 24 persen pada caturwulan kedua 2020. Melebihi rekor sebelumnya yang hanya 10 persen pada 1958. Resesi sudah membayang di depan mata di Amerika.

Apa yang mendasari Trump, tentu saja adalah soal ekonomi. Menjelang Pilpres AS yang akan digelar pada November tahun ini (jika tidak mundur). Ada dua hal yang selama ini menjadi jualan utama Trump: tingginya pertumbuhan ekonomi AS dan rendahnya tingkat pengangguran. Dua hal yang mendadak hilang disapu badai coronavirus dalam waktu singkat.

Tidak heran jika meski angka-angka penderita Covid-19 makin meningkat di AS, Trump masih percaya bahwa situasi pandemi ini digunakan lawan-lawan politiknya. Sejak awal pandemi ini merebak, dia sudah menuduh orang-orang Partai Demokrat akan memolitisasinya. Dengan cara menghantam posisi politiknya dengan merusak ekonomi. Bagi Trump, ekonomi memang segala-galanya (jika Anda teringat fenomena ini pada Februari lalu di sebuah negara, sudah simpan saja itu).

Tentu saja, banyak yang menyayangkan niat Trump ini. Tidak usah jauh-jauh mengutip banyak pakar di dunia, orang bodoh di Indonesia seperti saya saja bisa menilai bahwa langkah tersebut akan mempercepat AS menjadi episentrum baru yang besarannya mungkin melebihi Tiongkok dan Italia sekaligus.

Pembatasan, shut down, atau lockdown memang akan sangat terasa bagi ekonomi. Tapi, siapa yang tidak akan terimbas jika ada pandemi. Lagi pula, jika pembatasan, shut down, lockdown, atau apa pun lah namanya diterapkan ketika jumlah penderita masih sedikit, pasti berlangsung tidak akan terlalu lama. Tapi, jika terlambat dan dibuka sama sekali, sistem kesehatan nasional bakal langsung kolaps dengan jumlah penderita baru. Dan ketika itu terjadi, ekonomi juga pasti hancur. Juga pasti akan lockdown juga.

Tidak ada pilihan yang enak, memang. (*)

*) Wartawan Jawa Pos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here