Dua Arus Utama yang Bersaing di Muhammadiyah

0
303
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Siapa membantah amal Muhammadiyah untuk negeri, tapi tahu apa mereka tentang Muhammadiyah? Siapa membentuk opini tentang Muhammadiyah?

FPI dan HTI dibubarkan karena opini yang dibentuk. Alasan khilafah, separatisme, terorisme, dan Islam keras dilekatkan di awal dibubarkan kemudian, begitulah faktanya. Semakin antum membela keduanya, semakin kuat pula opini tentangnya. Begitulah mainstream opini berjalan sesuai sunatullah.

Dubes Libanon Hajriyanto Y. Thohari, salah satu Ketua PP Muhammadiyah, memberi pernyataan menarik: ”Jadi, kader masa kini Muhammadiyah yang masuk ke arus utama negara sedang meneruskan warisan para tokoh besar Muhammadiyah. Muhammadiyah jangan jauh-jauh dari gelanggang penyelenggaraan negara. Dari awal berdirinya sampai awal kemerdekaan Indonesia, peran Muhammadiyah sangat besar dan penting.”

Saya merasakan betul kenapa pernyataan ini mengemuka dan jangan bilang tiba-tiba atau kebetulan. Faktanya, ada dua arus kuat yang sedang berebut dominan di persyarikatan. Pertama, ingin menempatkan Muhammadiyah head-to-head berhadapan dengan penguasa dengan dalih nahi munkar. Kedua, yang ingin tetap menempatkan sebagai mitra konstruktif sebagai kawan membangun negeri. Dua arus utama ini terus menguat dengan berbagai varian yang mengikuti.

Banyak kader yang duduk dalam penyelenggaraan pemerintahan salah tingkah karena menjadi sasaran kritik. Jangan harap ada perlindungan, apalagi pembelaan bila berbuat salah, pasti habis. Jadi, siapa pun yang berdekatan dengan rezim adalah salah tanpa kompromi –Efek kalah psikologis dalam pilpres masih dominan.

Sebab itu, harus ada yang berani ’’bicara keras”  di tengah sengkarut opini dan sikap oposisi sebagian warga Muhammadiyah terhadap rezim. Saya salah satunya. Saya bersama Komunitas Padhang Maksyar akan tetap istiqamah menyuarakan Muhammadiyah sebagai gerakan wasatiyah. Menghidupkan kembali ideologi Dahlaniyah yang dibenam karena alasan sistem.

Realitasnya, ada ikhtiar membenturkan Muhammadiyah dengan rezim, kemudian mengambil keuntungan darinya. Entah siapa yang melakukan, tapi ”kelompok” ini sukses ”mengapitalisasi” opini bahwa Muhammadiyah antirezim, demikian masif dan terstruktur, dikapitalisasi menjadi kekuatan dan tempatnya bersandar, ironisnya dianuti dan dibenarkan sebagian warga Persyarikatan dengan sadar atau tidak sadar. Saya tidak tahu apakah fenomena ini bisa dibaca dengan terang atau luput dari perhatian dan diabaikan.

Jadi, jangan salahkan jika di luaran berkembang opini bahwa Muhammadiyah menjadi rumah singgah gerakan ekstrem radikal yang berlindung di rumah besar Muhammadiyah karena mendapat kenyamanan dan keramahan.

Tidak dimungkiri ada perubahan dan pergeseran pemikiran di persyarikatan yang terus berkembang dinamis, dan saya tak punya kemampuan meramal masa depan Muhammadiyah lima atau seratus tahun yang akan datang. Kembali ke khitah adalah pilihan paling rasional untuk merawat dan menjaga ”pikiran madjoe” Kiai Dahlan sebagai ciri gerakan.

Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here