Ego atau Kekacauan Berpikir?

0
234
Ilustrasi diambil dari lesonunique.com

KLIKMU.CO

Oleh Rohmatunnazilah*)

Seringkali kita menemukan bahwa sebuah persoalan yang sederhana solusinya menjadi seperti stuck alias macet, sehingga sebuah persoalan mustahil diselesaikan.

Sebenarnya, apa yang membuat sesuatu itu terasa mustahil diselesaikan? Apakah sebenarnya kebuntuan itu akibat dari kekacauan berfikir atau karena ego untuk mempertahankan pendapat atau karepe dewe.

Susah menerima pendapat atau merasa bahwa pendapat kita adalah the only one yang sifatnya absolut dan sebuah kecelakaan besar jika pendapat orang lain yang diterima sebenarnya adalah bentuk dari ego. Yang lebih berbahaya apabila seseorang merasa bahwa kepentinganku harus diselamatkan tanpa melihat adanya kemungkinan kepentingan lain yang lebih besar.

Kita bisa melihat karakter dan kompetensi seseorang dari jendela Johari Window. Dari konsep diri Johari Window ini kita bisa melihat dua model karakter.

Karakter A  adalah individu yang kurang memahami diri sendiri, tingkah lakunya terbatas, perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara pandang dan variasi hidupnya.

Karakter B adalah individu yang terbuka terhadap dunia sekelilingnya, potensi diri disadari, perasaan, dan pikirannnya terbuka untuk pengalaman-pengalaman hidup yang menyedihkan dan menyenangkan, pekerjaan, dan sebagainya. Ia lebih spontan dan bersikap jujur dan apa adanya pada orang lain.

Mari kita masuk dalam sebuah kasus. Misalnya, sebuah sekolah menginginkan memiliki siswa berprestasi bidang sains. Sekarang mari berpikir logis. Mungkinkah seseorang bisa menguasai puncak penguasaan tanpa fokus pada satu hal. Bahkan, seorang profesor harus memilih spesialisasi kompetensinya.

Lalu, mungkinkah seorang murid yang akan mendalami sebuah cabang ilmu, katakanlah Matematika, tanpa dia bisa konsentrasi pada teori, konsep dan praktik. Untuk mencapai sebuah kecakapan tertentu, dia perlu banyak penguasaan konsep dan banyak latihan. Belum lagi kalau dia harus meningkat ke level penguasaan yang lebih tinggi hingga level nasional atau internasional.

Nah, mari melihat perjalanan bocah atau anak didik kita. Seorang anak, bahkan banyak yang belum menyadari potensinya dan kekuatannya. Banyak juga dari mereka yang belum punya alasan kenapa dia harus ikut ini atau itu. Tidak ada perkembangan potensi, tanpa motivasi. Tidak ada kekuatan yang lahir tiba-tiba dan spontan. Semua perlu kesiapan diri atau self-readiness.

Mari, kita lihat lagi proses selanjutnya. Dia sudah punya motivasi dan sudah berlatih. Dia perlu waktu untuk banyak berlatih, sehingga dia akan meninggalkan banyak pelajaran dan tidak ikut masuk kelas kita. Seharusnya apa yang kita berikan sebagai pendidik yang sadar?

Dukungan, penguatan dan doa.

Lalu, apa yang didapatkan anak-anak calon juara ini. Ada yang memberi senyuman, tetapi ada yang memberi cibiran dan tatapan sinis karena dia keluar kelas kita. Dia tidak mengikuti pelajaran kita. Mari kita masuk dalam perasaannya. Apa yang harus dia pilih. Di satu sisi, sekolah memberi motivasi dan tekanan bahwa dia harus meningkat. Jangan bilang ini bukan tekanan. Meski guru tidak menekan, motivasi kita bisa menjadi tekanan baginya. Motivasi, bisa menjadi tekanan bagi sebagian anak, meski bagi bisa juga menjadi tantangan bagi anak lainnya.

Para guru, berhati-hatilah anda dengan kata-kata anda. Apalagi kalau guru sudah bilang, “saya gurunya, saya tahu kompetensi anak didik saya.” Nanti dulu. Sudahkah anda menatap mata anak-anak ini? Sudahkah anda bertanya “apakah kamu sudah beristirahat” atau “apakah kamu suka dengan apa yang kita lakukan?”

Bahwa kesalahan menggali apa yang ada dalam jiwa anak, akan menjadi penyebab kerusakan jiwa anak ke depan. So, be careful!

Buat anak yang akan membawa nama baik sekolah, berarti juga akan membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi sekolah dan semua warganya. Sekolah yang berprestasi akan mendatangkan rizki. Akan mendatangkan antusiasme dan animo bagi masyarakat untuk menyekolahkan ke sekolah anda. Maka, anak berprestasi, dia perlu dukungan kita dan doa kita.

Jika kita khawatir dia tidak mengikuti pelajaran kita, bukankah kita bisa membuat analog bahwa seseorang yang mampu membuat sesuatu yang kita sendiri pun belum tentu mencapainya. Apakah bukan sebuah hal yang logis kalau dengan bantuan dan bimbingan kita dia akan mampu selesaikan tugas dari kita dan bahkan akan menyelesaikannya dengan lebih baik? Hanya kita perlu membuka diri dengan pandangan bahwa dia akan memperoleh waktu spesial, karena memang dia anak spesial.

Yang dibutuhkan adalah membuka diri, jika dalam konsep diri Johari Window ada pada karakter B. Bahwa guru, sebagaimana juga manusia, perlu selalu mengembangkan dan memperluas dan memperhalus karakternya. Bahwa jangan-jangan selama ini kita sendiri tidak memahami bahwa yang kita lakukan pada anak-anak didik kita adalah refleksi ego dan kerancuan berfikir.

Anak kita sedang menumbuh. Maka kita membantunya menumbuh. Salam Jiwa Sehat. Happy weekend. [*] (29 April 2018, on the way to Semarang)

Rohmatunnazilah adalah Pendidik SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here