Dr Saad Ibrahim: Beda Imam, Khalifah, dan Wali…

0
396
Ketua PWM Jatim Dr Saad Ibrahim MA dalam acara pelantikan rektor UM Surabaya. (Foto istimewa)

KLIKMU.CO – Dr Saad Ibrahim MA turut diundang dan memberikan sambutan dalam pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) periode 2020-2024 Dr dr Sukadiono MM, Selasa (8/12/2020).

Ketua PWM Jatim itu menerangkan perihal pemimpin. Di dalam Al-Quran, katanya, ada beberapa istilah untuk dipakai dan disepadankan pemimpin. Termasuk rektor. “Ada juga imam, khalifah, wali, dan sebagainya,” katanya.

Menurut Saad, jika digunakan kata imam, itu menuju sesuatu. Artinya, ada yang dituju. Sekaligus berarti menjadikan yang lain sebagai teladan atau contoh.

“Dari konteks ini, Dr Sukadiono banyak menyampaikan proyeksi ke depan,” ujarnya. Untuk teladan, kita mesti melihat lembaga-lembaga yang lebih maju dari kita untuk dijadikan contoh.

“Jadi, bermaksud mengharapkan pada 2020 ini peringkatnya dari 10 menjadi 5,” ucapnya.

Sebab, untuk mencapai peringkat itu harus bisa melihat ke depan. Lalu di dalam jiwa dan mindsetnya ada keinginan untuk suatu hari menyalip dan menyalipnya.

Yang kedua adalah khalifah. Artinya adalah datang berikutnya. “Khalifah itu dihubungkan dengan Allah.  Maka, maknanya karena yang berikutnya datang sesudah yang pertama, yang datang di belakang harus tahu di depannya ada sebuah wujud. Dan wujud itu Allah swt.

Nah, apa maknanya dalam konteks kepemimpinan?

Menurut dosen UIN Malang itu, kita harus tetap melihat di depan itu ada Allah swt. “Dimensi utama dalam konteks kepemimpinan adalah dimensi teologis. Yakni, sebuah kesadaran penuh yang kita bangun ke dalam jiwa kita. Sesungguhnya ketika kita diberi amanah untuk mendapatkan kedudukan atau jabatan, pada hakikatnya adalah milik Allah,” paparnya.

Ketiga, sekalipun orientasi ke depan, kita harus menyadari bahwa kita bukan yang pertama. Ada asabiqunal awwalun. “UM Surabaya ini ada orang-orang terdahulu yang mendirikan. Semua amal usaha Muhammadiyah itu bermula dari inisiasi-inisasi orang Muhammadiyah dan Aisyiyah. Dalam konteks mewujudkannya, tidak jarang orang harus merogoh kantongnya misalnya,” katanya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here