Dosen IAI Muhammadiyah Bima Pertahankan Disertasi Doktor di Bidang PAUD

0
62
Dosen IAI Muhammadiyah Bima Ihlas (kiri atas) saat mempertahankan ujian disertasi doktor. (Dok pribadi)

KLIKMU.CO – Di tengah pandemi Covid-19, dosen IAI Muhammadiyah Bima Ihlas Hasan berhasil mempertahankan judul disertasinya “Transformasi Budaya Pacuan Kuda untuk Pengembangan Karakter Anak Usia Dini” yang dilaksanakan dengan online.

Sebelum sampai pada ujian promosi ini, ia telah melewati tahapan ujian kualifikasi, proposal, kelayakan, tertutup, dan publis jurnal internasional.

Promovendus Ihlas melaksanakan ujian promosi doktor Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Senin (18/5/2020) dan berhasil mempertahankan hasil risetnya di hadapan promotor dan dewan penguji yang terdiri atas Dr. Komarudin, M.Si, Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd, Penguji Prof. Dr. Tri Ratna Murti, M.Psi, Prof. Dr. Mastini Jamaris, M.Sc.,Ed, Promotor, Prof. Dr. Yufiarti, M.PSi, Co-Promotor Dr. Edwita,M.Pd.

Dr Ihlas meneliti bidang ilmu PAUD terkait dengan masalah pembentukan karakter anak usia dini. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena anak usia dini yang mengalami kecanduan gadget seperti game online, smartphone, laptop, dan produk teknologi sejenisnya. Padahal, beberapa hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak yang terpapar flash screen terlalu lama lebih dari 15 menit berdampak buruk bagi kesehatan mereka.

Misalnya, gangguan penglihatan, gangguan saraf otak, dan menyebabkan penyakit fisik lain disebabkan anak tidak banyak bergerak. “Untuk itu, perlu digali kembali permainan tradisional sebagai sarana stimulasi perkembangan anak. Salah satunya adalah budaya pacuan kuda,” katanya.

Ihlas berhasil menemukan korelasi positif dan signifikan antara  pengembangan fisik motorik halus dan kasar anak melalui kearifan lokal budaya pacuan kuda.

Dalam temuannya Ihlas menjelaskan, kearifan lokal budaya pacuan kuda mendukung perkembangan fisik motorik anak usia dini, pada apek motorik kasar seperti kemampuan menendang, lompat, duduk, berdiri, berjalan berlari, dan naik-turun kuda.

Sementara aspek motorik halus seperti kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan.

“Selain itu, melalui pacuan kuda untuk terbentuknya sensory integrasi seperti; persendian, sensori penglihatan (visual), pendengaran (audiotory), keseimbangan (balance), perasa(gustatory) perabaan (tactile), dan persendian (proprioceptive),” ujarnya.

Sementara itu, temuan penting penelitiannya bahwa melalui budaya pacuan kuda dapat membantu terbentuknya karakter anak usia duni, seperti; karakter religius, karakter bersahabat, cinta lingkungan, sportif, mandiri dan kerja keras dan disiplin. Karena budaya pacuan kuda mulai dari awal belajar sampai menjadi joki cilik memerlukan kerja keras dan disiplin.

Ia menyampaikan ucapan terima kasih pada UNJ, Rektor, Promotor, Ko-Promotr, penguji, pimpian IAI Muhammadiyah Bima, PDM Kota dan Kab. Bima, rekan-rekan dosen, teman-teman, dan dukungan keluarga selama studi. (Taufiqurrahman/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here