Dongeng sebelum Tidur: Bantahan Tulisan Mas Nugroho tentang IMM

0
461
Foto pribadi penulis

Oleh: Muhammad Roissudin

KLIKMU.CO

“Dongeng sebelum tidur…..”

Sepenggal kalimat ini mewakili perasaan miris dan jengkel saya setelah membaca tulisan  berjudul “Lima Keunikan Kader IMM” edisi Senin, 15 Maret 2021. Sebagai kader dan alumni kiranya wajar hati saya tergerak untuk sekadar meluruskan.

Dugaan saya dan bisa jadi ratusan, bahkan jutaan, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang tersebar di Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (PTM-PTA) juga merasa tergelitik ketika membaca tulisan bernada rasis itu. Bukan karena menarik, justru sebaliknya menyayangkan: ini tulisan “serampangan” yang minim data dan terkesan ”sak onoke dan (maaf) sak penake udele dewe”.

Saya bisa memahami dan cukup apresiatif membaca alam pikir sang penulis yang seolah ingin memberikan “kado Indah” pada perhelatan Milad Ke-57 IMM, alih alih justru tulisan ini membawa dampak yang tidak elok bagi keharmonisan sesama warga persyarikatan, setidaknya para kader IMM beserta alumninya.

Saya sempat mengira ini tulisan guyonan sehingga tidak perlu direspons. Ternyata toh silang- sengkarut dan riuhnya di WhatApp Group (WAG) makin menjadi-jadi, bahkan kader-kader luar pulau mengirim pesan dan mengonfirmasi terkait kebenaran tulisan dan penulis yang ternyata berlatar belakang “saudara tua” yang juga aktif di lembaga pengembangan cabang dan ranting (LPCR) di level wilayah.

Pada prinsipnya hak berkreasi, bersuara, berpendapat lewat berbagai media dan platform adalah hak yang dilindungi konstitusi. Sehingga tidak ada yang berhak melarang. Tetapi, jika persoalannya  etika menyangkut “dapur” organisasi orang lain, kiranya tidak bisa digebyah uyah sehingga menjadi tabu dan tidak elok didengar.

Kembali ke konten tulisan Mas Nug. Hemat saya dalam tulisan yang terangkai dalam 12 paragraf ini bisa saya temukan beberapa catatan.

Pertama, minim data. Hampir bisa saya pastikan tulisan sosok yang pernah “moncer” lewat Jihad Politik Muhammadiyah (Jipolmu) di perhelatan Pemilihan Umum 2019 hanya coretan subjektif bersifat spekulatif tanpa didukung data yang cukup.

Kecuali sedang berniat mencari “panggung” di siang bolong, mirip-mirip pernyataan kontroversial komika Pandji Pragiwaksono yang menyebut ormas Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) terlalu elitis dan masyarakat kalangan bawah lebih banyak simpati terhadap Front Pembela Islam (FPI) yang menghebohkan jagat maya. Meski konteksnya sang komika mengutip seorang pakar, Thamrin Tamanggola. Belakangan pernyataan ini serampangan dan spekulatif yang minus data, tapi dunia maya telanjur riuh.

Kedua, diksi rasis dan vulgar. Setidaknya saya temukan tiga diksi yang terdengar sumbang di telinga para penerus Kiai Djasman Alkindi sebagai pendiri ikatan. Kata atau diksi yang dipilih  terasa sumbang tersebut setidaknya adaalah Istilah:

Mekithik

Diksi ini segaris dengan istilah leda lede (Suroboyoan), ita itu (Mataraman), kemlinthi (Jawa Tengahan) yang memiliki kedekatan kata sombong. Dalam Istilah umum diksi tersebut lebih akrab disebut angkuh dan riya.

Grusa-grusu

Istilah ini padanan kata dalam Kamus Bahasa Indonesia bermakna tergesa-gesa, tanpa pertimbangan yang matang. Istilah Jawa yang berdekatan dengan kata tersebut adalah serampangan.

Berorientasi mendapatkan Immawati

Kalimat ini juga sangat menyinggung dan sama sekali jauh dari nilai-nilai etika sebagai seorang aktivis. Sekilas bisa dimaknai ber-IMM adalah berburu jodoh, atau setidaknya semangat yang ditampilkan dalam pergerakan hanya berorientasi jodoh. Tentu ini sangat naif. Meski realitasnya memang ada sejumlah aktivis yang berjodoh, tapi kiranya semua menjadi garis Sang Khalik.

Tiga diksi aneh di atas tentu kontradiktif dengan moto IMM yang dengan berbagai dialektikanya menjunjung tinggi narasi “anggun dalam moral, unggul dalam intelektual”. Yang digagas oleh founding father.

Ketiga, offside. Dalam istilah sepak bola offside berarti keluar dari garis lapangan. Kiranya penulis dalam hal ini bukan dalam kapasitasnya melakukan kritik yang asal-asalan tanpa melakukan riset yang didukung data yang valid. Apalagi memiliki latar berlatar organisasi yang lain. So don’t judge the book from the cover (Jangan menilai luarnya jika belum menyelami dan mengalami langsung di dalamnya).

IMM sebagai sebuah organisasi yang turut serta berkontribusi aktif dalam pergulatan dan dinamika kebangsaan dan keumatan. Tidak mungkin diidentikkan dengan istilah-Iatilah rasis, generalisasi  ‘ngawuriyah’ yang spekulatif, serta klaim buta.

Banyak tokoh dan negarawan yang lahir dari rahim ikatan ini. Di dalamya ada gagasan besar yang harus diaktualisasikan secara nyata menuju gerbang peradaban mencerahkan menuju masyarakat baldatun tayibatun warabbun ghafur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Agar euforia kita tidak overload, ada baiknya kita sama-sama mereview catatan Baginda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari)

Pada pengujung tulisan ini, izinkan saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Mas Nugroho Wijaya Kusumo yang lebih dulu aktif di persyarikatan dan mengapresiasi atas kritikan dan masukannya. Sebagai kader, saya yang mengenal Muhammadiyah bermula aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dulu bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) tahun 1999, lalu mengenal IMM dan mendapatkan amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang  IMM Nganjuk dan “bantu” di Dewan Pimpinan Daerah IMM Jawa Timur Bidang Organisasi.

Sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya aktif di Muhammadiyah hingga sekarang, tidak menemukan istilah-istilah sumbang yang terdengar aneh di telinga, baik pada tataran perilaku maupun kata. Pun jika ada person-person yang diidentikan dengan istilah-istilah aneh seperti yang Mas Nugroho sebut itu, rasanya sebatas guyon, bukan representasi karakter organisasi.

Tapi, sebagai sesama kader persyarikatan, tetaplah kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran dengan cara bijak dan teladan yang baik. Karena teladan saling mengingatkan sudah merupakan “wahyu langit”yang tersurat  dalam QS Al Asr: 3, “Bertolong-menolonglah kalian dalam hal haq dan kebenaran. Janganlah kalian bekerja sama dalam kerusakan dan dosa.”

Sebagai penutup, saya kutip juga istilah Barat yang cukup familier di telinga para aktivis pergerakan:  If your words is useles, silent in right time is gold (Jika kata tidak lagi berguna, diam di waktu yang tepat adalah emas).

Tiada gading yang tak retak. Billahi fiisabilil haq fastabiqul khairat.

Selamat milad ke-57 Ikatanku, tetaplah mencerahkan semesta. “Membumikan Gagasan dan Membangun Peradaban.”

*Penulis adalah santri Muhammadiyah yang ‘Nyantrik’ di Masjid Al-Badar Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here