Dua Mimpi Itu Akhirnya Terbayar Lunas: Sebuah Memoar Pengabdian Lintas Negara

0
269
Foto Miftahul Jannah ( kiri berhijab pake kacamata) bersama peserta Workshope Comunity Devlopment bersama para peserta lain diambil dari dokumen panitia

KLIKMU.CO

Oleh: Miftahul Jannah*

Berawal dari hobi berkecimpung di dunia sosial dan segudang aktivitasnya, saya semakin mencintai dunia pengabdian. Sebagaimana salah satu hadits Rasulullah yang menjadi salah satu prinsip saya: “khairunnas anfaulim nnas”. Ya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Teringat 2017 lalu, tepat 1 bulan sebelum wisuda, saya meminta izin kepada ayah untuk mengajar di tempat terpencil dan terpelosok di Indonesia. Waktu itu saya menyebut Papua kepada Ayah. Rencananya kegiatan yang akan saya ikuti adalah SM3T atau IM, dua lembaga yang paling booming dan punya reputasi yang kuat dalam menaungi serta memperhatikan pendidikan di pelosok negeri. Namun, dengan tegas ayah menolak, karena durasi waktu yang rentan terlalu lama dan juga beliau ingin saya melanjutkan kuliah S-2.

Namun, keinginan dan mimpi saya itu tetap menyala. Tahun 2018, saya mencoba mendaftar kegiatan “community development”, yang juga bertema kegiatan pengabdian dan bertempat di daerah 3T Indonesia. Alhamdulilah, saat itu saya membayar tuntas keinginan saya untuk mengabdi di tempat 3T, meski durasi waktu yang sebentar.

Dari kegiatan tersebut, lahirlah mimpi-mimpi baru yang semakin mengasah diri peka terhadap kondisi sosial. Mimpi selanjutnya adalah melakukan perjalanan sosial atau pengabdian di pulau-pulau terpencil Indonesia (3T).

Well, alhamdulillah pada tahun 2019 ini Allah kabulkan lagi mimpi itu, namun kali ini jauh lebih istimewa. Allah mewujudkan dua mimpi saya sekaligus. Mimpi untuk ke luar negeri dan juga mimpi ke daerah 3T lainnya. Saya berkesempatan ikut event dari “Saudara1Negara” dengan tujuan Singapura-Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Jelas semua tidak didapat begitu saja. Sebab, saya tidak lolos melalui jalur fully funded, namun diberikan kesempatan lewat jalur beasiswa, di mana merupakan parsial funded. Jadilah, saya ngoyo mencari bantuan dana dengan menyebarkan proposal ke beberapa tempat dan alhamdulillah Allah mengizinkan saya berangkat dengan dana secukupnya –kalau tak bisa dibilang seadanya.

Kegiatan berlangsung selama 1 minggu, dari tanggal 25-30 Juni 2019. Tanggal 25 Juni sekitar pukul 11.30 saya dan kawan-kawan tiba di Changi Airport Singapore (betapa senang dan katroknya saya, itu baru di bandaranya saja). Berada di Singapura hanya 1 hari dengan kegiatan workshop tentang “Community Development” sebelum diterjunkan ke tempat pengabdian; Tanjung Pinang.

Selain itu, kami diberi fasilitas untuk menikmati ikon-ikon yang ada di Singapura, seperti Marina Barrage, URA (Urban Redevelopment Authority) Singapore, Marlion Park, Air Mancur Menari (Laser Show Marina by Sands), NUS (National University Of Singapore), dan juga mampir ke pusat oleh-oleh di Singapura yang terkenal murah, yaitu di Bugis Street.

Sebagai seorang yang baru pertama kali keluar dari Indonesia, cukup luar biasa bagi saya. Berdasarkan informasi dari pemandu, besar Negara Singapura hampir sama dengan besar Pulau Bintan, so amazing (pada bagian ini saya harus bersyukur dan bangga terhadap negara saya). Negara Singapura begitu bersih dan tertata rapi, gedung-gedung menjulang tinggi, namun sepanjang perjalanan tetap asri dengan kawanan tanaman dan pepohonan hijau. Sangat sulit menemukan sampah di sana, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada sama sekali.

Kita tidak akan menemukan kemacetan. Semua begitu damai dan tenang. Orang-orang Singapura juga ramah dan paling penting adalah mereka sangat disiplin dan tepat waktu. Saya belum memiliki pembanding dengan negara lain, karena belum merasakannya. Dan yang penting pula, semoga Indonesia bisa lebih baik lagi ke depannya.

Selepas dari Singapura, mami menuju Batam, menuju Tanjung Pinang melalui International Ferry Terminal Batam Singapore. Lagi, saya mendapatkan pengalaman luar biasa. Baru pertama kali saya naik kapal feri ini, yang dari bacaannya untuk kelas-kelas menengah (eksklusif). Perjalanan menyeberang hampir sekitar 3 jam.

Setelah sampai di Pelabuhan Tanjung Pinang, kami masih harus menempuh jalur darat dengan bus, durasi perjalanan sekitar 1 jam. Setelah sampai di dermaga Kepulauan Bintan, kami masih harus menaiki kapal kecil (pom-pong) yang hanya muat sekitar 10 orang dengan durasi perjalanan 30 menitan. Barulah sampai di dermaga lokasi penempatan dan berjalan menuju rumah tempat kami tinggal sekitar 3 kilometer.

Kami tiba di lokasi pengabdian sore hari, yaitu di Desa Mantang Lama, Kecamatan Matang. Dengan sigap langsung melaksanakan social mapping guna menyesuaikan kebutuhan sesuai dengan divisi dan berdasarkan hasil informasi yang dicari sebelumnya via Internet. Setelah social mapping selesai, besoknya kami langsung eksekusi, mengingat waktu maksimal yang kami miliki hanya 2 hari di sana.

Program ini dibagi menjadi 4 divisi, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pariwisata, serta lingkungan. Semua bergerak sesuai program kerja masing-masing yang sudah persiapkan. Setiap divisi ditempatkan berdasarkan background dan passion masing-masing.

Divisi pendidikan melakukan kegiatan tentang menguatkan nasionalisme (cinta Indonesia), kebahasaan, dan juga tentang mimpi serta cita-cita dengan sasaran anak SD. SD yang berada di penempatan adalah SD 01 Mantang. Selain itu, divisi pendidikan memaparkan bagaimana pentingnya pendidikan dan motivasi untuk kuliah dengan sasaran anak SMA. Malam harinya divisi pendidikan melakukan kegiatan mengajar TPQ untuk anak-anak desa Matang yang bertempat di masjid.

Divisi kesehatan melakukan sosialisasi kesehatan tentang PHBS dan cuci tangan yang juga sasarannya anak SD, yaitu SD 1 Mantang. Dalam sosialisasi tersebut, dilakukan dengan cara aplikatif, yaitu praktik langsung dengan menggunakan lagu yang telah dimodifikasi. Sehingga ketika dilakukan sosialisasi cara cuci tangan yang baik ala WHO menjadi lebih mudah dipahami dan dihafal oleh anak-anak. Program berikutnya dari divisi ini adalah pemeriksaan kesehatan gratis dengan sasaran orang dewasa.

Divisi ekonomi melakukan seminar kewirausahaan dan pentingnya proses pemasaran produk. Titik fokus yang ditekankan adalah bagaimana cara membuat label produk (khususnya produk lokal di sana, yaitu kerupuk ikan) sehingga bisa menjadi makanan khas dan memiliki nilai jual ketika ditawarkan di luar daerahnya. Divisi ekonomi ini juga mengadakan bazar dari barang-barang donasi, dijual dengan harga sangat murah. Harga paling mahal adalah Rp 5.000. Uang hasil bazar kemudian diberikan kepada desa.

Malam tanggal 29, kami mengadakan perpisahan dengan warga desa. Penyerahan plakat dan kenang-kenagan serta penobatan duta SSN (Saudara1nlNegara), yang harapannya nanti mereka memiliki semangat untuk mengubah desanya menjadi lebih baik. Kedatangan kami diterima baik-baik oleh masyarakat. Mereka sangat welcome. Beberapa di antara mereka menyayangkan keberadaan kami yang cukup singkat di desanya. Kepulangan kami pun diantar baik-baik. Dua hari namun mampu memberikan kesan lebih. Tanggal 30 pagi kami menuju Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, untuk kepulangan menuju Jakarta.

Dari perjalanan yang cukup singkat itu, tentu banyak yang dapat saya ambil. Perjalanan jauh yang selalu saya sukai, karena dengannya saya akan menemui banyak pengalaman, pelajaran, dan tidak kalah penting adalah relasi. Bertemu orang-orang baru, dengan karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Selain itu, mengasah kepekaan sosial terhadap kondisi di sekitar. Semakin jauh kita melangkah, semakin luas wawasan dan cita-cita. Semoga di tahun depan bisa bertemu dengan mimpi yang sama di tempat yang berbeda. (Achmadsan)

*Mantan Kabid Immawati Cabang Malang Raya dan mahasiswa pascasarjana Unair

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here