Duduki Peringkat Pertama Kasus TB di Jatim, tapi Surabaya Belum Punya Perda

0
223

KLIKMU.CO – Mulai Kamis pagi hingga siang (26/9/2019), Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya yang diberi kepercayaan dalam penanggulangan TB oleh Komunitas TB-HIV Care Aisyiyah Surabaya mendapat kunjungan tamu dari Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah. Dalam hal ini, dr Oktarina melakukan riset dan diskusi dalam bentuk FGD terkait pengalaman yang selama ini dilakukan.

“Termasuk permasalahan, saran, serta solusinya,” ujar Hj Alifah, ketua PDA Surabaya, dalam pengantar FGD.

Pelaksana program TB-HIV Care Aisyiyah Surabaya Hj Maslamah menambahkan, FGD ini diikuti PDM dan PDA Surabaya, Komunitas Masyarakat Peduli (KMP) TB Semanggi Surabaya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Biro Hukum Pemkot Surabaya, RS Paru, Puskesmas Perak Timur, Bappeko Surabaya, dan mantan pasien TB.

Dr Oktarina selaku anggota tim riset ACSM TB (Advokasi, Comunikasi, Sosial, Mobilisasi) menyampaikan, riset itu dilakukan di 14 provinsi yang disurvi, sedangkan 7 provinsi FGD dan wawancara secara mendalam. “Tujuannya mengkaji dinamika, menginventarisasi pengalaman, serta merumuskan strategi dan perencanaan kegiatan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PDM Surabaya Arif An menyampaikan bahwa penanganan TB di Surabaya sudah cukup bagus. Hal itu dibuktikan dengan adanya sinergi yang baik antara Muhammadiyah, Aisyiyah, dan amal usahanya untuk melakukan advokasi kepada eksekutif dan legislatif di Surabaya.

“Usaha ini sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Jika usaha ini diberhentikan, semakin menambah permasalahan khususnya TB di Surabaya,” katanya.

Andi Hariyadi selaku ketua KMP TB Semanggi Surabaya memaparkan pentingnya payung hukum berupa peraturan daerah tentang TB di Surabaya. Sebab, lanjutnya, sudah banyak kegiatan penanggulangan TB di Surabaya yang dilakukan dengan dinas terkait bersama tokoh agama dan tokoh masyakat.

“Sehingga bagaimana kemauan politik antara walikl kota dan DPRD Surabaya untuk merumuskan kebijakannnya,” katanya.

Lebih lanjut Andi Hariyadi menyampaikan, Kota Surabaya menduduki ranking ke-1 persoalan TB di Jawa Timur, tapi belum punya Perda TB. “Yang ada Perda Layanan Kesehatan Masyarakat,” ucapnya.

Priyo dari Puskesmas Perak Timur merasa terbantu dengan hadirnya para kader TB dalam penanggulangan TB. Sebab, menurut data, pada 2017 pasien TB yang DO mencapai 25%, pada 2018 pasien TB yang DO menurun menjadi 8,5%.

“Penurunan ini sebagai bukti TB-HIV Care Aisyiyah Surabaya telah berkontribusi dalam penanggulangan TB,” katanya. (Andi Hariyadi/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here